BAGIAN I : MEMORI

235 Words
"Techneta adalah dunia yang terlalu tenteram," kata wanita berambut jingga, duduk berputar pada kursi kerja. "Tapi aku mencintai Techneta yang damai dan sempurna." Pria yang agak mirip dengannya, khususnya dari warna mata yang biru pucat, cekikikan pelan, bahu-bahunya berguncang menahan tawa. Ia mengenakan jas laboratorium berwarna putih, membelakangi si wanita berambut jingga, membungkuk, asyik mengintip pada mikroskop di meja preparasi. "Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya si rambut jingga. Si laki-laki berhenti sebentar. "Tolong dong jangan berbuat macam-macam. Ayah sudah meninggal. Sekarang hanya aku yang bisa membersihkan segala hal busuk yang kau kerjakan..." Keluh si wanita. Si laki-laki pun cekikikan lagi. Wajahnya menunjukkan raut menyeramkan yang tersimpan kekejaman dan kekuasaan. Arogansi yang ia sembunyikan dari saudara perempuannya. Si rambut jingga sebenarnya sudah tahu jika saudara laki-lakinya itu agak tidak waras, tapi dia sama seperti ayahnya yang tetap menerima keadaan si saudara apa adanya. Keluarga mereka memang sungguh konyol. Rasa cinta mereka tanpa batas dan meresahkan. "Aku akan berhenti mengirimkan anak-anakku," kata si wanita rambut jingga. "Kau membuatku kerepotan karena harus membersihkan ulahmu. Kau mau apa sih sampai mendekati pelatihan?" Si pria memberengut. "Bagaimana kabar bocah itu?" "Buruk," desah si wanita. Si laki-laki berbalik, ia memberikan senyum hangat yang normal pada saudaranya. Ia memang bisa berpura-pura normal kalau mau. "Apakah kau akan membunuh anak itu?" Tanya si laki-laki. Dan wanita berambut jingga itu tidak sekejam saudaranya. "Tentu saja tidak," jawabnya dan membuat si laki-laki tampak kecewa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD