Cinta Yang Mendalam

1286 Words

Arjuna menatap Kirana lama—lebih lama daripada yang pantas untuk percakapan singkat di sudut hall sebuah acara resmi. Dan untuk pertama kalinya malam itu, senyumnya benar-benar hilang. Yang tersisa hanyalah… ketelanjangan batin yang tidak pernah ia izinkan siapa pun lihat. “Kirana…” suaranya rendah, nyaris seperti gumaman. “Kamu memang bukan Kirana yang dulu, ya.” Kirana tidak bereaksi. Hanya menatapnya dengan sabar namun tetap menjaga jarak emosional. Arjuna mengalihkan pandangannya ke gelas sampanye yang sudah kehilangan buihnya di meja kecil. Ujung bibirnya terangkat sedikit—bukan senyum, tapi semacam ejekan pada dirinya sendiri. “Kita dulu remaja bodoh,” ujarnya pelan. “Dikit-dikit tersinggung. Dikit-dikit terbawa emosi. Keputusan diambil bukan pake otak… tapi pake perasaan. Kebany

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD