Bab 5 - Percobaan pertama

1320 Words
Suara adzan subuh yang berkumandang sayup dari alarm ponsel yang sengaja ku atur membuat mataku terbuka. Beberapa kali, menerjapkan mata dan menguceknya dengan tangan kiri agar mata lima watt ini benar-benar sadar. Bergegas, aku bangkit dari ranjang, membuka jendela dan melihat hari masih berwarna biru malam, dengan di bagian bawah sudah mulai menerang. jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi. Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri untuk berusaha keras untuk mencairkan dinding es itu. Dan satu-satunya cara yang terpikir olehku adalah dengan makanan. Aku sampat membaca artikel yang mengataka bahwa pria bisa saja jatuh cinta karena makanan. Kekehanku keluar begitu saja saat pemikiran konyol dan tak masuk akal itu sempat terpikir olehku tadi. Come on, Rani .... apa yang ada dalam pikiranmu? Apa yang kamu harap dari pria dingin bermata abu yang tiba-tiba jadi suamimu itu? Aku memukul jidatku pelan, merutuki kebodohanku yang memikirkan hal yang tidak-tidak itu sebelum akhirnya mengikat rambut sembarangan dan berjalan keluar kamar untuk mengambil wudhu. Setelah sholat subuh, baru aku akan memasak untuknya. Tak butuh waktu lama bagiku untuk kembali ke dapur. Rasa ngantuk yang kurasakan tadi perlahan menghilang setelah terkena air wudhu tadi. Langkah kakiku berjalan menuju kulkas melihat apa saja yang bisa kubuat. Kuputuskan untuk membuat ayam goreng mentega dan tumisan sayur untuk makan siangnya, sedangkan sarapan. Mungkin scramble egg, sosis da roti bakar cukup untuk pria itu. Butuh satu jam bagiku untuk menyelesaikan semua masakan. Aku sudah berhasil membuat capcai, ayam goreng mentega dan tak lupa sambal. Melihat bagaimana pria itu menghabiskan sambal yang mama buat kemarin malam, membuatku yakin bahwa pria itu suka pedas. Setelah meletakkan dua piring berisi sarapan pagi, aku berjalan menuju kamar pria yang sudah sebelas hari menjadi suamiku itu. kata ‘suami’ yang terlintas begitu saja membuat wajahku terasa panas. Kukipasi wajahku mengurangi rona merah yang mungkin terlihat. Kutarik napasku dalam, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamarnya. Belum sempat mengetuk pintu kamarnya, pria itu sudah terlebih dahulu membuka pintu sehingga membuat tubuhku membeku. Mataku membulat, bahkan tanpa sadar napasku tertahan saat mata kami saling bertatap.Dia terlihat sama terkejutnya denganku, sebelum tatapannya berubah kembali menjadi dingin dan tajam seperti stalagmit es di kutup utara sehingga membuatku tanpa sadar menundukkan kepala. “i-itu s-sarapan sudah siap,” ujarku gugup, meneguk air liurku guna membasahi kerongkonganku yang tiba-tiba kering. Aku menunggu lama namun pria bernama Alfian Abiyaksa ini tidak juga membalas ucapannya. Kepalaku menunduk tak berani mengangkat. “Aku tidak terbiasa sarapan sepagi ini.” Telingaku memekak saat mendengarnya pertama kali mengeluarkan suara setelah beberapa hari, aku merasa seperti hidup dengan robot di apartemen ini. Aku menarik napas dalam sebelum kemudian entah mendapat kekuatan dari mana sehingga membuatku mengangkat kepala. “Kalau begitu kau bisa bangun lebih siang dan ikut sarapan denganku,” dumelku pada akhirnya. Pria itu sudah mengenakan kemeja kerja biru basic yang berpadu dengan celana kain. Aku menghela napas sembari melihat ke arah jam dinding. Ini bahkan belum jam 6 namun pria dingin ini sudah ingin berangkat kerja seolah sengaja menghindariku. “Lagi pula apa untungnya pergi sepagi ini sih, Abiyaksa Holding bahkan tak sampai setengah jam dari apartemen ini,” ujarku lagi membuatnya seolah tak berkutik. Aku merasa pria itu merasa tak enak mendengar sindiran yang aku keluarkan. Kulihat dia menghela napas dalam sebelum kemudian mengangguk. Ya Tuhan .... kenapa mama memintaku untuk menikah dengan pria irit bicara ini? Jika saja, dia tadi tak bicara aku bahkan mengira dia adalah manequine pria yang ada di mall. Aku pun hanya ikut mengangguk saat pria itu pada akhirnya berjalan ke arah meja makan kecil yang ada di dekat dapur. Dia terlihat terkejut dengan piring berisi English Breakfast yang sudah tersedia di meja makan. “Aku tak tahu kau suka makan makanan berat saat sarapan atau makanan seperti ini,” ujarku saat melihatnya kini duduk. Mengambil saos sambal yang tersedia di meja lalu menuangnya ke piringnya. Ternyata Pria itu memang menyukai makanan pedas. Aku tersenyum saat melihatnya terlihat memakan dengan lahap. Langkahku berjalan ke arah dapur untuk membuatkannya kopi. Bukankah semua pekerja di perusahaan selalu minum kopi hitam pahit sebelum pergi ke kantor? Jujur, sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan kepada pria dingin itu. Tapi entah mengapa, mulutku seolah membeku saat tatapan tajam itu terarah ke arahku. Aku menggelengkan kepala mencoba fokus kepada alat pembuat kopi yang ada di rumahnya. Dari malam tadi, aku sudah belajar di Youtube cara menggunakan alat ini. Aku mengikuti seluruh arahannya, menunggu mesin itu memproses kopi panas sembari berharap bahwa dia tak kecewa dengan kopi pertama yang aku buat. Setelah selesai, aku kembali berjalan dan memberikannya kopi hitam tanpa gula ke arahnya.  “Uhuk ... uhuk ...” Pria itu tersendak begitu melihatku menyodorkan kopi untuknya. Dengan cepat, aku menuangkan air putih dan kembali memberikan ke arahnya, “Pelan-pelan ...” ujarku setengah berbisik yang dijawabnya dengan anggukan. “Terima kasih ...” ujarnya singkat, tanpa sadar membuat rona merah itu kembali terlihat. Kutatap dia yang kembali memakan makanannya, “Itu Amerikano, kau mau aku tambahkan gula atau creamer?” tanyaku kembali memberanikan diri. Aku mengikuti ucapan Mama yang mengatakan bahwa aku harus proaktif di depan pria pasif seperti Alfian. Walaupun pernikahan ini tak terelakkan, bukan berarti aku ingin pernikahan ini cepat berakhir. Prinsip hidupku adalah sekali aku terikat dengan orang lain maka aku tak akan pernah melepasnya kecuali jika orang itu memintaku untuk pergi. “Seperti ini saja ....” ujarnya lagi singkat menyadarkan lamunanku. Aku melihatnya sudah menyelesaikan sarapan paginya, kemudian menyeruput kopi yang kubuatkan. Terlihat dia menjauhkan cangkir kopinya, sehingga membuat debaran jantungku berhenti berdetak sepersekian detik. “Seburuk itukah kopiku?” “Bukan seperti itu, ini enak ...” ujarnya menjawab ucapanku sehingga membuatku menutup mulut menyadari bahwa aku menyuarakan suara hati yang seharusnya tak dia dengan. Sejenak, aku terpaku saat melihat senyuman tipis pria itu terlihat melihat tingkah konyol yang aku perlihatkan. Ku alihkan pandanganku ke arah lain agar pria itu tak melihat bahwa aku melihat perubahan raut wajahnya yang terlihat sangat tampan saat tersenyum super tipis seperti tadi. Kulihat dia kembali berjalan ke arah westafel dan kemudian kembali mencuci piring sisa makan miliknya. Satu lagi hal lagi yang kuperhatikan dari pria itu adalah dia selalu mencuci piring bekas makannya sendiri dan entah mengapa hal itu membuatku kagum. “Itu ....” panggilku membuat pria dingin yang sudah ingin mengambil tas kerjanya berhenti melakukan aktivitasnya dan kembali mengarah ke arahku. Dengan cepat, aku mengambil bekal yang kubuatkan untuknya lalu menyodorkan kantong kertas itu kepadanya yang kembali hanya ditatapnya dalam diam. Aku kembali menghela napasku dalam melihat dia kembali ingin menolaknya, “Makan siang kamu,” ujarku kembali memberanikan diri. “Aku tahu semua ini terlalu tiba-tiba untukmu. Tapi ... aku harap kamu tetap berusaha untuk menerimanya atau setidaknya memakan masakanku dengan begitu, aku merasa tidak menjadi beban untukmu,” ujarku akhirnya mengeluarkan semua uneg-uneg yang selama hampir dua minggu pernikahan kami ini selalu aku tahan. Kedua tanganku masih menyodorkan tas berisi bekal itu ke arahnya. Aku berharap setidaknya pria itu menerima ketulusan dan kerja keras yang aku lakukan. Kepalaku terangkat saat melihat pria itu akhirnya mengambil tas bekal itu. tanpa sadar, senyum cerahku kembali terlihat saat tas itu berpindah tangan ke tangannya. “Aku pergi dulu ...” pamitnya berjalan ke arah pintu keluar. “Alfian ....” Ini pertama kalinya aku memanggil nama pria itu, langkah kakiku terasa ringan mendekatinya. Tanpa aba-aba ku ambil tangan kanannya kemudian mencium punggung tangan suamiku itu. “Hati-hati di jalan.” Wajah Alfian terlihat tersentak, menatap tangannya yang baru saja aku cium. Sebelum kemudian menganggukkan kepala dan menutup pintu. Begitu, pintu benar-benar tertutup rapat. Tubuhku luruh begitu saja. Kutekan d**a kiri, merasakan debaran jantungku yang semakin menggila mengingat apa yang baru saja aku lakukan. Kembali menjitak pelan dahiku, sebelum kemudian menutup wajahku dengan kedua tangan. “Apa yang baru saja kamu lakukan Maharani Varisha ...” gumamku dengan wajah kembali memerah seperti tomat setelah  menyadari bahwa sikapku yang seolah mengejar pria itu. Ahh ,,, bukan pria itu, melainkan suamiku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD