Tukang Onar

2733 Words
"Cinta. Cinta adalah sebuah perasaan yang terdiri dari lima huruf. C. I. N. T. dan A." -Devano Matteo Adhitama- Hari beranjak sore. Suasana malam yang sangat sepi sangat cocok untuk diisi dengan tidur. Langit cerah dengan ditambah bulan serta bintang berwarna-warni. Menambah kenyamanan yang tiada tara. Tapi hal ini tak berlaku untuk sebuah rumah yang berada di ujung perumahan elit Pondok Agung. Ya itu adalah rumahnya Vano. Papa dan mamanya Vano sedang berada di luar kota, sebab keperluan pekerjaan papanya yang mendadak. Dan Vano adalah anak tunggal. Jadi untuk saat ini Vano bebas mengundang teman-temannya ke rumah. Sejak satu jam yang lalu, Vano sudah berkutat didepan televisinya untuk bermain Play Station miliknya. Sebuah mobil Verarry merah, tiba di halaman rumahnya Vano. Tok! Tok! Tok! Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Vano hanya melihat daun pintu kemudian memutar kedua bola matanya malas. Vano pun melanjutkan permainanya. Tak berapa lama terdengar ketukan di pintu lagi. Dengan malas Vano menekan konsol gamenya dan beranjak untuk membukakan pintu. Setelah pintu terbuka, terlihatlah keempat wajah tengil yang tak berdosa di depan pintu rumahnya "Mau ngajak ribut?" tanya Vano menahan kesal. "Loh Van, kita kan mau bertamu. Kita nggak ngajak ribut lo kok," jawab Cakra dengan tampang polosnya. "Kalian udah bikin gue kalah game barusan," kata Vano garang. "Lagian kalo dirumah gue kalian langsung main nyelonong aja. Kenapa sekarang segala pakai acara ketok pintu?" "Tau tuh si Cakra, kutu kupret satu," sela Galih. "Kita sebagai tamu wajib dong, berlaku sopan," balas Cakra dengan bangganya dan malah mengundang keempat tangan yang dengan senang hati singgah dikepalanya. "Aaaww.... KDHP nih. Kekerasan dalam hubungan pertemanan!" bentak Cakra marah namun diabaikan oleh keempat temanyya. "Ya udah masuk," sahut Vano sembari membukakan pintu lebih lebar. "Langsung naik ke atas!" perintah Vano. "Siap bos," balas si Cakra. Sedangkan tiga teman yang lainnya sudah mulai menaiki tangga. "Jangan lupa kunci pintunya. Dan kuncinya ditaruh di meja televisi," perintah Vano lagi. "Siapa yang lo suruh? Gue?" tanya Cakra saat sudah tiba di anak tangga terakhir. Pasalnya semua temannya sudah masuk ke dalam kamarnya Vano. "Siapa lagi yang jadi babu selain elo disini?" ejek Vano tanpa perasaan. "Kampr*et! Ganteng gini dibilang babu," pungkas Cakra. "Handsome? Nggak punya kaca lo dirumah. Tuh gue pinjemin. Muka kayak p****t gorila aja dibilang ganteng. Ganteng itu yang kayak gue," ujar Vano sembari menyugar rambutnya kebelakang dengan gerakan berkarismanya. "Iye iye. Yang ganteng mah bebas. Yang jelek mah bisa apa?" putus Cakra memelas. "Ngaku jelek, lo?" tanya Vano sembari menaikkan satu alisnya ke atas. "Dah sana kunci pintunya. Awas aja sampai rumah bokap gue kemalingan. Gue gantung lo di tiang bendera besok." "Dasar cogan," ucap Cakra sembari menggembungkan kedua pipinya. "Muka lo nggak usah digituin. Bikin gue eneg aja lihatnya," Vano terus membully sohibnya. Dan karena selalu kalah, akhirnya Cakra tak menggubris omongannya Vano lagi. Vano kemudian mengikuti ketiga temannya yang lain masuk ke dalam kamarnya. Disana seperti biasa, Zafran akan mengeluarkan ponselnya dan langsung terjun bermain game online sembari duduk di balkon. Zafran memang tak seperti teman yang lain. Zafran cenderung lebih pendiam. Tetapi jangan salah, meskipun hobinya main game, Zafran tetap menjadi si genius yang dingin. Memang Zafran masih jomblo. Bukan karena tidak laku. Tapi Zafran sangat acuh kalau sudah menyangkut perasaan dan perempuan. Sedangkan Kenzo dan Galih sudah asyik baku hantam di depan televisi. Mereka berdua ini, seperti kakak adik. Selalu bersama dan kompak. Tapi soal kewarasan masih terlihat normal si Kenzo, meskipun mereka berdua tidak waras sama sekali dimata Vano. Tanpa permisi, Vano mengambil konsol game yang sedang dipakai oleh Galih. "Yah, yah Van, kok lo rebut sih?" protes Galih. "Siapa yang rebut? Ini kan milik gue," jawab Vano santai. "Y-ya bener juga sih. Tapi kan gue lagi main." "Lo kalo main pasti noob, sekalian aja nggak usah main. Baca buku aja sono, biar pinter," tandas Vano yang malah berlanjut menasehati. "Elo juga go*blok kenapa nyuruh gue belajar," protes Galih lagi. "Karena gue cowok bodoh yang ganteng," jawab Vano enteng. "Emang apa hubungannya bodoh sama ganteng?" tanya Kenzo saat mendengar ucapan Vano yang absturd itu. "Ya nggak ada sih," cengir Vano. "Ye si Ujang ngelantur aja," ceplos Galih yang langsung mendapat pelolotan dari Vano. "Mending gue video call-an aja sama ayang bebeb." "Jones gitu sok bilang punya pacar." Siapa lagi yang bilang sesadis ini kalo bukan Vano? Galih hanya menyibir sembari melangkah melewati Vano menuju ke sofa yang berukuran besar. "Halo ayang bebebku, lagi apa? Oh lagi makan ya ternyata," sapa Galih saat melakukan video call dengan seseorang. Vano yang melihat pun sempat terpana. Karena tak menyangka jika Galih bisa memiliki seorang kekasih. "Zo, emang si Galih udah punya pacar?" tanya Vano kepada Kenzo yang ada disampingnya. Cakra yang berada tepat dibelakang Vano dan Kenzo pun menyahut. "Udah. Lonya aja yang nggak peka. Punya temen itu ya diperhatiin, bukan malah dibully doang," sindir Cakra sembari melirik sinis ke arah Vano. Vano hanya mendengus kesal. "Enggak. Itu cuma Ara, adik kecilnya," jawab Kenzo. Seketika Vano tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha.... Ampun Gal. Lo segitu jonesnya, adik lo, lo anggap pacar juga. Ini emang si Galih yang nggak laku, apa emang otaknya lagi miring?" ujar Vano yang masih tertawa. "Ya mendingan gue, ada yang sayang. Lah elo mana. Pacar aja nggak punya," balas Galih sembari masih bercakap-cakap dengan adiknya lewat ponsel. "Ya mendingan gue dong. Seenggaknya gue ganteng dan banyak yang suka," kata Vano membela dirinya sendiri. "Ya terserah lo aja dah," Galih memilih untuk mengalah. Vano dan Kenzo melanjutkan permainannya. Sedangkan Galih menutup video callnya. Cakra sedang tiduran sembari chat dengan seseorang. Dan Zafran? Dia masih betah diposisinya sembari bermain game diponselnya. "Hahahaha..." tawa Galih akhirnya memecahkan suasana. "Anjir, kaget gue... Nggak pake ngagetin juga, kan bisa," gerutu Cakra. "Hahahaha... Lucu-lucu," kata Galih sembari mengusap air matanya yang sempat keluar. "Emang lo lihat apaan sih." tanya Cakra yang langsung menghampiri Galih dan ikut melihat isi ponselnya Galih. "Wah anjir gokil abis!" ucap Cakra yang kini ikut tertawa bersama Galih. "Woy anak setan, diem anjir. Gue jadi kalah nih!" teriak Vano galak. "Lihat apaan?" tanya Kenzo yang mulai kepo. "Sini-sini Zo. Pasti gokil deh. Van kalo lo mau ikut lihat juga enggak papa," kata Cakra. "Awas aja kalo nggak lucu. Gue pites pala lo berdua," ujar Vano yang mulai beranjak menuju Galih dan Cakra berada. "Iya iya," jawab Galih sekenanya. Mereka berempat mulai melihat sebuah video yang ada di ponselnya Galih. Tak berapa lama mereka semua tertawa terbahak-bahak, kecuali satu orang. Dan kemudian, "Hahahaha...." tawa Galih pecah. "Whahahaha...." tawa Cakra juga ikutan pecah. "Hahahaha.... Anjjiiir..... Yang buat siapa sih. Mau ngajak ribut Vano niatnya," ujar Kenzo diselingi dengan tertawa setelah ikut menyaksikan isi video. Wajah Vano seketika merah padam. Mati-matian Vano memendam rasa kesalnya. Dan kemudian Vano mengangkat Kedua tangannya keatas. Pletak! Pletak! "Waduw! Nggak ada otak sih, Vano. Sakit bener pala gue," adu Cakra sembari mengusap-usap kepalanya sehabis di gibeng oleh Vano. "Mentang-mentang suka mukulin orang, temen sendiri juga ikutan kena pukul," kata Galih menimpali. "Lo berdua tadi bilang lucu. Ini sama sekali nggak lucu," balas Vano sambil emosi. "Wow wow wow. Santai broder, nggak usah pake emosi juga," nasehat Kenzo. Emang Kenzo yang bisa menyelamatkan Galih dan Cakra dari amukan ganasnya Vano. 'Kenzoooo... I Love You' batin Cakra merasa terselamatkan. 'Abang Kenzo aku padamu' batin Galih. "Lah gimana gue nggak emosi. Itu gue anjir. Udah gitu video gue diedit kayak mimi peri lagi. Siapa sih yang bikin videonya. Mau gue cukil tuh otak," geram Vano sembari memukul telapak tangan kirinya sendiri. "Santuy broder," ceplos Cakra. "Santuy? Lo bilang santuy? Ini menyangkut harga diri gue. Harga diri gue udah ternodai," kata Vano menggebu-gebu. "Lah emang udah ternodai kan dari tadi pagi. Saat si cewek adek kelas itu. Hahahaha...." ucap Galih menimpali. "Oh, lo mau ngajak ribut gue ya, Gal. Sini gue sleding lo," ujar Vano sembari mendekati Galih. "Ampun! Sorry lah, Van," kata Galih dengan puppy eyesnya. "Sorry sorry, emang gue Super Junior?" ucap Vano sembari mendelik kesal. Kemudian Vano menyambar permen milkita diatas meja. "Emang siapa yang nyebarin videonya?" Kenzo berusaha mengambil perhatian Vano. "Nggak tahu. Cuma dapet dari website sekolah," balas Galih setelah melihat isi ponselnya lagi. "APA! Website sekolah. Awas aja kalau sampai ketemu tuh anak, gue bakal bikin dia nggak betah hidup di sekolah," ultimatum dari Vano. "Sebenarnya gue penasaran sama tuh cewek. Dia kok nggak mempan lo gombalin sih, Van?" tanya Kenzo yang memang berniat untuk mengalihkan perhatiannya Vano. "Mana gue tahu," balas Vano setelah mengedikan bahu. "Mungkin jimat semar mesem punya lo udah nggak berfungsi," tebak Cakra. "Heh bocil, gue nggak suka pake kayak gituan ya. Enak aja, gue difitnah pake jimat. Sorry-sorry aja," tukas Vano terlihat tak suka dengan gagasannya Cakra. Memanglah Vano tak pernah menggunakan jimat. Dia ganteng memang dari lahir. Sebagus itulah takdir Vano. "Berarti, itu cewek yang pertama ngalahin kekuatan gombalan punya lo dong?" ujar Galih. "Hem bener juga. Kok gue jadi ikutan kepo ya," Vano terus membayangi ucapannya si cewek itu saat pagi hati dan waktu di kantin tadi. 'Kok gue jadi kepoan gini sama itu cewek?' batin Vano memberontak. Semua terdiam. Menciptakan keheningan yang pertama kali terjadi. Mereka semua terus mengingat akan siapa sebenarnya perempuan itu. Perempuan yang tak lain adalah Vani. "Nah gue tahu, gue tantang lo buat kenalan sama dia, besok," ungkap Cakra memecah keheningan. "Apa hubungannya t***l!" balas Galih. "Itu sih kecil," kata Vano "Kalo gue bisa kenalan sama itu cewek apa taruhanya?" tantang Vano kembali, sembari menampilkan senyum miringnya. "Ya nggak ada taruhannya dong," gerutu Cakra sambil cemberut. Pasalnya jika ingin menantang Vano harus selalu ada taruhannya. Dam tentu saja Vano berbesar hati, karena apapun bentuk taruhannya Vano selalu bisa menyelesaikannya dengan sangat mudah. "Gue traktir makan buat lo, selama seminggu," kata Kenzo. "Oke deal," jawab Vano tegas. "Tapi kalo lo kalah, lo jadi babu gue selama seminggu," ultimatum Kenzo. Melihat Vano yang akan protes segera Kenzo menambahkan. "Nggak ada protes, kalo lo protes berarti gombalan maut lo emang udah nggak berfungsi." Dan Vano cuma bisa menampilkan muka masamnya yang justru menambah kesan imut ditampangnya. 'Kelihatannya itu cewek berbeda dari pada cewek yang lainnya. Bodo amat pikir besok aja' batin Vano yang merasa pusing memikirkan siapa Vani yang sebenarnya. *** Keesokan harinya disekolah.Vano dan keempat temannya sudah menunggu seseorang didepan pintu gerbang. Kenapa didepan pintu gerbang? Kenapa tidak di lapangan aja? Jawaban dari Vano hanya satu dan simpel, hanya ingin menggombali kaum hawa. Emang hidup Vano tidak bisa jauh-jauh dari menggombal perempuan. Mereka duduk-duduk manis diatas motor sportnya masing-masing. Menciptakan suasana berisik yang dihasilkan dari gadis-gadis ketika melihat kelima mostwanted disekolahnya. Vano melihat dua gadis yang sedang melintas didepannya. Kemudian Vano membuang permen yang tinggal setengahnya, ke sembarang tempat. Gombalan time is comming. "Hai cewek," sapa Vano sembari menyisir rambutnya kebelakang. "Ah Kak Vaaannnnooooo!" jerit kedua gadis itu kegirangan. "Pagi-pagi udah bikin perut gue mules aja, Van," ujar Kenzo. "Syirik aja lo, Zo." "Kak boleh minta id linenya nggak?" tanya salah satu gadis yang dia sapa tadi. "Waow, bar-bar kali ini cewek," ucap Galih tepat ditelinga Vano. Tapi Vano tak menggubrisnya dan malah memperlihatkan senyum menawannya. "Boleh. @Vano_matteo, ya," balas Vano. Seketika kedua adik kelasnya itu mengetikan username milik Vano di ponselnya masing-masing. "Makasih Kak. Nanti jangan lupa disave ya, kak," pinta gadis yang satunya. "Siap cantik," balas Vano. "Ya udah Kak. Kita duluan ya," kata temannya si gadis adik kelasnya. Dan Vano hanya menganggukan kepalanya. "Udah kayak iklan aja lo, Van. Diumbar kemana-mana," sindir Cakra. "Iri lo? Makanya jadi orang tuh yang cakep, biar banyak yang suka," balas Vano. "Gitu aja bangga," balas Cakra sengit. Mereka masih menunggu orang itu. Sesekali diiringi canda tawa. Zafran yang notabenya laki-laki terdingin hanya memainkan game didalam ponselnya. Hingga suara senandung seorang gadis yang sedang berjalan dengan headphone terpasang ditelinganya, menarik perhatian kelima laki-laki yang sedang duduk diatas motornya masing-masing. "Noh Van, korban lo udah datang tuh," ujar Kenzo. Dan Vano langsung turun dari motornya. Sedangkan keempat temannya memilih untuk tetap duduk diatas motor. "Hai cantik," sapa Vano ketika sudah berdiri didepan gadis itu. "Lo lagi," jawab gadis itu malas. "Boleh kenalan nggak? Boleh ya?" tanya Vano sedikit memaksa. Sedangkan si gadis lebih memilih melanjutkan perjalanannya. "Woy tunggu!" teriak Vano segera menyusul gadis itu. Vano memutar tubuh gadus itu sehingga kini menghadapnya. Vano meneliti seragam gadis itu, dan tidak menemukan badge nama disana. "Nama lo siapa?" tanya Vano lembut. "Nama gue, nggak penting buat lo. Minggir!" ujar gadis itu ketus. Ketika gadis itu akan melangkah lagi, Vano segera menghadang jalannya. "Gue cuma mau tahu nama lo doang. Susah amat sih," ucap Vano yang sedikit kesal. "Ya kalo gue nggak mau, nggak usah dipaksa," balas gadis itu. Gadis itu melangkahkan kakinya ke kanan tapi Vano segera mencegahnya. Gadis itu berjalan ke kiri dan Vano juga mengikuti langkah gadis itu ke kiri. Hal ini membuat gadis itu geram kepada Vano. "Mau lo apa sih!" tanya si gadis emosi. "Kan tadi udah gue bilangin. Gue cuma mau tanya nama lo doang," kata Vano sembari tersenyum smrik. "Udah deh, nggak usah cari gara-gara," ujar gadis itu. "Siapa juga yang cari gara-gara," balas Vano santai. Vano mendekati gadis itu hingga jarak hanya tersisa sedikit. Karena gadis itu yang tingginya hanya sebatas dagu, Vano akhirnya mensejajarkan wajahnya dengan wajah gadis itu. Membuat si gadis sedikit menjauhkan wajahnya ke belakang. "Gue cuma mau kenalan sama lo, tapi kalo lo nggak mau, gue bisa ngelakuin sesuatu hal yang pastinya nggak terduga, ke elo. Mungkin nabrak lo pake motor gue nggak buruk juga. Urusan gue bakal dipenjara, gue sih fine-fine aja. Gimana?" ucap Vano lagi. Gadis itu terlihat meremehkan. "Tabrak aja gue, kalo lo emang berani," tantang gadis itu. "Oke." Vano segera pergi meninggalkan gadis itu sendirian, dan gadis itu tanpa peduli tetap melanjutkan perlajanannya. "Van gimana, kok malah lo tinggal pergi?" tanya Galih. "Diem aja b**o," balas Vano. Vano segera menyalakan motornya dan menghampiri gadis tadi. Vano menambahkan laju motornya. Semua yang melihat aksi Vano pun terlihat sangat syok. Apalagi dengan keempat temannya Vano. Mereka tak mengira Vano akan menabrak gadis itu. Motor Vano semakin mendekati si gadis, tapi si gadis masih belum menyadari dan masih berjalan membelakangi Vano. Anak-anak yang lainpun segera memperingati gadis yang akan Vano tabrak. Akibat suara gaduh dari anak-anak di sekelilingnya, akhirnya gadis itupun menghadap ke belakang tepatnya ke arah Vano. Vano sempat melihat ekspresi gadis itu. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir milik si gadis. "Woy Van, lo jangan gila. Kasihan tuh cewek!" teriak Kenzo. "Vano lo emang udah gila. Jangan bikin masalah disini, Van!" teriak Galih. "Fix Vano udah gila," ujar Cakra sembari sembunyi dibalik tubuh Zafran. Sedangkan Zafran hanya diam saja. Motor Vano semakin mendekati tubuh si gadis yang hanya diam mematung. Hingga akhirnya tinggal tiga meter lagi, Vano akan menabrak gadis itu. "OKE! GUE BAKAL KASIH TAHU NAMA GUE!" teriak cewek itu. CIT! Dan saat bersamaan motor Vano nyaris saja mengenai tubuh gadis itu, hanya tersisa sepuluh senti. Pernyataan gadis itu akhirnya mengundang senyum lebar dari Vano. Terlihat gadis itu mengelus dadanya berulang-ulang dan mengatur napasnya. "Jadi, siapa nama lo?" tanya Vano setelah melepaskan helmnya dan menaruhnya didepan dadanya. "Devani. Devani Puspita Jayachandra. PUAS LO!" "Puas banget. Tapi sebenarnya gue nyesel, kenapa gue nggak nabrak lo sekalian aja ya?" kata Vano sembari memasang watadosnya. "Dasar cowok gila," kata Vani dan segera meninggalkan Vano ditempat. Vano yang melihat reaksi Vani hanya tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha. Imut banget tuh cewek," kata Vano dan tanpa disadari Sebuah tangan akan menghantam kepalanya. Pletak! "Anjir sakit g****k!" seru Vano. "Gila lo Van. Kalo tadi lo jadi nabrak cewek itu, gue orang pertama yang langsung narik lo ke penjara," kata Kenzo. Perkataan Kenzo malah membuat Vano tertawa lagi. "Hahaha. Kalian gokil banget," tawa Vano pun pecah kembali. "Gokil ndasmu," balas Cakra sarkas. "Mukanya dia itu loh, lucu banget," ucap Vano sembari mengusap air matanya yang keluar. "Jadi gimana?" tanya Galih. "Gue udah dapet," jawab Vano. "Siapa?" tanya Kenzo. "Devani. Devani Puspita Jayachandra," jawab Vano bangga. "Jadi, lo harus traktir gue selama seminggu, Zo." "Oke." "Kenapa lo malah milih langkah yang tadi sih," protes Galih. "Ingin aja. Biar anti mainstream," balas Vano diikuti oleh cengirannya. Semua keempat temannya memutar bola matanya kemudian segera meninggalkan Vano sendirian. Dan lebih memilih memakirnya motor mereka masing-masing diparkiran. "Woy tungguin napa!" seru Vano. "Bodoamat. Gue nggak kenal lo," balas Kenzo. "Susah banget punya temen titisan dajjal," kata Vano dan langsung mengikuti teman-temannya. 'Gue bakal bikin lo tunduk kepada gombalan gue. Tunggu aja.' batin Vano dengan penuh tekad. Dan tak berapa lama bel akhirnya berbunyi. Membuat Vano berdecak langsung menyusul temannya masuk ke area parkir sekolah. Teng! Teng! Teng!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD