Aldi Sanjaya memandangi pintu yang baru saja tertutup di belakang Ambar. Tak ada perubahan di wajahnya — tetap dingin, keras, seperti seseorang yang sudah terlalu lama hidup dengan keputusan-keputusan yang membentuknya menjadi batu. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap putranya. Bramasta duduk tegak, kedua tangan mengepal di lutut. Sorot matanya jelas: ia menahan diri. Menahan amarah. Menahan kecewa. Lampu gantung di atas kepala mereka menyorot wajahnya, menajamkan garis rahang yang sejak tadi bergetar. Aldi menyilangkan tangan. “Setelah ini,” katanya datar, “kamu harus memikirkan pewaris. Seharusnya dari dulu kamu sudah mengerti, Bram. Anak perempuan tidak bisa jadi penerus.” Kalimat itu jatuh seperti batu besar. “Dan sekarang,” Aldi menambahkan, “kamu bahkan tidak punya anak sama

