Rania menatap malas kertas yang ada di atas mejanya, deretan nama nama kelompok matematika sudah di bagikan. Biasanya Rania paling semangat di antara teman temannya, tapi kali ini karena ada tambahan satu nama gadis itu menjadi tidak semangat untuk belajar bersama.
"Kenapa Ran?" tanya Fabian, laki laki itu merasa beruntung karena satu kelompok dengan Rania. Itu sudah berlangsung sejak lama, dan Rania juga tidak mempermasalahkan hal itu.
Rania menggeleng, tidak mungkin jika gadis itu mengatakan bahwa dirinya tidak suka satu kelompok dengan Arsha. Teman temannya yang lain mungkin akan sangat senang jika satu kelompok dengan Arsha, tapi tidak dengan Rania.
"Lo sakit?"
"Enggak, gue sehat. Cuma hari ini gue males aja."
Fabian menggeleng heran, dalam sejarah berteman dengan Rania baru kali ini gadis itu mempunyai rasa malas.
"Kalau lo sakit, mendingan ke UKS aja deh." Kurang perhatian apa Fabian sebagai teman? Tapi percaya atau tidak, dalam diri Fabian memang murni hanya ingin menjadi sahabat Rania bukan bermaksud lain. Mungkin, bagi sebagian orang ada yang mengatakan bahwa Fabian ingin memanfaatkan kedekatan mereka untuk mendapat nilai terbaik. Namun, Fabian tidak pernah mempunyai pemikiran seperti itu. Fabian berteman dengan Rania tulus, tidak ada maksud tertentu. Lagipula, jika ingin memanfaatkan kedekatan mereka Fabian mempunyai semuanya. Rania pintar, Fabian juga pintar. Dan Rania selalu mendapatkan peringkat, begitu juga dengan Fabian yang selalu mendapatkan peringkat setelah Rania.
"Ck, gue enggak apa apa Bian. Berisik banget sih lo." Sinis Rania, gadis itu tidak suka jika ada yang memperhatikan dirinya.
Mau tidak mau, akhirnya Fabian mengalah.
"Oke gue diam, by the way besok kerja kelompok di rumah siapa? Rumah gue atau rumah lo kayak biasanya?" tanya Fabian, biasanya Rania selalu meminta teman temannya untuk datang ke rumah saat belajar kelompok.
"Gue nurut aja, mau dimana aja terserah. Lo yang nentuin deh, gue beneran males banget hari ini." Jawab Rania sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, alasan gadis itu merasa malas bukan karena satu kelompok dengan Arsha saja. Tetapi karena hari ini gadis itu sedang tidak enak badan, lengkap sudah apa yang dirasakan Rania.
Lagi lagi Fabian di buat heran oleh gadis itu, tidak seperti biasanya. Apa mungkin Rania sudah bosan menjadi anak ambis yang selalu mendapatkan peringkat pertama?
"Oke, nanti di rumah gue aja."
"Hm." Gumam Rania, gadis itu berdiri dan berjalan meninggalkan Fabian.
"Lah Ran, mau kemana lo?" tanya Fabian, sebentar lagi jam pelajaran kedua akan di mulai tapi Rania malah keluar dari kelas.
"UKS." awab Rania, lalu pergi begitu saja. Bahkan gadis itu tidak menyadari bahwa Arsha sejak tadi selalu memperhatikannya, tidak ada maksud lain tapi Arsha merasa ada yang aneh dalam diri Rania hari ini.
Tanpa mengatakan apapun, Arsha langsung pergi meninggalkan kelas. Beruntungnya karena hari ini jam kosong, dan hanya Arsha yang mengetahui jika tidak ada guru yang masuk menggantikan guru yang sedang sakit.
Mengikuti Rania dari jauh, ternyata benar gadis itu masuk kedalam UKS. Biasanya Arsha tidak akan peduli jika gadis lain yang ada di posisi Rania, tapi entahlah kali ini perhatian yang ingin Arsha berikan benar benar tulus.
Tidak langsung pergi ke UKS, Arsha lebih memilih pergi ke kantin untuk sekedar membeli makanan untuk Rania. Kantin sudah sepi, karena jam pelajaran kedua sudah berlangsung.
"Bu, bubur ayamnya satu sama teh hangat ya."
"Loh, kok tumben bubur ayam? Kan Arsha paling enggak suka bubur."
"Oh ini bukan buat aku,"
"Buat siapa emang?"
Arsha menghela nafas panjang, kenapa ibu penjaga kantin malah bertanya seperti itu? Apakah itu tidak wajar? Ya, memang Arsha tidak suka dengan bubur dan waktu itu Arsha pernah melihat Rania memesan bubur dan teh hangat jadilah sekarang Arsha memesan bubur ayam untuk Rania.
"Temen Arsha lagi sakit, ini uangnya." Jika terlalu lama di kantin, Arsha akan di berikan banyak pertanyaan oleh penjaga kantin dan Arsha sedang malas menjawab pertanyaan tidak penting tersebut.
Setelah mendapatkan pesanannya, Arsha langsung pergi menuju UKS. Beruntung karena tidak ada anak anak yang lain, jika ada pasti mereka akan sengaja mengajak Arsha berbicara dan itu justru akan menggangu istirahat Rania.
Arsha membuka pintu UKS pelan, objek pertama yang Arsha lihat adalah seorang gadis yang sedang memejamkan matanya. Dan gadis itu adalah Rania, seperti benar Rania sedang sakit.
"Sakit apa?"
Rania langsung membuka matanya, cukup terkejut saat mendapati Arsha datang ke UKS sendirian. Mau apa laki laki itu?
"Enggak tau, mungkin kecapekan." Jawab Rania malas, jika Fabian yang mengikutinya mungkin masih dalam batas wajar. Tapi kenapa Arsha? Benar benar di luar dugaan.
"Bangun, makan dulu." Ucap Arsha, entah mengapa rasanya sangat tidak tega melihat gadis sombong itu terlihat lemah seperti sekarang ini. Arsha berusaha keras menepis segala perasaan yang mungkin bisa saja membuatnya merasa ada yang aneh jika berdekatan dengan Rania, rapi semua perasaan itu Arsha artikan hanya sebatas rasa iba. Tidak lebih, jangan sampai ada perasaan istimewa untuk gadis sombong seperti Rania.
"Gue enggak laper, pergi sana. Ngapain juga lo kesini," usir Rania. Saat ini yang di butuhkan hanya istirahat, bersyukurlah Rania karena hari ini jam kedua kosong jadi tidak akan ketinggalan pelajaran.
Siapa yang akan menyangka, jika gadis sombong seperti ini jika sedang sakit masih tetap terlihat sombong. Bahkan, untuk makan saja tidak perlu ke kantin Rania menolak. Sepertinya niat baik Arsha tidak akan pernah di terima dengan baik oleh Rania.
"Tenang aja Ran, gue enggak ada maksud lain kok. Nih di makan, ada vitamin gue juga itu minum aja. Biasanya, kalau gue capek gitu sama nyokap gue di suruh minum vitamin terus istirahat."
"Tapi lo bukan nyokap ataupun bokap gue, jadi lo enggak bisa ngatur gue."
Sial.
Jika sudah seperti ini, Arsha tidak bisa berkata apapun. Kenapa Rania selalu bisa membalas ucapannya, Arsha yakin jika si hadapannya itu bukan gadis sombong itu pasti akan luluh jika di perlakukan dengan manis seperti ini.
Arsha menghela nafas panjang, "makan Ran, gue janji deh. Nanti kalau lo udah makan dan minum vitamin, gue pergi dari sini." Berat sebenarnya meninggalkan gadis itu sendirian, tapi jika dengan cara itu Rania mau makan dan minum vitamin yang Arsha berikan tidak masalah.
Akhirnya Rania duduk, memilih untuk makan daripada harus melihat wajah tengil Arsha.
"Sini, gue bisa makan sendiri."
"Nih, sekalian vitaminnya. Gue bakalan pergi kalau udah selesai makan."
Rania mengangguk, mungkin memang perlu sedikit menghargai usaha seseorang yang ingin membantu kita disaat sedang susah. Jika selalu menolak bantuan orang lain, gadis itu akan lupa jika dirinya tidak akan selalu bisa hidup sendiri.
"Arsha, lo baik tapi gue enggak bisa deket sama lo." Ucap Rania dalam hati.