Ayu pulang dengan langkah gontai. Mobil yang membawanya kembali ke rumah utama keluarga Sanjaya terasa terlalu sunyi. Tidak ada kemenangan. Tidak ada celah. Hanya rasa kalah yang menekan d**a sejak pintu apartemen Kirana tertutup di belakangnya. Begitu memasuki ruang keluarga, Nurma sudah ada di sana. Duduk rapi, tenang, seolah memang sedang menunggu. Ayu berhenti beberapa langkah dari sofa. Bahunya turun, napasnya berat. Semua kepercayaan diri yang tadi ia pakai sebagai tameng kini runtuh tanpa sisa. “Tante…” suaranya lirih, nyaris pecah. “Aku minta maaf kalau harus kembali ke sini lagi.” Nurma menoleh perlahan. “Bisa nggak…” Ayu menelan ludah, matanya mulai berkaca-kaca. “Tante membantuku? Kalau tidak… Om Aldi akan mencabut uang itu dari perusahaan Papa.” Kalimat terakhir keluar d

