22

1420 Words
"Apa yang terjadi kepadanya?" Edgar tidak tahan untuk bertanya karena sejak tadi ia hanya diam mengamati. Hany, si kembar dengan jepit rambut pita berwarna kuning, menolehkan wajah pada Edgar. Tampaknya gadis itu baru menyadari keberadaan Edgar di sana. Hany segera berdiri lalu mendekati Edgar. Ia duduk di sebelah Edgar, ikut memandangi anak-anak yang terbaring lemah di seberang mereka. "Beberapa dari kami terserang penyakit," kata Hany. "Tinggal di dalam terowongan tentu bukan tempat tinggal yang layak untuk anak-anak." Edgar merasa tidak nyaman melihat anak-anak itu terbaring dengan pakaian kusam. Kasihan. Namun ia sendiri merasa tak berdaya. Apa yang bisa ia lakukan? "Kalian bersembunyi dari apa?" Tanya Edgar. "Hmm," Hany terdiam sebentar sebelum menjawab. "Kami semua lahir di Area Perawatan." Edgar mengetahui nama tempat itu. Mithya bahkan menunjukkan di mana area itu berada. Ia mencoba mengingat bagaimana reaksi Mithya ketika para mahasiswa meminta untuk melihat area yang tentu sangat sensitif untuk dipamerkan. "Setiap tahun, anak-anak yang sudah berusia tujuh tahun dibawa pergi ke sesuatu tempat. Setelahnya mereka tidak pernah kembali. Kami adalah sebagian dari anak-anak yang selamat." Jelas Hany pendek. "Tapi hingga sekarang kami tidak tahu nasib sisa anak yang dibawa pergi itu. Katanya mereka digunakan untuk eksperimen yang dilakukan di pulau seberang." "Eksperimen?" Ulang Edgar, mulai tertarik. Hany mengangguk. "Ya. Ada sebuah pulau di seberang pantai Siprus. Nama pulau itu Rhodonka. Para pemberontak lebih suka menyebutnya pulau monster. Ke sana lah anak-anak itu dikirimkan dan tak pernah kembali." Ini pertama kalinya Edgar mendengar nama pulau itu dan entah mengapa nama Rhodonka terasa akrab baginya. Apakah dia pernah mendengarnya di suatu tempat? Tapi sepertinya bukan melalui peta. Dia sudah mengecek berkali-kali peta Siprus dan pulau yang ada di seberang pantai Siprus belum diberikan nama. Dan menurut informasi terakhir pulau itu tidak berpenghuni. Sepertinya peta Siprus masih belum diperbaharui. "Sejak kapan pengiriman itu diberlakukan?" Tanya Edgar ingin tahun. Hany mengangkat bahu. "Kalau begitu, apakah kau tahu kapan Area Perawatan dibangun?" "Hmm," Hany berpikir sesaat. "Aku pernah melihat foto-foto lama yang dipajang di ruang Kepala Area Perawatan. Mungkin itu foto peresmian Area Perawatan. Kalau tidak salah, tahunnya... Hmm, sekitar dua puluh tahun lalu." Dua puluh tahun? Hmm, kebetulan sekali. SQF juga dibangun tepat dua puluh tahun yang lalu di kota Vanadis. Apakah ada hubungan tertentu di antara SQF dan Area Perawatan serta pulau yang bernama Rhodonka itu? Edgar tidak bisa menahan rasa penasarannya. Pertanyaan baru terus saja mengalir setiap kali ia mendengar informasi baru yang ada di Siprus. "Apakah kau mengetahui tentang radiasi dan pencemaran merkuri di sungai Siprus?" Tanya Edgar, sengaja bertanya karena bisa jadi Hany tahu sesuatu. "Aku pernah mendengar sesuatu semacam itu." Hany mengangguk. "Selama di Area Perawatan kami dilarang keluar dari area. Katanya di luar sangat berbahaya. Udara tidak cukup bagus untuk kami bernapas. Air tercemar dan segala hal lainnya yang membuat kami takut. Tapi setelah tinggal di terowongan, ketika mendapat kesempatan berjalan-jalan keluar, situasi kami memang berbahaya karena kapan saja kami bisa tertangkap. Tapi udara bumi terasa lebih baik dari yang kubayangkan pertama kali. Tidak ada orang-orang yang tiba-tiba mati hanya karena menghirup udara." Hany mengangkat bahunya sendiri. "Kau berasal dari kota di luar sana kan?" Hany tiba-tiba saja bertanya. Edgar mengangguk sebagai jawaban. "Apa nama kotanya?" "Chroma," jawab Edgar. Hany terlihat mengeja nama kota itu di mulutnya dengan tanpa suara. "Bagaimana keadaan di sana?" "Hmm, normal?" Edgar tak yakin bagaimana cara mendeskripsikan kota besar yang menjadi tempat tinggalnya. "Aku yakin di sana tidak ada sekelompok anak tinggal di dalam terowongan." Tambahnya dan Hany cekikikan mendengarnya. "Korie mungkin agak jutek ya?" Hany rupanya masih punya banyak topik untuk dibicarakan dan Edgar cukup senang mendengarkan. "Sebab dia adalah satu-satunya anak yang berhasil diselamatkan oleh tim operasi Paman Kas di angkatannya. Paman Kas adalah orang yang memimpin kami dulu. Bisa dibayangkan tidak? Dari lima anak yang akan dikirimkan, hanya Korie yang berhasil dibawa pergi oleh tim operasi. Biasanya tim operasi bisa menyelamatkan lebih dari dua anak. Tentu Korie masih mengingat teman-temannya dulu semasa masih di Area Perawatan. Kadang Korie bermimpi buruk bertemu dengan teman-temannya lagi yang sudah menjadi monster." Hany menoleh pada Edgar, tersenyum senang melihat raut penuh minat Edgar dalam mendengarkan. "Aku sudah menjelaskan segala hal yang aku ketahui." Edgar balas tersenyum. "Terima kasih." "Aku juga sudah dengar jika kau adalah orang yang menyelamatkan Korie," Hany kembali berkata. "Sepertinya aku akan percaya kepadamu." Seketika kedua pipi Edgar memanas mendengar pengakuan Hany yang ramah. "Terima kasih sudah mempercayaiku." "Pasti ada alasan mengapa Tuhan mengirimmu ke sini. Del sudah tidak tahan lagi terus bersembunyi di dalam terowongan. Banyak anak-anak yang sakit dan kami kerepotan tanpa peran orang dewasa." Gadis itu menarik napas dengan raut sedih. "Aku harus menyiapkan makan siang untuk anak-anak." Ia pun segera pergi meninggalkan Edgar yang masih duduk di tempatnya, masih melamunkan tentang kondisi anak-anak yang tinggal di dalam terowongan bawah tanah. "Kau masih kenyang kan?" Edgar tersadar dari lamunannya. Korie sudah berdiri di sampingnya tanpa ia sadari. Gadis itu melototi Edgar dengan pasang mata amber cerah. "Maaf. Persediaan makan kami sedang terbatas. Kau terpaksa berpuasa hari ini." Edgar mengangkat bahu, mencoba memahami meski sebenarnya ia membutuhkan asupan. Tapi tentu ia tidak bisa merengek kepada bocah-bocah ini. Korie duduk di sebelah Edgar, menggantikan posisi Hany. "Kau sudah dengar banyak hal dari Hany?" Sepertinya ia sudah mengawasi Edgar dan Hany yang bercakap-cakap. Nada suara Korie terdengar sinis, gadis itu sepertinya tidak suka dengan keberadaan Edgar yang serba ingin tahu. Edgar menganggukkan kepala. "Boleh aku bertanya?" "Kau selalu bertanya," komentar Korie. "Apa?" "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Edgar telah mengetahui jika ia sebaya dengan Korie. Seandainya benar ia berasal dari Siprus, itu artinya ia satu angkatan tahun kelahiran dengan Korie. Pastinya Korie mengenal anak-anak satu angkatannya kan? Korie mendekatkan wajahnya pada Edgar. Membuat Edgar menjauhkan wajahnya sendiri ke belakang karena gerakan mengejutkan itu. "Kita bertemu di Lapas," jawab Korie. "Tidak, maksudku sebelum di Lapas." "Jangan menggombal. Basi, tahu." Edgar menghela nafas. Bagaimana bisa pertanyaannya dianggap sebagai suatu bentuk gombalan? "Apakah kau juga berkata begitu kepada Hany?" Tuduh Korie. "Jangan macam-macam." Peringatnya. "Bukan urusanmu bagaimana aku berbicara dengan siapa," kata Edgar yang mulai kesal. "Ke sini," ajak Korie tiba-tiba. Dan sudah berjalan pergi, menyibak tirai plastik. Edgar ingin menolak karena ia sempat berniat akan membantu Hany menyiapkan makan siang untuk anak-anak. Namun karena Korie sudah memanggilnya, ia terpaksa menyusul Korie. Korie membawa Edgar menyusuri terowongan hingga cukup jauh, terowongan terasa mulai menanjak. Lalu gadis itu membuka salah satu bata di atasnya, seketika sinar matahari menerobos masuk. "Wah," komentar Edgar melihat sinar lurus matahari masuk ke dalam terowongan yang gelap. Korie duduk menyandar pada dinding terowongan, menghadap sinar itu. Edgar segera duduk di sebelahnya. "Apakah ini di dekat perbukitan?" Tanya Edgar, ia bisa menghirup udara segera yang masuk melalui celah bata yang terbuka. Korie mengangguk. "Tenang saja, tempat ini berada di area Barat. Cukup jauh dari rumah sakit tua terbengkalai sebelah timur itu." Jelasnya. "Kalian pasti merindukan sinar matahari," komentar Edgar. "Tentu saja. Aku, Del, Lim, Hany dan Anya serta Gail sih... sudah sering keluar. Jadi kami punya kesempatan melihat matahari. Sementara anak-anak yang lain... mereka belum memiliki kesempatan itu sebelum mereka cukup siap menghadapi kegilaan yang kami hadapi." "Apa yang kalian lakukan malam itu?" Tanya Edgar, mengingatkan Korie pada penyusupan yang dilakukan oleh anak-anak itu di Lapas. "Gail ingin menunjukkan pintu terowongan. Jadi kami terpaksa menyusup. Tapi sebelum Gail menemukan pintu itu, kami sudah ketahuan." "Apa yang kau lakukan di Gedung inti?" Tanya Edgar lagi. "Aku melihatmu di sana." "Ya, aku melihatmu," balas Korie dengan senyum aneh. "Kau sedang menangis di balkon." Edgar membelalakan mata, terkejut. "Apa maksudmu?!" Serunya. Apakah Korie melihat saat-saat ia merasa patah hati pada Sia? Oh yang benar saja! "Aku melihat matamu berkaca-kaca. Anak laki-laki cengeng. Kau pasti merindukan orang tuamu karena berada di Lapas. Dasar orang kota." Ledek Korie. Edgar ingin membela diri. Dia tidak punya orang tua. Juga dia tidak sedang menangis. Pada saat itu dia hanya merasa kecewa karena Sia lebih memilih Leo. Itu saja. Tapi Edgar kesulitan menyusun alasannya sendiri. "Aku sengaja berkeliaran di sana untuk mencari kamar Mithya." Korie menjelaskan. "Siapa tahu dia menyimpan informasi rahasia di kamarnya. Tapi aku segera sadar jika itu ide yang gegabah. Maka aku segera berbalik pergi, tapi aku berhenti karena melihatmu. Kukira kau adalah salah satu dari kami. Kau kelihatan cukup muda, itu aneh kan? Tapi melihat kau berpakaian bersih dan bagus, aku mengurungkan niat untuk menegurmu." "Waktu itu aku sedang tidak menangis," Setidaknya Edgar membela diri. Korie tersenyum menyeringai saja. "Aku ingin bergabung," kata Edgar kemudian dan membuat Korie tampak terkejut, melupakan ledekan gadis itu. "Aku ingin bergabung dalam tim operasi kalian." Ujarnya mantap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD