Mainan Baru

1963 Words
"Lo tahu persamaannya Vano sama orang ngitung bintang? Sama-sama nggak jelas." -Kenzo Mahendra Mahardika- Vani meninggalkan laki-laki menyebalkan itu. Pergi berjalan menuju ke ruang kelasnya. Kini Vani sudah sampai di kelasnya. Segera Vani menuju dimana bangkunya berada, setelah sampai dibangkunya, dia menghempaskan dirinya di atas kursi dengan kasar. Adel, Keysa dan Rafa yang melihatnya sedikit penasaran dan terkejut dengan kelakuannya Vani. "Anjir. Kaget gue Van," protes Adel sembari mengelus dadanya. "Bomat," balas Vani kemudian menenggelamkan wajahnya di kedua lipatan tangannya di atas meja. "Lo kenapa sih, Van. Datang-datang udah bad mood aja. Lo, lagi ada masalah?" tanya Keysa bijak. Vani tak mengangkat kepalanya, dia hanya berucap, "Diem!" "Ya kalo lo punya masalah, lo bisa cerita sama kita," nasehat Keysa. Tetapi tak ada sahutan dari Vani. "Gue rasa gue tahu penyebabnya," sela Rafa. "Emang kenapa?" tanya Adel penasaran. Rafa memberikan ponselnya ke hadapan Adel dan Keysa. "Ini." Didalam ponsel itu ada sebuah video, yaitu video Vani yang hampir saja ditabrak oleh seorang laki-laki. Adel dan Keysa masih fokus melihat isi video. Sampai ketika si laki-laki melepaskan helmnya, Adel dan Keysa langsung shock melihatnya. "Gue nggak tahu, kalo Kak Vano sampai segitu beraninya," ujar Adel. "Tapi lo nggak papa kan, Van?" tanya Keysa lembut. Dan Vani hanya menggelang. "Emang Kak Vano ada masalah apa dengan Vani? Atau jangan-jangan dia masih marah soal kemarin pagi?" tebak Adel. "Nggak usah mengada-ada," sela Keysa. Tiba-tiba Vani mengangkat kepalanya. Napasnya terlihat memburu. Dan kedua sudut matanya terlihat memerah. Kedua tangannya mengepal diatas meja. Brak! "Gue benci banget sama tuh cowok breng*sek!" geram Vani. Adel, Keysa dan Rafa hanya terdiam. Pasalnya Vani saat ini memperlihatkan aura kebencian yang tak pernah dibayangkan oleh ketiga temannya. "Gue nggak akan biarin dia menginjak-injak harga diri gue," gumam Vani. "Gue bakal balas dendam ke cowok breng*sek itu." Vani masih bermonolog sendiri. "Udah Van. Udah ya. Sekarang lo fokus dulu sama pelajaran. Tuh Bu Ayu aja udah masuk," ucap Keysa dan Vani hanya menganggukan kepalanya kemudian mengeluarkan buku dan peralatan sekolah lainnya. Bagi Vani suatu masalah harus diselesaikan dan Vani masih mengganggap masalah yang tadi pagi belum selesai. Tapi menurut keluarga Jayachandra mencari ilmu merupakan prioritas nomor satu. Kegiatan pembelajarpun dimulai sampai beberapa jam kedepan. Teng! Teng! Teng! "Terima kasih Bu!" Salam para siswa. "Sama-sama. Dan jangan lupa tugasnya kalian kerjakan. Selamat beristirahat," ujar Bu Ayu. "Baik Bu!" Setelah menunggu Bu Ayu keluar, Vani langsung berdiri dan berjalan keluar kelas. Adel yang melihatnya mencegah Vani. "Eh Van, mau kemana lo?" tanya Adel. Vani berbalik tapi tidak menghampiri Adel. "Menurut lo?" balas Vani dan langsung keluar kelas. "Ayo kejar," ajak Adel sembari menarik tangan kanannya Keysa dengan kasar "Elah woles aja girl, sakit nih tangan gue," protes Keysa sembari mengangkat tangan kanan ke atas. "Sorry. Yuklah keburu mati tuh anak. Enggak tahu aja kalo Kak Vano itu ketua geng motor," terang Adel. "Kok lo bisa tahu?" tanya Keysa penasaran. "Nanti deh gue cerita." Dan akhirnya Adel dan Keysa menyusul Vani dikantin. Sedangkan dikantin suasana sudah ramai. Banyak para siswa yang sudah duduk memenuhi bangku kantin. Vano dan keempat temannya baru saja tiba dikantin. Seperti biasa mereka duduk di bangku kekuasaannya, di pojok kantin bahkan mereka sudah menandai bangku itu dengan coretan stabilo berwarna merah. Dan bagi siswa yang lainnya, bangku itu adalah bangku keramat. Siapa saja yang berani coba-coba untuk duduk dibangku itu bakal berujung dibully oleh Vano dan kawan-kawannya. Tanpa membuang waktu lagi, Vano segera duduk diatas kursinya. Menyilangkan kedua kakinya lalu ditaruh diatas meja. Sedangkan kedua tangannya bersedekap didepan d**a. Dan badannya, dia sandarkan ke dinding yang berada dibelakangnya. "Cak, sono lo pesenin gue makanan. Uangnya minta sama Kenzo," perintah Vano. Cakra yang baru saja mendudukan pantatnya di kursi tepat didepan Vano langsung melototkan kedua matanya. "Kok gue. Kan sekarang gilirannya Galih tuh yang pesen," seru Cakra. "Tapi gue maunya lo yang pesen," balas Vano seadanya. "Tapi gue udah pewe duduk nih," balas Cakra lagi. "Gue maunya lo. SEKARANG!" ultimatum Vano yang tidak bisa dibantah lagi. "Ye titik," balas Cakra yang langsung pergi untuk memesan makanan. "Syukurin tuh Cak. Kalo sama Vano tinggal nurut aja, apa susahnya sih," ejek Galih. Cakra yang belum terlalu jauh segera berbalik badan menghadap Galih dan menyambar botol air mineral yang airnya sisa tak sampai seperempatnya, yang ada disebelah kanan badannya. Dan melemparkan ke arah Galih. Tuk! "Bangke. Dasar Cakra manusia biadab!" seru Galih sembari mengusap-usap jidatnya. Sedangkan Cakra hanya menjulurkan lidahnya dan pergi ke penjual mie ayam. Tiba-tiba kantin penuh oleh suara siulan dari para laki-laki. Ya hal ini menandakan Clarissa dan kawan-kawannya sudah datang, memasuki kantin. Vano yang melihatnya, hanya mengembuskan napasnya kasar. Berdecak karena melihat tatapan berbinar yang diperlihatkan dari matanya Clarissa ke arahnya. Pasalnya Clarissa itu adalah gadis yang sudah lama suka sama Vano, dari hari pertama dia sekolahnya di SMA Abdi Nusa. Dan Clarissa adalah gadis pertama yang berani mengusik ketenangannya Vano di sekolah. Ya memang Vano suka sekali menggombali para gadis. Tapi siapa juga yang suka jika didekati oleh seorang gadis yang sangat agresif kepadanya. Tentu saja Vano tak menyukai hal itu. Begini Vano juga tidak suka dengan gadus yang modelan seperti Clarissa. Memang Clarissa itu cantik malah terlihat oke sekali. Bodynya goals juga terlihat bagus sekali. Tapi ingat Clarissa itu bukan gadis tipenya Vano. Yang suka tebar pesona kesana kesini dan selalu bawa para temannya yang dianggap seperti dayang-dayangnya. "Hai baby," sapa Clarissa sembari mengelus pundak kanannya Vano pelan. "Gue bukan babinya lo. Jauhin tangan lo dari gue!" geram Vano. Tapi Clarissa tak mengindahkan perkataan Vano bahkan Clarissa berani duduk di samping kirinya Vano. Dan meletakkan kepalanya di bahu kirinya Vano. "Gue bilang jauh-jauh dari gue!" peringat Vano lagi, setelah beranjak berdiri dan menatap tepat ke mata Clarissa. Clarissa sempat shock akibat perbuatan dan perkataannya Vano. "Kok kamu begini sih, beib?" ujar Clarissa dengan nada yang dimanja-manjain. Vano menutup kedua matanya dan menghirup napasnya pelan-pelan. Tiba-tiba Cakra datang dengan pesanannya Vano. Karena Cakra keberatan membawa pesanannya milik Vano, buru-buru Cakra menaruh pesanan itu diatas meja. "Woy. Minggir, minggir air panas nih. Air panas!" teriak Cakra membelah keheningan dimeja Vano. "Kurang kenceng, nyet," sewot Galih. "Sewot aja lo manusia purba," balas Cakra. Kemudian Cakra menghadap Vano yang ada didepannya. "Yah Van, kasianilah Clarissa. Biarin dia duduk disini aja napa sih. Ribet amat," ucap Cakra. "Ogah gue. Kalo lo mau, lo aja yang duduk disini," kata Vano sembari akan beranjak ke kursi milik Cakra. "Ya udah, Clarissa duduk sama Abang aja ya?" tanya Cakra kepada Clarissa. Cakra dari dulu memang suka menggoda Clarissa. Tapi tahulah sendiri bagaimana seleranya Clarissa itu yang seperti apa. "Hellow. Gue duduk sama lo?" tunjuk Clarissa tepat didepan mukanya Cakra. "Mending gue duduk aja sama Galih," ujar Clarissa sembari pergi berlalu dan diikuti oleh Aurel dan Vinka, teman dia sejak kelas sepuluh. Setelah Clarissa dan kawan-kawannya pergi, Vano kembali duduk di kursinya. "Cak mana pesanan gue," tagih Vano. "Nih. Satu usus ayam pake sambel darah kucing, Sama satu es jeruk rasa garem pake es batu." "Jorok banget. Emang t***l lo, Cak!" sentak Kenzo. Dan Cakra hanya menanggapi dengan cengirannya. Tapi Vano tak memusingkan perkataan Cakra. Langsung saja Vano melahap mie ayam dengan sangat lahap. Dan malah mengundang tatapan heran dari keempat temannya. Vano yang merasa diperhatikan menghentikan kegiatan mengunyahnya. "Kenapa lihatin gue? Mau gue colok tuh mata?" tanya Vano sinis. "Kok lo fine-fine aja sih, Van?" tanya Galih. "Emang kenapa?" tanya Vano tak sabaran. "Kan tadi si Cakra bilang---" "Makan tinggal makan, sewot amat," balas Vano sembari melanjutkan aksi melahapnya. Tiba-tiba seseorang mengagetkan mereka. Bruak! "Astaghfirullah." "Bajeeenggg!!!!" "Goblokkk!!!" "Annjiiirrr!!!" Itulah jeritan dari Vano, Cakra, Kenzo dan Galih. Sedangkan Zafran seperti biasa tetap bersikap kalem dan memasang wajah datar. Mereka seketika menghadap ke sumber suara. Mereka terkejut dengan kehadirannya Vani. Ya Vani lah yang sudah memukul meja mereka. "Elo Vani kan. Cewek yang tadi pagi hampir ditabrak sama Vano?" tanya Kenzo baik-baik. "Gue nggak ada urusan ya, sama lo. Gue cuma punya urusan sama lo!" teriak Vani sembari menunjuk ke arah Vano. "Nyolot banget sih ini cewek. Ditanya baik-baik juga," ceplos Galih. "Terus masalah buat lo?" tanya Vani sinis. Kemudian Vani menghadap tubuhnya ke arah Vano. "Lo masih punya masalah sama gue," tandas Vani. "Gue?" tanya Vano sembari menunjuk dirinya sendiri dengan sebuah garpu. "Siapa lagi yang tadi pagi hampir nabrak gue!" seru Vani kesal. Dengan santai Vano berjalan mendekati Vani. Setelah berdiri tepat di hadapan Vani, Vano memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Oh, jadi ini masih masalah soal tadi pagi?" tanya Vano yang terlihat terlampau santai. "Jadi lo masih nggak terima?" "Kalo iya emang kenapa?" balas Vani sembari melipat kedua tangannya didepan d**a. Vano memajukan wajahnya ke arah vani, sehingga harum parfum milik Vani tercium sampai masuk ke dalam indra penciumannya. "Kalo gue nggk mau selesain masalah tadi pagi, gimana?" bisik Vano. Setelahnya Vano menegakkan tubuhnya kembali. Vano melihat ada kebencian yang terlihat kentara di dalam kedua manik matanya Vani. Tanpa aba-aba Vani mengangkat telapak tangan kanannya. Saat akan mengenai pipi kirinya Vano, sebuah tangan terlebih dahulu mencegahnya. "Jadi, lo mau nampar gue lagi?" tanya Vano terkekeh sinis. Ya Vano lah yang menghentikan aksi Vani yang akan menamparnya Vano. Vani menggeram marah. Tangannya yang berada didalam cekalannya Vano begitu kuat. Vani mencoba untuk melepaskan dari genggaman tangannya Vano. "Lepasin tangan gue," perintah Vani kepada Vano. "Nggak. Sebelum lo nurut sama gue." "Lo kira, gue babu lo?" kata Vani. Dan Vano hanya tersenyum remeh. Sudah muak dengan kelakuannya Vano, Vani akhirnya mengayunkan tangannya kebawah kemudian memelintir tangan Vano dan dikunci di belakang dipunggung Vano. Vano sempat kaget dengan aksi lancangnya Vani. Vano mencoba melepaskan kuncian ditangannya. Tapi tenaga Vani cukup kuat untuk tidak melepaskan tangan Vano begitu saja. Keempat teman Vano kaget dengan perlakuan Vano kepada Vani. Dan lagi-lagi Vani memperlihatkan keahliannya. Vani menendang kedua lutut Vano dari belakang. Alhasil Vano jatuh ke depan dengan lutut sebagai tumpuannya. Teman-teman Vano tambah shock. Sampai-sampai Cakra dibuat melongo. "Makanya, lo minta maaf sama gue," ujar Vani sembari memukul kepalanya Vano pelan. Vano hanya diam saja. "Minta maaf nggak?!" seru Vani. Tak ada tanggapan dari Vano. Kemudian Vani memukul kepala Vano lagi. "Minta maaf---" dan tiba-tiba perkataan Vani terpotong oleh teriakan dua gadis yang tiba-tiba menyelanya. "VANI!" teriak Adel dan Keysa bersamaan. "Ck, ganggu aja lo berdua," kata Vani malas. Melihat Vano yang, notabenya sebagai kakak kelas sedang dalam keadaan terkunci dan berlutut, buru-buru Adel dan Keysa melepaskan tangan Vani dari tubuhnya Vano. Setelah terlepas, Adel dan Keysa menggenggam kedua tangannya Vani. "Kak maafin temen kita ya," ujar Keysa. Vani yang mendengarnya pun melototkan kedua matanya dengan sempurna. "Dia yang salah. Kenapa lo yang minta maaf. Seharusnya dia yang minta maaf," seru Vani. "Udah lo diem aja. Kalo lo nggak mau mati muda sekarang," bisik Adel di telinga kanannya Vani. "Sekali lagi maafin temen kita, ya Kak. Kami pamit dulu," pamit Keysa. Kemudian Keysa dan Adel menarik Vani untuk kembali ke kelas mereka. Sepeninggalnya ketiga adik kelasnya, Vano segera kembali duduk dikursinya. "Anjir, itu cewek berani bener nantangin elo, Van," kata Cakra. "Gimana rasanya dikalahin sama cewek?" tanya Galih. "Tadi gue nggak kalah. Gue shock aja. Ternyata dia juga bisa berantem," sergah Vano. "Bukannya tipe elo yang seperti dia?" tanya Kenzo yang malah mengundang tatapan heran dari teman yang lainnya. "Kalo dia sih no problem. Dia juga cantik sih. Cuma gue masih heran aja," kata Vano yang malah menambah kebingungan diantara teman-temannya. "Heran kenapa?" tanya Galih. Vano terdiam melihat teman-temannya yang menunggu jawabn darinya. "Kepo banget," balas Vano yang langsung membuat semua temannya mencibirkan bibir. Sampai-sampai Kenzo melempari Vano dengan kulit kacang. Yang malah mengundang senyum tampan dari Vano. "Idih najis lo, kalo senyum-senyum gitu. Udah persis kayak orang gila," seru Cakra. "Bodo amat. Yang penting gue cakep," balas Vano yang langsung melanjutkan memakan mie ayamnya yang tinggak setengah. "Ye si Entong," cibir Galih. 'Akhirnya gue dapet mainan baru lagi' batin Vano kemudian menyeringai tipis sampai tak ada seorang pun yang melihatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD