Janji Cinta

1528 Words

Perjalanan pulang dengan taksi terasa berbeda sore itu. Kota Jakarta bergulir di balik kaca jendela—gedung tinggi, lampu-lampu oranye, dan langit yang perlahan memudar menuju malam. Kirana menyandarkan kepala sesaat, merasakan denyut kecil di dadanya yang tidak ia miliki sejak lama: antisipasi. Mobil pribadinya sudah ia berikan pada Kania. Ia belum membeli yang baru. Sejujurnya, ia tidak terburu-buru. Ia lebih suka begini—lebih sederhana, lebih ringan. Lagi pula, Bramasta sering menjemputnya. Dan ketika mereka tidak dapat berangkat bersama, taksi bukan masalah. Hari ini, pikirnya…ada hal yang lebih penting daripada mobil. Setibanya di apartemen, Kirana membuka apron yang baru ia beli, langsung menyalakan lampu dapur. Ia bergerak tenang namun cekatan. Di meja, bahan-bahan sudah siap: pot

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD