Hanya Kirana

1089 Words

Restoran bintang lima itu dipenuhi cahaya keemasan yang memantul di dinding marmer. Para tamu berbicara dengan suara pelan, seakan mereka semua sepakat bahwa elegansi harus dijaga dalam volume rendah. Bramasta melangkah masuk dengan ekspresi datar, jas hitamnya terpasang rapi, namun matanya jelas tidak menyimpan sedikit pun antusiasme. Ia tahu undangan ini janggal sejak awal. Terutama karena satu hal—nama Kirana tidak tercantum di dalamnya. Bramasta juga tahu kalau Nurma pasti sudah menemui Kirana sebelumnya, jika tidak mana mungkin Kirana mengatakan sesuatu tentang gadis lebih muda dan lulusan Harvard. Dan Bramasta bukan lelaki bodoh. Tidak pernah. Rasanya malu sekali memiliki keluarga seperti keluarganya sendiri, dibanding dengan keluarga Kirana yang hangat dan bijaksana. Pelayan m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD