Kelas unggulan
Setelah libur sekolah berakhir, semua murid SMA Tunas Bangsa kembali ke sekolah. Ada yang terlalu bersemangat untuk bertemu teman-temannya, ada juga yang merasa belum puas menjalani masa liburannya. Padahal, waktu libur mereka cukup lama. Namun, gadis bernama Rania tidak merasakan itu semua. Tidak senang, juga tidak malas ke sekolah. Dia berprinsip, jika sudah waktunya sekolah berarti hal hal baru akan kembali di mulai.
Rania sedang membaca informasi pembagian kelas semester 2, di sekolah ini setiap semester selalu mendapatkan pembagian kelas. Tentunya, anak anak yang berprestasi akan berada di kelas unggulan. Rania sudah tidak heran saat namanya berada di urutan paling atas di kelas barunya, sudah menjadi hal biasa bagi Rania. Gadis itu tidak benar benar memiliki teman dekat, karena setiap semester selalu berganti kelas. Tidak masalah bagi Rania, hal semacam itu sudah biasa.
Sesampainya di kelas, seperti semester sebelumnya. Rania selalu memilih bangku paling depan, menurut Rania di bangku paling depan adalah tempat yang paling pas untuk dirinya. Karena gadis itu tidak suka diajak mengobrol saat jam pelajaran berlangsung. Hal yang paling penting, saat ulangan harian tidak ada yang berani meminta contekan pada gadis itu.
"Eh mimpi apa gue semalem, bisa satu kelas sama Rania." Itu suara Fabian, atau biasanya Rania memanggil cowok itu Bian. Selalu juara 2 pararel setelah Rania, sejak kelas X mereka berdua selalu bertemu karena satu kelas.
Rania mengangkat bahu acuh, setiap mereka bertemu di kelas yang baru cowok itu selalu mengatakan hal yang sama.
Seperti biasa, Fabian selalu duduk di belakang Rania. Meksipun Rania selalu cuek, tapi Fabian selalu mengajaknya berbicara.
"Ran, dari kelas X kita selalu satu kelas. Feeling gue kuat banget, kalau kita emang jodoh."
Rania mendengus kesal, kalimat itu juga selalu di ucapkan oleh Fabian setiap bertemu di kelas yang baru.
"Dari kelas X gue benci banget kalau lo duduk di belakang gue, kapan minggat yang jauh?" tanya Rania kesal, selama di sekolah ocehan Fabian selalu menjadi hal yang sangat Rania benci.
"Ya Allah Ran, enggak boleh gitu sama calon suami."
Rania malas menanggapi ocehan Fabian, cowok itu sekali saja bisa membuat Rania berbicara maka akan terus berbicara. Hingga akhirnya, seorang murid yang berpakaian urakan masuk kedalam kelas. Dia Arsha, semua orang mengenal badboy yang satu itu. Kecuali, Rania.
"Gue baru tau, kalau ada badboy tapi pinter. Imbanglah Ar, sama kelakuan lo." Celetuk Fabian, mereka memang sudah berteman akrab karena Arsha adalah tetangga Fabian sejak kecil. Namun, baru kali ini mereka satu kelas.
Arsha tersenyum miring, semua orang selalu mengatakan bahwa Arsha beruntung karena kelakuan buruknya bisa di tutupi dengan berbagai prestasi.
"Hidup emang harus imbang, gue ganteng, gue tajir, dan gue pinter. Cewek mana yang berani nolak gue?" tanya Arsha sombong, sepertinya cowok itu belum mengenal gadis yang duduk di bangku paling depan.
Fabian tersenyum sinis, bayangan Arsha akan di tolak mentah-mentah oleh Rania pasti akan membuat Arsha kehilangan keangkuhannya.
"Ada satu cewek, yang bakal nolak lo meskipun lo memenuhi kriteria dia."
"Siapa, buta kali tuh cewek berani nolak gue. Lo tau kan, cewek cantik di sekolah ini rata rata udah jadi mantan gue semua."
"Tapi yang ini beda bro, dia cantik dan pintar. Poin plusnya, dia selalu peringkat pertama. Orang tuanya tajir, dia bukan tipe cewek yang suka nyusahin orang. Mandiri banget pokoknya, jauh dari kata manja."
Mendengar penuturan Fabian, semakin membuat Arsha penasaran.
"Kasih tau gue."
"Rania."
Gadis yang di panggil namanya menoleh, menatap tajam kearah Fabian. Sejak tadi, Rania mendengar apa yang mereka bicarakan.
Arsha menatap Rania sebentar, mengingat dengan jelas siapa gadis itu. Yang Arsha ingat, gadis itu selalu membawa pulang piala selama ada olimpiade sains.
"Gue enggak mau ajak lo taruhan, bisa di tebas gue sama Rania. Tinggal usaha lo sejauh mana buat dapetin dia,"
"Dalam seminggu, dia bakalan jadi pacar gue. Tanpa adanya penolakan."
"Percaya diri lo tinggi, gue jadi ikutan pesimis." Celetuk Fabian membuat Arsha merasa di remehkan. Lihat saja, dalam waktu dekat gadis cantik itu akan luluh padanya.
---
Jam istirahat pertama hampir selesai, tapi Rania belum beranjak dari tempat duduknya. Gadis itu masih sibuk mencatat rumus matematika yang ada di papan tulis, seperti biasa Rania selalu menyiapkan catatan untuk belajar nanti malam. Semua itu Rania lakukan karena keinginannya, bahkan orang tuanya tidak pernah menuntut sang anak untuk menjadi nomor satu di sekolah.
Rania melirik jam tangannya, masih ada waktu sepuluh menit untuk makan bekalnya. Meskipun tergolong dari keluarga mampu, tapi Rania jarang makan di kantin. Gadis itu lebih sering membawa bekal, dari rumah.
"Akhirnya selesai, makan dulu nih. Perut gue minta di isi." Ucap Rania pada dirinya sendiri. Gadis itu menikmati makanannya dengan lahap, sampai tidak sadar ada seseorang yang memperhatikannya dari balik jendela.
Tidak butuh waktu lama untuk Rania menyelesaikan makan siangnya, sekarang kotak nasi itu sudah kosong. Baru saja Rania menandaskan minumnya, bel masuk sudah berbunyi. Tapi Rania tidak perlu khawatir, saat pertama kali masuk sekolah khusus kelas unggulan tidak akan langsung mendapatkan pelajaran. Namanya juga anak anak jenius. Hanya saat jam pertama saja ada guru yang masuk.
"Rania, lo dari tadi di kelas?" tanya gadis bermake-up tebal. Namanya Fania.
"Iya." Jawab Rania cuek.
Fania menghela nafas panjang, menghadapi Rania harus penuh kesabaran.
"Jam kosong, bolos yuk Ran." Ajak Fania tidak tau diri, belum ada sejarahnya pemenang olimpiade sains membolos.
"Yakin lo ngajakin gue bolos, gue sih ayo aja. Tapi hukumannya lo yang tanggung,"
"Ih kok gitu, enggak asik lo." Fania duduk di bangku sebelah Rania, keduanya sama sama pintar tapi mereka tidak begitu dekat. Fania terlalu feminim, dan Rania sedikit tomboy.
Rania malas menanggapi ocehan Fania, lebih baik bermain game di ponselnya. Merasa di abaikan oleh Rania, gadis di sebelahnya ikut membuka ponsel. Bukan untuk bermain game, tapi malah membuka kamera depan dan berfoto.
"Ran, menurut lo cowok di kelas kita siapa yang paling ganteng?"
"Enggak ada." Singkat, jelas dan memang fakta.
Fania menghentikan kegiatannya berfoto, apa tadi katanya? Tidak ada? Sepertinya Rania belum melihat seseorang yang sejak tadi pagi mencuri perhatian para gadis di kelas unggulan.
Ada seorang murid yang baru masuk di kelas unggulan, tampan dan kaya. Poin plusnya, cowok itu memang pintar. Rasanya tidak ada celah untuk tidak terlihat sempurna. Dia Arsha.
"Lo perlu kaca mata deh Ran, cowok yang tadi pagi duduk di bangku ini." Fania menunjuk bangku yang saat ini gadis itu tempati.
"Itu Arsha, lo tau Arsha kan?" tanya Fania penasaran, dan jawaban Rania benar benar mengejutkan. Gadis itu menggeleng, artinya Rania tidak tau siapa itu Arsha. Padahal cowok itu sudah terkenal di sekolah ini.
"Arsha yang mana? Enggak tau gue. Lagian enggak penting banget gue tau yang namanya Arsha, enggak ada untungnya juga buat gue." Ucap Rania enteng, gadis itu tidak pernah memilih berteman dengan siapapun. Asalkan temannya itu baik, Rania juga akan bersikap baik.
"Lo beneran enggak tau Arsha? Wah gila. Tadi lo bilang kenal dia enggak ada untungnya, lo bisa terkenal di sekolah ini kalau lo bisa deket sama Arsha. Dia punya banyak fans, followers Instagramnya banyak. Dia tajir." Fania mencoba membuka pikiran temannya itu, mereka memang tidak begitu dekat tapi Fania mendukung Rania jika berpacaran dengan Arsha.
Rania menyipitkan matanya, semua itu tidak ada gunanya bagi Rania. Gadis itu membuka aplikasi i********:, tadi Fania memuja Arsha karena cowok itu mempunyai banyak followers tidak tahu saja jika followers Rania juga banyak di i********:.
"Gue bukan gadis yang suka di kenal banyak orang, tadi lo pamer kan dia punya banyak followers? Banyak mana sama followers gue." Rania menunjukkan Instagramnya, lima ratus ribu followers i********: membuat Fania tercengang. Bahkan followers Rania jauh lebih banyak dari followers Arsha.
Tidak sampai disitu, Rania membuka dompetnya. Rania bukan tipe gadis sombong yang suka pamer kekayaan, buktinya setiap hari Rania selalu membawa bekal dari rumah padahal gadis itu sangat mampu untuk membeli banyak makanan mahal di kantin. Tidak ada jarang ada yang pernah mengira bahwa Rania adalah anak beasiswa, karena selalu membawa bekal dari rumah. Namun, Rania tidak pernah merasa tersinggung.
"Lo tadi bilang dia tajir?" Fania langsung mengangguk, banyak teman temannya yang ingin menjadi pacar Arsha karena cowok itu begitu royal pada pacarnya. Itu adalah salah satu kelebihan Arsha.
Rania mengeluarkan black card dari dompetnya, menunjukkan pada Fania. Bukan bermaksud pamer, Rania hanya tidak suka saat seseorang menjadi sombong karena harta.
"Tanpa gue deket sama dia, gue bisa beli apapun."
Fania berdecak kagum, meskipun Fania tergolong dari keluarga berada. Tapi orang tuanya belum pernah memberikannya black card seperti yang Rania punya.
Rania menghela nafas berat, ini yang terakhir. Sekali lagi Rania harus membuka pola pikir temannya itu, jika ingin dekat dengan seseorang itu harus tulus bukan karena siapa? Dan apa yang mereka punya.
"Ini yang terakhir, mungkin banyak yang pengen bisa deket sama Arsha karena mau ikutan terkenal. Tapi jelas itu bukan gue, gue enggak suka jadi sorotan orang orang. Bukan berarti gue enggak bisa di kenal dengan cara gue sendiri, sekarang lo tanya sama anak anak di sekolah ini. Siapa yang enggak kenal gue? Siapa yang enggak tau nama gue? Dan itu bukan gue yang minta di kenal, mereka tau dan kenal gue karena prestasi gue sendiri. Gue bukannya sombong, tapi gue cuma pengen anak anak merubah pola pikirnya. Termasuk lo, kalau mau berteman sama orang itu harus tulus. Jangan ada kata, lo mau berteman sama Arsha atau orang lain karena jadi temen dia menguntungkan."