19

1066 Words
Ledakan itu kecil namun cukup membuat permukaan lantai bergetar, kemudian retak dan runtuh, udara berkabut akibat asap ledakan yang bercampur debu semen. Sebuah lubang terbentuk dan memperlihatkan kegelapan di bawahnya. Ketika Daniel mengarahkan lampu ponselnya, terlihat ada tangga menuju ke bawah. Dugaan Daniel tepat sekali mengenai ruang bawah tanah. Mereka pun bekerja membersihkan area sekitar lubang, menyingkirkan material berbahaya. Akan lucu jika mereka terluka sendiri karena tidak berhati-hati. "Aku akan berjaga di luar ya?" Kata Daniel yang memang tidak menyukai ruang gelap dan pengap. "Kita hanya punya waktu kurang dari lima jam sebelum Mithya datang menjemput." Edgar, Sia dan Leo bersiap-siap akan menuju ke bawah dengan mengecek sentar mereka masing-masing. Setelah yakin mereka cukup siap untuk memasuki kegelapan di bawah, satu-persatu dari mereka bertiga pun mulai menuruni tangga. Edgar menyusul paling belakang. Ia menjejak dengan hati-hati pada tangga besi yang kotor dan dipenuhi sisa puing-puing. Sebagian besar puing-puing reruntuhan sudah dibersihkan oleh Leo yang berjalan lebih dulu. Tangga besi itu agak panjang yang menunjukkan ruangan di bawahnya begitu besar. Setelah sampai di bawah, dengan hati-hati mereka menjejakkan kaki di lantai yang dipenuhi bongkahan sisa material runtuhan. Mereka bertiga pun menyempatkan diri untuk membersihkan material sisa runtuhan di bawah tangga. "Ruangan ini besar sekali." Komentar Sia, menyinari ruangan dengan sentarnya. "Kira-kira apa yang mereka lakukan di sini?" Tanya Edgar. "Sesuatu yang kejam dan berbahaya hingga perlu disembunyikan?" Tebak Leo asal. Mereka bertiga mengitari ruangan itu, mencoba mencari sesuatu yang mencurigakan. Namun ruangan itu sama sekali tidak menarik. Pastinya setelah kebakaran terjadi dan keputusan penutupan rumah sakit, ruang bawah tanah ini pastinya sudah dibersihkan. "Ada apa?" Tanya Sia pada Leo yang berdiri di depan sebuah pintu besi. Edgar segera mendekati mereka berdua. "Lihat ini," Leo menyinari lantai di depan pintu itu. Ada cetakkan debu yang ganjil di lantai. Cetakan debu yang tidak merata itu menunjukkan jika pintu besi itu pernah membuka baru-baru ini. Leo mengecek kenop pintu dan terkunci. "Pegangan pintunya pun bersih sekali. Sama sekali tidak ada debu tebal di sini seperti di tempat yang lain. Edgar baru saja akan mengajukan diri untuk membukakan pintu namun sudah dibalap oleh Leo. "Biar kubuka," kata Leo, memberikan sentar miliknya kepada Sia. Ia mengeluarkan pisau lipat dari sakunya, mulai bekerja merusak lubang kunci dengan ujung pisau. Setelah berhasil dengan bunyi klik yang menjanjikan, Leo menarik daun pintu besi, membukanya lebar-lebar. Sebuah lorong panjang dengan ujung gelap gulita pekat menyambut mereka. "Bagaimana bisa ada terowongan di sini?" Tanya Leo takjub bercampur heran. Ia mengambil sentar dari Sia, melangkah melewati pintu, kemudian menyinari terowongan itu. "Jaman dulu orang-orang bekerja keras." Komentar Sia. "Dalam sejarah, seratus tahun lalu pernah terjadi peperangan besar. Dulu dunia kita hanya dibagi menjadi dua kerjaan besar yang sama-sama adidaya. Chroma dipercaya sebagai bekas ibukota salah satu kerajaan." "Dan kira-kira di mana kerjaan kedua yang disebutkan oleh sejarah?" Tanya Leo penasaran. "Apakah Siprus berperan penting dalam sejarah dunia kita?" "Melihat bagaimana terowongan ini dibangun, Siprus pastilah pernah menjadi tempat yang menjanjikan. Terowongan ini bisa digunakan untuk tempat persembunyian dari perang." Kata Sia. "Apakah kalian akan mengecek terowongan itu?" Tanya Edgar. Ia menyipitkan mata pada kegelapan yang pekat di ujung terowongan. Mustahil ada orang yang masih menggunakan terowongan itu untuk lalu lintas. "Agak bikin penasaran sih," kata Leo. "Ayolah, Daniel sudah menunggu." Kata Sia mengingatkan. "Sepertinya tidak ada apa pun lagi yang bisa kita temukan di sini." "Ya. Kecuali penemuan terowongan yang menarik ini," ujar Leo. Ia kembali ke dalam ruangan lalu mendorong daun pintu besi hingga berdebam tertutup. -- Mereka berempat mendapatkan undangan makan malam dari Mithya. Mungkin karena besok dini hari mereka akan segera berangkat pulang, Mithya menyempatkan diri mengadakan acara. Edgar dan ketiga mahasiswa sebenarnya sedang kelelahan namun demi menghormati tuan rumah, mereka menerima undangan itu. Edgar yang tidak tahu akan menghadiri acara bertema sopan itu bersyukur membawa satu kemeja berwarna krem dan celana kain. Setidaknya setelan itu masih cukup terlihat sopan untuk dikenakan. Sementara Daniel mengenakan setelan serba hitam seperti akan menghadiri acara pemakaman. Leo yang selalu siap telah mengenakan setelan biru laut, membuat penampilannya begitu tampan dan mencengakan. Dan sialnya Sia juga mengenakan gaun berwarna senada dengan setelan Leo. Edgar menelan rasa irinya ketika melihat betapa serasinya Sia ketika bersanding di sebelah Leo. Seorang petugas mendatangi mereka untuk mengantarkan mereka ke sebuah ruangan yang mirip seperti ruang rapat daripada ruang makan. Mithya sudah menunggu mereka di ujung meja. Hidangan pun sudah siap rupanya. "Mari, duduklah." Ajak Mithya. "Ini seharusnya tidak perlu, Sepupu, kata Daniel sembari duduk. Sikap santunnya kontras sekali ketika pertama kali bertemu dengan Mithya. "Tidak. Ini perlu. Aku senang dengan kehadiran kalian di kotaku yang menjemukan ini." Kata Mithya. "Tidak menjemukan kok," Daniel merespon. "Menarik malah." "Hmm, jika kau bilang begitu." Ekspresi Mithya terlihat kaget mendengarnya. "Sebelumnya maaf karena hidangan kami tidak mengesankan," lanjut Mithya. "Ini mengesankan," Kata Sia, memuji dengan sopan. "Terima kasih sudah mengajak kami makan bersama." "Aku senang bisa membantu," kata Mithya sambil tersenyum. "Silahkan para tamu." Edgar tidak banyak bicara ketika semua orang dewasa berkumpul di meja makan sambil melontarkan ucapan "senang", "maaf", dan "terima kasih" yang menjemukan. Ia mengikuti alur saja. ketika mereka semua mulai makan, maka ia segara mengisi piringnya. "Jadi, apa saja yang sudah kalian temukan?" Tanya Mithya. "Banyak hal," jawab Daniel dengan nada riang. "Kota ini menarik sekali!" Mithya kembali menunjukkan eskpresi heran tiap kali Daniel menyebut Siprus sebagai kota yang menarik. "Apakah aku boleh mendengar penemuan kalian?" Daniel pun menjelaskan dengan dibantu Leo dan Sia. Tapi ekspresi Mithya tidak terlihat puas. Jawaban ketiga mahasiswa itu seperti mengulang apa-apa saja yang disampaikan di dalam artikel tentang Siprus selama kurang dari setengah abad ini. "Aku harap Siprus akan segera pulih," lanjut Daniel. "Kami akan memberikan saran-saran perbaikan modern yang mungkin bisa digunakan oleh Siprus." Ia mengusulkan dengan riang. "Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, pasti ada cara tertentu untuk memperbaiki Siprus." "Tapi kami memiliki wilayah berbahaya, tentu akan sulit diperbaiki." Ujar Mithya. "Kami juga tidak memiliki dana untuk perbaikan." "Tunggu saja ketika kami mengajukan hasil penelitian kami, pemerintah pasti akan bersimpati dan mau terlibat dalam perbaikan. Seluruh masyarakat di dunia akan mendukung pembangunan Siprus." Kata Daniel dengan percaya diri. "Bukankah hal itu sudah pernah terjadi?" Tanya Mithya, tampak meragukan. "Dua puluh tahun lalu Siprus pernah menjadi pusat perhatian. Namun pemerintah pelan-pelan meninggalkan Siprus dengan alasan Siprus sudah tidak dapat diperbaiki." "Itu disebabkan karena pada masa lalu masih ada banyak kekurangan." Kata Leo yang berbicara dengan tegas "Yakinlah kepada kami, Mithya. Kami akan memberikan analisis terbaik kami demi Siprus."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD