Aldi masuk ke ruang kerjanya. Pintu ditutup pelan, tapi atmosfernya langsung berubah jadi dingin. Nurma mengikutinya, namun Aldi tidak menoleh. Ia duduk, melepaskan kacamata, mengusap wajah, lalu menatap dinding seperti sedang menghitung sesuatu. “Dia menolak lagi, Mas…” ucap Nurma hati-hati. “Bram tidak akan tergoyah kalau seperti ini caranya.” Aldi tidak menjawab. Ia hanya memutar pena di jarinya. Nurma mencoba bicara lagi. “Mas, Ayu—” “Diam dulu.” Nada itu membuat Nurma langsung menutup mulutnya. Ada jeda panjang. Ketenangan Aldi terasa sangat mengancam — ketenangan orang yang berpikir bukan orang yang marah. Setelah beberapa detik, Aldi berkata lirih: “Kita harus ubah pendekatan.” Nurma mengernyit. “Maksud Mas?” Aldi menatap istrinya untuk pertama kalinya sejak tadi. Sesua

