Edgar menjabarkan rencana yang entah bagaimana muncul di dalam kepalanya. Seolah memang sudah takdirnya berada di tempat ini dan bergabung dengan anak-anak terowongan. Enam anak utama duduk menyimak dengan raut serius. Rencana ini akan merubah hidup anak-anak terowongan, namun dengan konsekuensi kalah dan menang yang sama besar.
"Bagaimana jika dari awal sudah gagal?" Korie menanyakan hal terburuk, menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang pesimistik.
Edgar mengedikkan bahu. "Jika kalian merasa ragu, maka tidak perlu menganggap serius langkahku."
"Tapi sampai kapan kita terus begini?" Cetus Del, menerima rencana Edgar dengan sikap serius. "Aku sudah tinggal dua belas tahun di dalam terowongan." Ia menelan ludah, gugup. "Sebentar lagi usiaku bukan kanak-kanak lagi."
"Kau bisa tetap terus menjaga kami," ujar Korie pada Del.
"Kau tidak lihat jika banyak anak-anak yang sakit?" Tanya Del. "Kita tidak akan bisa mengurus mereka semua. Sementara akses kita untuk mendapatkan makanan dan kebutuhan hidup semakin sulit. Kota kita semakin miskin. Orang-orang dewasa di luar sana kesulitan melengkapi kebutuhan dirinya, apalagi kita. Uang semakin sulit didapatkan."
"Kita bisa mati," Lim terhenyak, menyadari fakta masa depan mereka yang gelap gulita.
"Kita tidak akan mati!" Seru Korie tidak terima.
"Lihat kondisi kita, Korie." Hany berkata kalem. "Kita tidak bisa terus-menerus hidup seperti ini." Matanya yang hitam menyorot tajam pada Korie.
Korie yang tahu kata-kata Hany benar adanya, terhenyak. "Oke. Kita memang tidak punya masa depan." Ucapnya lemah, melirik ke lorong yang mengarahkan ruangan di mana anak-anak yang lebih muda dari mereka sedang beristirahat. "Tapi jika kita melawan, kita bisa mati."
"Lebih baik mati secara terhormat," kata Del. "daripada mati membusuk di dalam terowongan."
"Kau ingin dianggap pahlawan ya?" Ledek Anya. "Orang-orang dewasa itu punya pistol. Kau akan tetap mati mengenaskan pada akhirnya."
Edgar merasa tidak enak mendengar anak-anak di depannya ini mengungkit tentang kematian dengan begitu akrab. Tapi mungkin topik kematian telah sering mereka bahas dengan kondisi mereka yang begitu menyedihkan karena harus tinggal di dalam terowongan.
"Menurutmu berapa persen kemenangan kita?" Del melontarkan pertanyaan pada Edgar.
Edgar terdiam sesaat. "Aku juga tidak tahu." Jawabnya dengan jujur. "Aku hanya mengharapkan kemungkinan yang terbaik saja."
"Ck, dia saja tidak yakin." Gerutu Korie. "Apakah kita harus mempercayainya?"
"Kalau bukan dia, siapa lagi?" Tanya Del. "Dia bocah dari kota yang bisa sampai di Siprus. Pasti ini adalah takdir kita bertemu dengannya."
Edgar baru saja memikirkan hal yang sama dengan Del. Ya, ini pasti takdir kan?
"Aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk kalian," Edgar berkata. "Jika keadaan semakin memburuk, aku akan mencari kesempatan untuk kabur ke luar kota, lalu mencari bantuan untuk kalian."
"Kenapa?" Tanya Anya.
Edgar menoleh pada Anya.
"Kenapa?" Ulang Anya dengan sorot meragukan pada Edgar. "Kenapa kau sampai ingin mempertaruhkan nyawamu untuk kami?" pasang matanya yang persis dengan Hany menghujam Edgar. "Kau kan orang asing?"
Pertanyaan Anya membuat Edgar dikepung oleh sorotan menuntut jawaban. Tentu aneh sekali ada bocah seperti Edgar yang ingin terlibat bahkan sampai mau mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan orang yang tidak dikenalnya.
"Yah," kata Edgar, agak gugup mendapatkan sorotan curiga itu. "Mungkin aku terlalu berlebihan. Tapi aku benar-benar serius peduli pada kalian."
"Aku percaya padanya," Gail, anggota termuda, memberikan pendapat gamblang yang menyebabkan mereka semua berhenti memandang Edgar. Edgar pun bernapas lega setelah lolos dari kepungan batin itu.
"Anak aneh," gerutu Korie. "Bagaimana?" Tanyanya pada Del.
Del mengangguk. "Aku ingin mencoba."
"Ya, aku juga." Sambut Hany.
Anya yang masih keberatan menghela napas mendengar persetujuan Hany. Dia mengangguk, tampaknya terpaksa demi saudara kembarnya. "Aku ngikut deh."
"Ya. Aku juga." Lim yang gugup mengangguk meski dahinya sudah berkeringat dingin.
Lalu semua pasang mata berpindah pada Korie yang belum menyatakan persetujuannya.
Korie menghela napas keras. "Baiklah." Ujarnya dan disambut senyum lega teman-temannya. "Pastikan kalian semua siap dan berhati-hati."
--
Edgar tidak dapat menentukan perubahan waktu di dalam terowongan. Sesaat lalu dia masih terlelap sebentar dan sekarang ia sudah berjalan menelusuri lorong bersama Korie dan Gail, menjauhi tempat berkumpulnya anak-anak terowongan.
"Aku merasa bersemangat," bisik Gail pada Edgar. "Kami tidak pernah mengambil resiko sebesar ini. Apalagi dengan mempertaruhkan banyak nyawa."
Edgar melirik pada Korie yang berjalan di belakang, sepertinya Korie tidak mendengar kata-kata Gail barusan. Pilihan kata Gail yang menyebutkan "mempertaruhkan banyak nyawa" terasa berlebihan, dan jika Korie mendengarnya pasti akan membuat Korie bertambah keberatan dengan rencana pemberontakan mereka yang berbahaya.
"Bagaimana kau bisa masuk ke dalam tim operasi?" Edgar bertanya dengan suara rendah pada Gail. "Kau terlalu muda untuk mengambil resiko."
Gail menyengir lebar. "Aku baru setahun bergabung." Ujarnya dengan bangga. "Korie yang memilihku. Tim operasi kekurangan anggota. Mereka mengetes anak-anak dari usia 13 tahun hingga yang tertua. Aku lah yang memenuhi kriteria."
Edgar memikirkan penilaian Korie terhadap Gail. Selain bocah dengan aura positif dan ceria, Gail juga adalah pelari tercepat. Tapi usia Gail terlalu muda. Sementara di luar sana mereka akan berhadapan dengan orang-orang dewasa.
"Setelah semua orang dewasa tertangkap, kami sempat berpikir jika ini adalah akhir bagi kami semua. Namun Korie dan Del maju untuk memimpin kami. Mereka berdua meyakinkan kami jika kami masih dapat terus melanjutkan hidup jika punya niat untuk hidup. Sebab, di luar sana masih ada banyak anak-anak yang akan dikorbankan. Jadi sudah seharusnya lah kami melanjutkan tim operasi untuk menyelamatkan anak-anak itu."
Edgar membayangkan Korie dan Del pada dua tahun lalu maju dengan tekad untuk melanjutkan tim operasi ketika semua orang dewasa telah meninggalkan mereka. Sungguh suatu keberanian yang luar biasa.
"Bagaimana perasaanmu ketika pertama kali bergabung di dalam terowongan?" Tanya Edgar.
"Hmm, itu..." Gail terdiam sebentar. "Jelas aku sangat ketakutan ketika mereka membawaku pergi ke tempat ini. Yang kuingat..." Ada nada malu yang tertangkap dalam pendengaran Edgar.
"Aku sering merengek meminta mereka untuk mengembalikanku ke atas. Aku ingin kembali ke area perawatan. Aku benar-benar tidak bisa menerima...." Ia menghela napas, membentangkan tangannya pada dinding terowongan. "...ini."
"Lalu?" Edgar tidak bisa membayangkan bocah periang dengan sisi positif yang besar pernah menjadi bocah perengek. Pasti ada sesuatu yang merubah Gail.
"Aku bertemu ibuku," Gail mengedikkan bahu lalu tersenyum. "Ibuku termasuk dalam tim operasi. Tapi sayangnya... Ibuku tertangkap." Nada pahit terdengar jelas dari suara Gail.
"Maaf." Kata Edgar.
"Tidak apa-apa. Sebentar lagi kita akan menyelamatkan ibuku."
Edgar tersenyum melihat Gail yang kembali ceria dan antusias. Dia benar-benar berharap Gail berhasil menyelamatkan ibunya.
--
Korie membukakan pintu gorong-gorong, lalu mereka bertiga memanjat keluar. Udara lembab terowongan digantikan udara bumi yang menyegarkan, meski bercampur dengan bau amis ikan.
"Pintu gorong-gorong ini adalah perhentian terakhir kita." Kata Korie. "Di sana ada pasar. Cukup ramai untuk membuat keributan yang kau inginkan." Katanya dengan nada ketus pada Edgar.
Edgar mengangguk mengerti. Saat ini mereka bertiga berdiri di gang sempit yang diapit oleh dua bangunan bertingkat. Jalanan aspal di bawah kaki mereka tidak rata, becek dan penuh sampah. Di luar gang terdengar aktifitas orang-orang dewasa yang sedang melakukan transaksi jual beli.
"Lewat sini," ajak Korie. Mereka bertiga masuk lebih ke dalam pada gang sempit itu. Kemudian berbelok menelusuri gang sempit lainnya.
"Di sana ada penjaga patroli," Korie mengajak mereka berhenti. Ia menunjuk keluar gang. "Kalian berdua bisa muncul di sana. Tentu para orang dewasa akan tertarik dengan kemunculan kalian berdua." Ia memandang gugup pada Edgar dan Gail.
Edgar tidak menunjukkan ekspresi sementara Gail yang polos tampak b*******h.
"Oke, mari buat keributan." Edgar berkata. Ia menoleh pada Gail dan Gail mengangguk setuju.
"Hei," Korie menahan lengan Edgar.
Edgar menoleh kepadanya.
"Pastikan Gail selamat." Ujar Korie, kikuk. Sepertinya ia gagal mengucapkan kata berikutnya dan menggantinya dengan : "Sudah. Pergi sana."
--
Edgar dan Gail berjalan memasuki pasar yang ramai. Bau amis daging hasil sembelih bercampur aduk dengan bau manusia hidup. Pasar itu begitu kumuh beserta dengan penjual dan pembelinya. Edgar belum pernah melihat tempat ini. Dari sekian lokasi Siprus yang sepi senyap yang dipamerkan oleh Mithya, pasar ini adalah tempat yang paling ramai yang ia temui. Hal ini menunjukkan bahwa Siprus masihlah sebuah kota berpenduduk.
Edgar dan Gail membaur di antara keramaian itu. Tentu tak berapa lama keberadaan Edgar dan Gail menarik perhatian orang-orang di sana.
Para pedagang dan pembeli membelalakkan mata, ternganga melihat Edgar dan Gail, dua orang anak muda yang berpenampilan cukup bersih, berjalan di tengah-tengah pasar yang kumuh yang dipenuhi orang-orang dewasa berusia lanjut.
"Anak-anak..." Bisik mereka tertahan, terkejut tak percaya. Bagaikan melihat hantu di siang bolong.
"Kenapa mereka di sini?"
"Seharusnya mereka berada di area perawatan!"
"Apa yang terjadi?"
"Mereka bilang anak-anak kita lemah dan akan meninggal muda!"
"Oh, bagaimana dengan istriku?"
Kebingungan dan kepanikan itu mulai memadat. Orang-orang mulai mencoba menahan Edgar dan Gail.
"Kalian.... Kalian kenapa berada di sini?" Mereka mendesak bertanya.
"Kalian siapa?"
Gail menjadi panik karena mereka berdua dikerubungi, sementara Edgar mencoba tetap tenang meski napasnya terasa sesak dengan bau badan orang-orang yang mengerubungi mereka karena rasa ingin tahu.
"Menyingkir! Menyingkir!" Terdengar seruan.
Orang-orang yang mengerubungi Edgar dan Gail mundur, beberapa yang tidak bergerak ditodong dan didorong kasar oleh petugas Patroli yang muncul. Edgar dan Gail segera mengangkat kedua tangan mereka masing-masing.
--
Edgar dan Gail dibawa ke Lapas, persis dengan dugaan Edgar. Setelah dibawa berkendara beberapa menit, mobil patroli memasuki Lapas. Edgar dan Gail diturunkan di depan pintu masuk Gedung Inti. Petugas yang membawa mereka melapor pada dua orang petugas yang sudah menunggu di depan pintu masuk.
Setelah melapor, kedua petugas patroli itu undur diri kembali ke mobil patroli mereka untuk melanjutkan tugas.
Edgar dan Gail yang sudah berpindah tangan, diseret memasuki Gedung Inti. Di hall depan, mereka berdua berpisah. Gail dibawa masuk ke dalam sebuah lorong sementara Edgar diseret ke arah yang berlawanan.
Edgar memutuskan untuk tidak melawan dan mengikuti saja petugas yang menyeretnya. Sekali lagi, persis dengan dugaan Edgar, petugas itu membawa Edgar ke ruangan Mithya.
Setelah mengetuk pintu, Edgar didorong masuk ke dalam ruangan. Mithya sudah menunggu di balik mejanya, tak terlihat terkejut.
"Akhirnya..." Kata Mithya. "Duduklah, Edgar."
Edgar patuh duduk di seberang Mithya.
"Nah, tinggalkan kami berdua," Mithya menyuruh petugas yang membawa Edgar untuk keluar dari ruangan.
"Apa yang kau lakukan di pasar itu?" Tanya Mithya. "Kau pasti kesasar."
Edgar tidak menjawab
"Lalu bagaimana kau bisa bersama dengan bocah satunya? Apakah kalian saling mengenal?" Tanya Mithya lagi.
Edgar menggelengkan kepala. "Aku tidak kenal." Ia berbohong. "Di mana Daniel?" Tanyanya.
Namun Mithya tidak langsung menjawab pertanyaan Edgar.
"Kau yakin tidak mengenal bocah satunya?" Mithya mengulang pertanyaan. "Dan di mana kedua temanmu yang lain?"
Pertanyaan Mithya menjelaskan jika Leo dan Sia tidak ada dalam tangkapannya. Entah apakah Edgar harus merasa lega atau khawatir. Kemana mereka berdua? Kenapa mereka pergi tanpa memberikan pesan sama sekali?
"Aku sudah tahu," kata Edgar dan menyukai bagaimana ia berhasil membuat ekspresi Mithya berubah tegang. "Jika semua rumor tentang Siprus itu adalah bohong belaka."