Bab 107 - Prosedur Menakutkan

1960 Words

“Anggap saja anak itu sudah mati saat kamu memintaku untuk menggugurkannya.” Kata-kata yang diucapkan oleh Rani malam tadi terus terngiang di telinga Alfian. Dia sejak malam tadi duduk termenung di bawah wastafel dapurnya tak bergerak sedikit pun. Pecahan gelas masih bergelimpangan di sana. Darah di telapak tangannya sudah mulai mengering. Dia tak bergerak sedikit pun. Enam tahun yang lalu dia hancur, namun kini dia lebih hancur. Anak perempuan itu terus membayang di wajahnya, meskipun enam tahun lalu dia tak pernah sama sekali menginginkan anak itu. Namun, entah mengapa sejak setahun yang lalu saat mereka tanpa sengaja berpapasan di Mall, dadanya menghangat saat melihat anak itu. Anak perempuan dengan gaun putih bertali spageti dan juga topi pantai bulat yang cantik. Alfian menyadari

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD