“Biar aku saja Mbak Rani,” tegur Tami saat aku mulai menyapu teras. Dia merebut sapuku yang berusaha aku rebut lagi darinya namun gagal. Dia bergegas berlari menjauhiku dengan sapu yang ada di tangannya. Aku hanya menghela napas dalam saat dia mulai menyapu bagian halaman rumah yang sedikit kotor dengan daun pohon ketapang yang berjatuhan. Menggelengkan kepala melihat tingkah Tami yang terlihat begitu bersemangat menyapu halaman. Aku berjalan menjauh sembari mengusap perutku yang semakin membuncit. Sejak hari di mana aku mengajak Tami untuk makan kue cubit di tengah hujan tempo hari. Tami selalu datang ke rumah dan membantu pekerjaan rumah. Sikapnya yang supel dan ringan tangan. Akhirnya membuat Mama Rena memperkerjakannya untuk membereskan rumah. Dengan gaji yang bisa dikatakan tidak

