Terakhir kali Edgar mengukur tinggi badan adalah beberapa bulan lalu ketika Sia menuliskan laporan kesehatan fisik untuknya. Namun ia yakin ia telah bertambah beberapa sentimeter lagi tanpa ia sadari. Tinggi badannya sudah memasuki tinggi badan standar pria dewasa jika dipikir-pikir, yaitu kurang lebih 175 cm.
Kecemasan Edgar berkurang karena tinggi badannya memenuhi kriteria standar fisik para petugas berwajib Lapas. Dan ia sedikit kesal karena ia telah kehilangan banyak otot-ototnya akibat ia tidak pernah lagi berolahraga selama satu tahun ini. Tidak hanya itu, perubahan besar juga terjadi pada rambutnya yang memutih, seolah ia telah menua dengan cepat. Kesehatannya yang buruk tentu mengacaukan segalanya.
Edgar menyadari ia tidak punya waktu untuk memikirkan perubahan yang terjadi pada dirinya. Mithya bersama ketiga petugas yang mengekor telah memasuki pintu sebuah bangunan, yang sialnya dijaga ketat oleh dua orang petugas bersenjata.
Edgar segera menyusul dengan berpura-pura berlari, tergesa-gesa. Segera saja bahunya ditahan ketika ia nyaris akan melewati penjagaan pintu.
"Dilarang masuk," kata salah satu petugas, terlihat curiga.
"Saya bersama Kepala Pengawas," Edgar setidaknya mencoba untuk berbicara dengan si petugas penjaga.
Kedua petugas itu mengerutkan dahi, tentu mereka tidak mendapat perintah untuk mempersilahkan petugas yang mengaku sedang menyusul.
"Oh, ini," Edgar menunjukkan map cokelat di tangannya. Ia telah menyempatkan diri mengambil sembarang benda di dalam kantor Mithya sebelum menyusul, siapa tahu berguna. "Kepala Pengawas meminta saya mengambil dan membawakan dokumen yang tertinggal."
Salah satu petugas hampir saja mengambil map itu dari tangan Edgar, dengan cekatan Edgar menarik map itu menjauh.
"Biar kami sendiri yang mengantarkan dokumen itu kepada Kepala Pengawas," ujar salah satu petugas.
"Tapi dokumen ini penting," Edgar menunjukkan tulisan Rahasia yang tercetak di dokumen. "Hanya petugas tertentu yang boleh memegangnya."
Kedua petugas itu saling bertukar pandang. Akhirnya keduanya sama-sama mengangguk setuju, lalu membukakan pintu. Tanpa pikir panjang, Edgar segera memasuki gedung.
Pintu kembali ditutup di belakang dan Edgar mendapati bangunan yang isinya jauh lebih mengerikan daripada bangunan inti di mana Mithya menjamu dan meminjamkan kamar kepada mereka. Tempat ini menunjukkan sebagaimana penjara itu sebenarnya. Suatu tempat yang suram, dingin, dengan dinding-dinding batu.
Edgar tidak tahu kemana ia harus melangkah. Ada tiga lorong setelah ruangan bagian depan pintu yang mungkin bisa disebut lobi. Tidak ada penjaga yang berjaga-jaga di balik meja lobi. Kotak kunci semuanya kosong sama sekali. Tidak ada komputer atau bahkan kamera pengawas di dalam ruangan itu. Keuntungan dan kerugian tempat itu bagaikan saling beriringan.
Edgar mengecek setiap ujung dari ketiga lorong, namun sia-sia karena hanya ada kegelapan pada masing-masing ujung loronh. Ia memutuskan untuk menggeledah meja lobi. Namun tidak menemukan sesuatu yang berguna. Setiap laci kosong dan hanya ada berkas-berkas berdebu yang sudah hancur karena dimakan rayap. Ia memungut satu kunci berwarna keemasan namun sudah karatan di dekat kaki meja.
Lalu terdengar suara teriakan yang memekakan telinga. Edgar langsung berdiri tegak, ia menentukan dari mana sumber suara itu. Ia pun segera memasuki lorong yang ia yakini adalah sumber dari suara teriakan.
Semakin dalam Edgar berjalan memasuki lorong, ia seperti dimakan ke dalam kegelapan. Ia sengaja tidak membawa penerangan karena tidak ingin menarik perhatian. Akhirnya ia melihat cahaya di ujung lorong. Berkas cahaya itu membantu menerangi sisa perjalanan Edgar. Namun sebelum ia mencapai ujung lorong, ia menyadari jika di kanan dan kirinya terdapat pintu-pintu besi. Pada setiap pintu besi terdapat bolongan kecil yang mungkin adalah jendela, dan dulunya dilapisi kaca, namun kacanya sudah pecah.
Edgar mendekati salah satu pintu, mengintip ke jendela yang. Ada bayangan besar di dalam sana. Sesosok manusia.
Lolongan kesakitan membuat Edgar tersentak mundur. Ia menoleh pada ujung lorong yang memancarkan cahaya. Berjalan pelan, Edgar mulai mendekati cahaya itu.
Edgar melihat punggung Mithya dan ketiga petugas yang mengekori. Dengan hati-hati, ia bersembunyi dalam bayang-bayang kegelapan, mengamati apa yang sedang terjadi di sana.
Di ujung lorong, terdapat sebuah sel penjara. Mithya berdiri di depan sel tersebut.
"Mengakulah!" Seru Mithya. "Atau terpaksa aku melakukan ini padamu!"
"Tidak! Tidaaaaak!"
Edgar sedikit mencondongkan wajahnya untuk melihat siapa yang berada di dalam sel penjara. Lalu ia membelalakan mata setelah mengetahui apa yang sedang terjadi.
Seorang pria berpenampilan tidak terurus berada di atas kursi listrik. Terengah-engah lemah. Asap mengepul dari tubuhnya yang kurus kering.
"Kau lupa dengan perjanjian kita di masa lalu?" Mithya terdengar menuntut. "Kau seharusnya memberiku semua daftar nama Pemberontak itu!"
"Aku... sudah... menyebutkan semuanya..."
"Oh, tidak, tidak... Jangan berbohong." kata Mithya. "Masih ada para pemberontak di luar sana. Dan mereka sepertinya punya rencana baru. Orang-orang, Dave. Orang-orang itu artinya banyak bukan? Lebih dari satu. Jamak. Sebuah kata yang merupakan reduplikasi. Kau mengerti?"
"Ti... Tidak..."
Mithya terdengar menghela napas. "Dave yang malang," ia berdesis. "Apa gunanya kau jika kau tidak tahu apa pun lagi?"
"Ku... mohon... aku.... tidak...."
"Mari akhiri saja."
"Tidak..."
Edgar merasa dadanya teriris mendengar rintihan lemah pria itu. Baru kali ini ia melihat secara nyata kebengisan seorang Mithya, wanita yang sebelumnya pernah beramah-tamah dengannya.
"Pistol," pinta Mithya pada petugas di belakangnya.
Seketika Edgar membelalakan mata mendengar permintaan Mithya. Apakah Mithya serius? Wanita itu hanya akan menggertak kan?
Namun Edgar melihat tangan kanan Mithya telah terangkat sejajar dengan bahu, ujung mulut pistol tepat tertuju pada kepala manusia malang di dalam sel.
"Sampai jumpa, Dave."
DOR!
Edgar memejamkan mata dan menggigit bibirnya bersamaan dengan bunyi ledakan di dalam ruangan itu.
Lalu hening. Rintihan pria itu sudah tidak terdengar lagi.
Edgar merasakan sekujur tubuhnya menggigil. Tanpa sadar ia masih menggigit bibirnya, demi menahan teriakan dan makian.
"Urus dia." Kata Mithya kepada para petugas.
Dua orang petugas segera memasuki sel. Keduanya melepaskan ikatan pada tubuh kurus kering pria itu yang berada di atas kursi listrik.
"Berikan dokumennya," kata Mithya. Satu petugas segera menyodorkan sebuah dokumen. Mithya membuka-bukanya dengan tidak sabaran, membuat keributan menjengkelkan seolah ia sedang menampar-nampar kertas.
Persembunyian Edgar cukup bagus karena tidak ada yang menyadari keberadaannya meski kedua petugas yang menggotong mayat si pria, baru saja melewatinya.
"Tahanan nomor 4," perintah Mithya.
Si petugas segera mengangguk lalu berbalik pergi. Ia bergegas menuju ke salah satu pintu, membuka kunci pintu dengan gerakan tergesa-gesa atau mungkin gemetaran. Pintu terbuka.
"Tahanan nomor 4," panggil si petugas ke dalam kegelapan di balik pintu. "Segera berdiri! Dan jalan!"
Si petugas mungkin bersyukur karena tahanan yang dipanggil menurut begitu saja. Seorang pria tua lainnya berjalan keluar dari ruang tahanannya, kemudian ditodong dengan pistol untuk masuk ke dalam sel tempat di mana tahanan sebelumnya ditembak mati.
"Nama aslimu Hovak, bukan?" Tanya Mithya. "Kau ketua dari pemberontak tim terakhir yang kutangkap. Sekarang giliranmu."
Edgar bisa membayangkan senyum bengis Mithya meski ia hanya melihat punggung Mithya dari tempat persembunyiannya.
"Jangan buang-buang waktumu, tembak saja peluru itu ke kepalaku."
"Kau tahu aku tidak suka terburu-buru," kata Mithya, tertawa kecil. "Kau harus menikmati detik-detik terakhirmu."
"Wanita sinting," komentar tawanan yang dipanggil Hovak, nada suara pria itu terdengar terlalu santai dalam situasi itu.
"Haha, nikmatilah saat kau masih bisa memakiku. Karena sebentar lagi kau akan memohon-mohon dengan rintihan kesakitan."
"Oh ya, tentu saja. Kami semua mendengar bagaimana kau memamerkan kematian Dave secara perlahan dan pasti. Kasihan Dave. Dia adalah prajurit sejati."
"Omong kosong. Dia membeberkan nama-nama kalian. Dia sendiri yang menyerahkan kalian kepadaku."
"Ya, memang." Kata Hovak. "Tapi kami semua memakluminya. Dia sudah berjuang keras untuk kami. Apa yang ingin kau tahu?"
"Nama," jawab Mithya segera. "Nama pemberontak yang melanjutkan agenda kalian. Dan rencana mereka selanjutnya. Kami akan segera menyerbu dan menangkap mereka."
"Hmm, tidak ada nama lagi," jawab Hovak.
"Astaga, jawabanmu sama dengan orang itu?! Nyalakan!"
Terdengar suara blits namun Hovak tidak bersuara.
Mithya memberi isyarat untuk berhenti. "Nah, kau masih ingin bungkam?"
"Memang... tidak ada nama lagi..."
"Jawaban yang salah, Hovak... Nyalakan lagi!"
Edgar berusaha menahan dirinya. Ini sudah keterlaluan. Mithya itu sinting luar biasa. Tidak bisakah wanita itu berhenti? Pantas saja anak-anak tim operasi terowongan menyebut Mithya sebagai wanita penyihir. Wanita itu memang mengerikan dan memuakkan.
Edgar merasa semakin bersalah. Ia mengarang akan adanya para pemberontak fiktif. Gara-gara hal itu satu orang harus mati terbunuh. Dan satu orang lagi akan menyusul.
Sial. Dia butuh keajaiban untuk menghentikan aktifitas Mithya. Tapi apa yang harus ia lakukan?
"Nah, jawab, Hovak." Perintah Mithya untuk ketiga kalinya.
Edgar nyaris akan meloncat dari tempat persembunyiannya, berniat akan menerkam Mithya dari belakang. Namun ide itu urung ketika alarm membahana di seluruh Lapas.
Tuhan memberikan keajaibannya.