Makan malam mereka berakhir lebih cepat dari rencana. Bukan karena kehilangan selera, tapi karena Bramasta ingin Kirana segera berada di tempat yang aman—jauh dari tatapan orang, jauh dari kemungkinan benturan lanjutan. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri: kenyamanan Kirana adalah prioritas, tanpa kompromi. Di dalam mobil, suasana hening. Lampu-lampu Jakarta berkelebat di balik kaca. Bram menyetir dengan fokus penuh. Kirana menyandarkan kepala ke kursi, satu tangannya masih memegang tas berisi amplop hasil USG—seolah takut benda itu menghilang jika dilepaskan terlalu lama. “Aku belum bilang ke siapa-siapa selain kamu,” ucap Kirana akhirnya. “Ke Ibu juga belum.” “Bagus,” jawab Bram tanpa ragu. “Untuk sementara, cukup aku yang tahu.” Kirana menoleh. “Tapi tadi… ibu kamu sudah liha

