Satu Selamanya!

1544 Words

Setelah keluar dari rumah utama keluarga Sanjaya, Bramasta tidak benar-benar tahu ke mana harus pergi. Udara siang ini terasa berat di dadanya, seolah menyerap semua kata-kata Aldi yang masih membekas tajam. "Sheila bukan cucuku." "Cari wanita lain." "Wajar punya beberapa wanita." Kalimat-kalimat itu bergema seperti pukulan yang datang beruntun. Bram menggenggam setir lebih keras, mencoba meredam sesuatu yang berputar di kepalanya—campuran marah, muak, dan takut. Ia tidak ingin pulang ke apartemen. Kantor pun bukan pilihan; ia tidak sanggup memasang wajah dingin yang selalu ia kenakan di sana. Entah bagaimana, mobilnya berbelok ke arah timur kota. Tak ada rencana. Tubuhnya bergerak lebih cepat dari pikirannya—mengikuti sesuatu yang mendesak dari dalam. Tujuan akhirnya baru terasa j

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD