Tekanan Yang Tak Terlihat

1388 Words

Malam itu, ruang keluarga utama rumah Aldi Sanjaya terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu gantung menyala terang, tapi tidak ada kehangatan di sana. Udara dipenuhi ketegangan yang belum sempat mengendap sejak rapat Dewan Keluarga berakhir. Aldi duduk di sofa utama, jasnya sudah dilepas, namun wajahnya tetap keras. Di hadapannya, Nurma duduk tegak dengan tangan saling bertaut, sementara Ayu berada di sisi Nurma—punggungnya lurus, tapi bahunya tegang, seolah setiap kata bisa berubah menjadi beban. “Aku sudah sampaikan hasil rapat ke komite,” ujar Aldi akhirnya, suaranya datar. “Tidak ada keputusan final.” Nurma langsung menoleh. “Jadi… komite pun tidak bisa menekan Bram?” tanyanya, nadanya rendah tapi tajam. Aldi tidak segera menjawab. Rahangnya mengeras, matanya menatap lurus ke depan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD