Di Balik Segala Drama

1134 Words

Aldi duduk di ruang kerja dengan tatapan yang sangat dingin, dari sorot matanya jelas dia sedang memikirkan sesuatu. Justru… ia tersenyum kecil. Senyum seseorang yang baru menyadari hal penting: “Anak ini sudah tidak bisa dikendalikan.” Tapi Aldi bukan tipe orang yang berhenti hanya karena itu. Ia menatap foto masa mudanya bersama mendiang kakak Bramasta, lalu bergumam: “Kalau pendekatan halus tidak bisa… maka yang berikutnya harus rapi. Tidak bisa terlihat seperti aku yang mulai.” Ia memanggil seseorang lewat telepon. “Ya. Aku mau bertemu kamu. Tidak boleh lewat Nurma. Dan jangan biarkan siapa pun tahu.” Suara di seberang menjawab pelan. Aldi tersenyum licik. “Bagus. Sudah lama aku ingin bekerja denganmu.” Ia menutup telepon. ‘Bram… kamu memaksa Ayahmu main di level lain.’ Sete

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD