Meja Besar

1410 Words

Pagi itu, rumah utama keluarga Sanjaya tampak seperti biasa—tenang, rapi, nyaris dingin. Bangunan besar bergaya kolonial modern itu berdiri anggun di balik pagar tinggi, seolah tidak pernah tersentuh gejolak apa pun. Namun di balik dinding-dinding kokohnya, keputusan-keputusan yang bisa mengubah hidup banyak orang sering kali diambil tanpa suara. Bramasta melangkah masuk sendirian. Tidak ada Kirana di sisinya. Bukan karena ia tidak ingin ditemani—melainkan karena surat itu secara tegas melarang pendamping. Dan Bram memilih untuk mematuhi, setidaknya untuk hari ini. Langkahnya mantap, jas gelap rapi menempel di tubuh. Namun siapa pun yang mengenalnya cukup lama akan tahu: Bram sedang menahan sesuatu. Rahangnya mengeras, bahunya tegap terlalu sempurna—tanda seseorang yang bersiap menghada

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD