2 – RAHASIA ANTAR SAUDARA

1073 Words
Edward meletakkan kepala di bahu istrinya ketika tiba-tiba merasa pusing. “Mau temani aku ke ruangan tertutup untuk beristirahat?” bisik Edward. “Tentu saja.” Lusi berpikir suaminya hanya ingin bersikap manja seperti biasanya. “Uhuk-uhuk!” Namun suara batuk Edward ketika mereka baru sampai di ruangan membuat Lusi khawatir, “Kamu sakit?” Lusi menyentuh rahang Edward dan jemarinya berpindah hampir menyentuh bibir Edward namun tangan pria itu menahannya sedangkan sebelah tangannya yang lain berlumuran darah yang ikut keluar bersama batuk sebelumnya. Edward tidak ingin Lusi mengetahui ada bekas darah di mulutnya. “Aku hanya sedikit mengantuk, kamu tunggu di sini. Aku pergi ke toilet untuk membasuh wajah supaya lebih segar.” Edward berbohong, padahal tujuannya pergi ke toilet untuk mencuci tangan dan gigi di mulutnya yang merah terkena noda darah. “Baiklah, aku tunggu di sini,” jawab Lusi lalu duduk di sofa panjang besar mewah sembari menunggu Edward kembali ke ruangan. 30 menit menunggu, Edward tak kunjung kembali. Lusi cemas karena pria itu sudah pergi terlalu lama. Bosan menunggu, Lusi akhirnya bangkit dari sofa dan keluar ruangan memastikan keadaan suaminya. Dari lawan arah seseorang tidak sengaja menabrak Lusi hingga membuat wanita itu oleng dan nyaris jatuh andai sepasang tangan kekar Ferro tak segera menangkapnya. “Maaf, aku tidak sengaja,” katanya, masih dalam posisi melingkarkan tangan di pinggang ramping Lusi. Mendengar suara yang sama persis dengan suaminya, Lusi pun berpikir jika Ferro adalah Edward. “Sayang, kupikir sesuatu yang buruk terjadi padamu. Kenapa lama sekali di toiletnya?” Lusi malah mengomeli Ferro dan membuat pria itu mengerutkan kening. Edward melihat kejadian itu dan memilih diam memerhatikan dari jauh. Ferro mengangkat sebelah alisnya sembari menatap Lusi heran. “Sayang?” Tanpa tahu siapa pria yang sedang diajaknya bicara, Lusi tiba-tiba berjinjit mendekatkan wajahnya ke Ferro kemudian meraba wajah Ferro menggunakan jemarinya, sedang memeriksa. “Kamu bilang pergi ke toilet untuk mencuci muka, tapi kenapa wajahmu hangat?” Wajah Ferro menghangat karena tersipu dengan sentuhan tiba-tiba dari Lusi. Ferro mendadak malu karena ketahuan blushing di hadapan seorang wanita buta sekalipun. “Tolong singkirkan tanganmu Nyonya, Anda salah orang,” ujar Ferro, mengingatkan dirinya bahwa wanita di depannya adalah istri saudaranya. Lusi menurunkan tangannya dengan raut kaget, “Salah orang?” Bergegas Edward menghampiri mereka bertiga, dan memeluk Lusi di depan Ferro sembari berkata, “Maaf sayang, aku hanya bercanda. Ini memang aku.” Mata Ferro membulat mendengar Edward tak menyangkal mengenai keberadaannya. Pria pembalap itu hendak protes tapi satu tangan Edward yang tak memeluk Lusi membungkam mulutnya. Membuat Ferro semakin bingung dengan maksud Edward. “Maaf aku lama ke toilet karena bertemu rekan bisnis dan diajak berbincang. Aku akan menyuruh Masphito menjagamu sebentar, karena harus melanjutkan diskusi dengan mereka.” Edward kemudian mengkode Masphito lewat gerakan jarinya untuk datang dan menitipkan Lusi padanya sementara Edward menarik Ferro pergi dari sana. “Ed, apa maksudmu? Kemana kita akan pergi sampai harus berbohong pada Lusi?” Ferro sama sekali tidak paham tujuan Edward membawanya ke ruangan tertutup dengan wajah dua kali lipat lebih serius dari biasanya. Bicara empat mata bersama pria itu membuat Ferro baru sadar jika wajah Edward tampak pucat saat ini. “Kau… sakit? Wajahmu pucat, Ed.” “Itulah alasan aku harus bicara denganmu di sini,” sahut Edward, terlihat sedang menahan nyeri. “Ada apa? Kau baik-baik saja kan?” Ferro meletakkan tangannya di kedua bahu Edward, cemas karena Edward terlihat kesakitan. “Aku mengidap Neuroblastoma, dan tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan,” ungkap Edward dengan napas mulai tak beraturan. “Apa Lusi tahu tentang kondisimu?” tanya Ferro, panik sekaligus cemas. Kepala Edward menggeleng. “Jangan sampai Lusi tahu, karena itu aku membutuhkanmu sebagai satu-satunya saudara yang kupercaya,” kata Edward, menatap Ferro memohon. “Apa yang bisa kulakukan untukmu Ed?” “Berpura-puralah menjadi aku sebagai suami pengganti untuk Lusi.” Ferro begitu menyayangi Edward, dan mereka terbiasa saling membantu sejak kecil. Namun bukan berarti Ferro harus menjadi suami pengganti untuk istri Edward juga. “Kau gila?! Aku tidak bisa melakukannya!” Ferro menolak mentah-mentah ide gila Edward. “Lusi sedang hamil, sementara penyakitku semakin parah dan harus menjalani pengobatan,” kata Edward, meyakinkan Ferro agar bersedia melakukan permintaannya. “Kalau begitu katakan itu pada Lusi, aku percaya dia akan merawatmu. Dia wanita yang baik, Ed. Tidak mungkin Lusi akan meninggalkanmu hanya karena sakit parah,” tutur Ferro, menyarankan jalan keluar teraman. Tapi Edward tidak sependapat dengannya. “Masalahnya aku tidak tahu pengobatanku akan berhasil atau tidak. Aku bisa mati kapan saja, dan tidak ingin membuat Lusi terpuruk.” Ferro mengusap wajahnya frustasi, “Kau tidak akan mati, Edward!” bantah Ferro, lebih ke takut jika Edward benar-benar akan meninggalkan mereka suatu saat. “C’mon brother, I need your help. Demi istri dan calon bayiku,” mohon Edward dengan wajah memprihatinkan yang membuat Ferro pada akhirnya tidak punya pilihan lain. “Baiklah, aku hanya perlu menjaganya sampai kau kembali kan?” Ferro memastikan, tapi diamnya Edward lagi-lagi membuat Ferro khawatir akan ada rencana gila yang lain. “Nikahi Lusi menggunakan identitas aslimu jika aku tidak bisa kembali untuk selamanya.” Sesuai tebakan Ferro, ide gila Edward benar-benar diluar ekspektasinya. “NO! Itu tidak mungkin.” Ferro mengibaskan tangan menolak. Edward berlutut di depan kaki Ferro. “Aku mohon Ferro, pada siapa lagi aku memercayakan Lusi jika bukan kepadamu? Anggap saja ini permintaan terakhirku. Tolong… jaga Lusi dan calon buah hatiku.” Ferro bergeming, belum menentukan jawaban karena masih bergemelut dengan pikirannya. Sedangkan Edward menunduk dengan wajah murung, “Aku begitu mencintai Lusi. Dan kau tahu sendiri kami sudah menantikan buah hati selama 5 tahun. Aku tidak ingin kesedihan Lusi membuatnya depresi dan keguguran.” “Kumohon, berpura-puralah menjadi aku,” Edward mendongak memandang Ferro dengan wajah pucatnya, “Kau tadi melihat juga kan? Lusi tidak bisa membedakan antara aku dan dirimu, karena kita memang terlahir kembar.” “Baiklah, aku akan melakukannya,” Ferro akhirnya memutuskan. Edward sempat tersenyum sebelum ambruk ke lantai. “Ed, apa kita perlu ke rumah sakit?” Ferro meletakkan kepala Edward ke pangkuannya. Edward yang masih setengah sadar berkata, “Panggilkan Masphito kemari, dia yang akan mengurusku. Tolong antar Lusi pulang malam ini.” “Oke, tunggu sebentar. Aku akan memanggil asistenmu.” Ferro bangkit dan hendak keluar, namun sebelum pergi Edward menahan kakinya. “Terima kasih Ferro, berjanjilah kau akan merahasikan ini dari Lusi.” “Ya, aku berjanji.” Begitulah rahasia antar saudara itu pada akhirnya dibuat. BERSAMBUNG...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD