Dan tebakan itu benar. Ayu berdiri dengan senyum lembut, pakaian sederhana, rapi, tanpa kesan berlebihan. Tidak ada aroma ambisi yang menyengat—hanya wangi tipis seseorang yang ingin terlihat aman. “Mbak Kirana, apa kabar?” sapa Ayu lembut. Sebenarnya Kirana malas. Sangat. Namun ia tetap membuka pintu lebih lebar dan memberi isyarat singkat. “Masuk.” Nada suaranya datar. Tidak hangat. Tidak ramah. Tidak bermusuhan. Justru itu yang membuat Ayu sedikit gugup. Mereka duduk berhadapan. “Baik,” jawab Kirana singkat ketika Ayu menanyakan kabarnya lagi. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. Dingin. Datar. Tanpa emosi. Keberanian Ayu turun satu tingkat. Ia menarik napas pelan, lalu menebalkan muka. Cara kotor sudah ia coba—menjebak Bram, memancing celah, bahkan memanfaatkan tekanan ke

