Bab 2 - Satu Atap

1286 Words
“Kamar kamu di situ,” tunjuknya dengan nada dingin seolah mengerti dengan apa yang Rani pikirkan saat pertama kali masuk ke dalam apartemen milik suami, salah pria ini. Dia bahkan masih bingung menyebut pria dingin yang berdiri tegak di sampingnya ini dengan panggilan apa. Aura dingin yang dia pancarkan membuat perasaan canggung yang sangat terasa di antara mereka. Rani masih berdiam diri sembari menghembuskan napas pelan, dia membalikan tubuh ingin bertanya apakah mereka akan tidur bersama, namun dia urungkan saat pria yang baru saja menjadi suaminya itu berjalan menuju memasuki kamar di sebelah kamar yang dia tunjuk tadi lalu menutup pintu tanpa berbicara sedikitpun. Rani mendesah menatap pintu kayu yang ditunjuk pria itu, mengambil koper besar berisi pakaian dan beberapa keperluan pribadinya lalu berjalan memasuki kamar itu. Dadanya sesak, ingin rasanya dia menangis menumpahkan perasaan yang dia pendam selama seminggu terakhir ini. Bagaimana takdir mempermainkannya. Baru seminggu yang lalu dia masih seorang mahasiswa tingkah akhir dan sedang mencari – cari beasiswa S2, dan sekarang dia sudah sah menjadi istri seseorang yang bahkan baru dua kali dia temui. Ya, dia memang baru bertemu dengan Alfian dua kali. Yang pertama, saat mama pertama kali membawanya ke rumah sakit untuk menjenguk Tante –Mama Ambar, dan yang kedua saat akad nikah yang sederhana di ruang perawatan Tante –Mama Ambar. Dia mengigit ujung bibirnya, dia tak terlalu terbiasa menyebut orang lain dengan panggilan Mama selain mamanya. Keluarga Alfian mempersiapkan operasi katup jantung y ang dilakukan oleh mertuanya, sehingga selama dan pasca operasi, Rani masih tinggal di rumah mama dan sedangkan Alfian fokus merawat Mama Ambar hingga beliau tersadar dan meminta anaknya untuk membawa Rani tinggal bersamanya di apartemen ini. Alfian Abiyaksa, nama pria dingin yang akhirnya menjadi suaminya itu baru dia ketahui sesaat setelah akad nikah. Pria dengan iris mata abu-abu cantik itu membuat dadanya berdesir, namun saat melihat tatapan dingin dan tertutup itu membuatnya segan. Dia dan Alfian sama sekali tak pernah berkomunikasi. Dia terlalu segan untuk membuka komunikasi terlebih dahulu, menginggat tatapan dingin dan datar yang selalu dia perlihatkan. Rani menghela napas. Tanpa sadar, tetesan air mata mulai tercetak di pipinya, namun dengan cepat dia hapus jejak itu. Mengangkat kepalanya ke atas, menahannya agar tidak kembali keluar. Dia tidak boleh menangis. Dia bukan lagi anak kecil yang bisa menyelesaikan semua masalah dengan satu tindakan, yaitu menangis. Dia sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan semua hal ini dengan apik dan bijaksana agar tidak ada saling menyakiti di antara mereka. Pelahan, Rani membuka kenop pintu yang ditunjukan suaminya tadi, sembari terkekeh saat memikirkan mengucapkan kata ‘suami’ untuk menujuk kepada pria abu-abu tadi terlalu rancu untuknya. Dia berpikir pantaskah pria bermata abu itu dia anggap sebagai suami. Belum tentu juga, pria itu menganggapnya sebagai istri. Matanya yang mulanya sendu berubah menjadi penuh kekaguman melihat kamar yang disediakan pria itu untuknya. Rak – rak yang terbuat dari kayu yang kuat dan tebal mengelilingi kamar ini membuatnya takjub. Rani yakin sebelumnya kamar ini adalah ruang kerjanya yang dengan terpaksa pria itu sulap untuk menjadi kamarnya, orang asing yang dengan begitu saja masuk ke dalam kehidupannya. Dia kembali menghembuskan napas, ada sedikit rasa bersalah yang merasuk ke dalam dadanya, mengingat bagaimana pria bermata abu itu harus mengorbankan ruang kerjanya untuk gadis yang baru saja dia kenal. Haruskah dia menolak kamar ini? Pertanyaan itu muncul. Toh, dia bisa saja tidur di ruang tamu, ada sofa besar yang cukup untuk menopang tubuhnya selama tinggal di tempat ini. Rani menarik kopernya dan meletakannya dan tas besar yang dia bawa ke pinggir ranjang. Sedangkan, dia berjalan mendekati rak-rak buku tinggi penuh dengan buku itu sembari berdecak kagum melihat buku – buku koleksinya. Jemari Rani bergerak menyusuri buku-buku itu. “WOW!” pekiknya tak dapat menahan melihat buku – buku ekonomi, manajemen bahkan buku-buku bisnis dari beberapa pakar dan pengusaha dunia yang dia butuhkan untuk bahan referensi skripsi yang sedang dia jalankan. Pekikan Rani tertahan saat mendengar deheman dari kamar sebelah. Tangannya sontak menutup mulutnya, lalu mengigit ujung bibirnya pelan berharap tidak membuat suara yang akan menganggu pria itu. Dia meruntuki kebodohannya yang memekik kegirangan melihat semua buku yang dibutuhkan, sehingga melupakan bahwa sekarang dia tinggal menumpang di rumah orang lain. Rani baru mengetahui dari mamanya bahwa Alfian hanya beberapa tahun lebih tua darinya. Dan baru satu tahun yang lalu lulus dari pendidikan S2nya di luar negeri dan langusng bekerja sebagai Staf biasa di Abiyaksa Holding, perusahaan ayahnya sendiri. Kekagumannya kembali menyelinap. DI saat anak-anak pemilik perusahaan lain langsung mendapatkan posisi tinggi di perusahaannya setelah lulus, Alfian lebih memilih menjadi staf biasa dan menjalani karirnya dari bawah. Hal itu sempat ditolak oleh Mama Ambar dan Papanya, tapi saat mendengar penjelasan Alfian bahwa dia perlu belajar dan menganggap pengalaman menjadi guru terbaiknya untuk menjalankan perusahaan membuat mereka menerima permintaan Alfian. Pandangan Mata Rani beralih menatap ranjang Queen Size yang berada di sudut ruangan dengan salah satu sisinya adalah dinding yang mungkin membatasi kamarnya dengan kamar Alfian. Ranjang empuk itu begitu menggoda untuk dia rebahi. Dia mengembalikan buku ekonomi yang sedari tadi ia pegang sebelum perlahan berjalan menuju ranjang itu dan merebahkan diri. "Ah.. rasanya aku hidup kembali," desahnya saat punggungnya yang kaku menyentuh ranjang empuk itu. Matanya menatap langit-langit apartemen pria itu dengan tatapan tak fokus. Hari ini terasa begitu berat. Begitu Mama amabr meminta mereka untuk tinggal bersama membuat Rani merasa ditindih beban yang begitu berat. Bahkan, rasanya beban itu lebih berat daripada meminta jadwal bimbingan dengan dosen pembimbing skripsinya yang dikenal killer. Jujur, pernikahannya dengan Alfian yang begitu mendadak membuatnya tak siap. Dia adalah wanita yang mengganggap bahwa sebuah pernikahan adalah suatu hal yang sangat sakral dan harus dipersiapkan sematang – matangnya. Pernikahan ini bukanlah pernikahan impiannya. Rani memang bukan selebrity ataupun wanita yang memiliki calon suami para pengusaha kaya raya yang menginginkan pernikahan yang megah. Tapi, tetap saja dia menginginkan pernikahan yang berkesan. Pernikahan yang bisa menjadi pernikahan yang juga diimpikan oleh anaknya nanti. Pernikahan yang bisa dia ceritakan kepada anakanya, bahwa dia begitu bahagia menikah dengan pria yang dia cintai, tanpa ada paksaan atau campur tangan kedua orang tua. Dia memiringkan tubuhnya dan menjadikan kedua tangan sebagai bantalan, kembali melihat ke arah rak – rak buku itu dengan pandangan yang  menerawang. Tak pernah ada dalam pikirannya untuk menikah dan tinggal satu atap dengan pria yang tak dia kenal. Pria itu sekarang bahkan berada begitu dekat dengan hanya bersekat dinding dan rak buku yang ada di depan matanya sendiri. Juka dia boleh jujur, kesan pertama bertemu dengan Alfian begitu mendebarkan. Rambutnya ikal dengan sedikit panjang, terkesan bad boy. Wajahnya tampan, khas keturunan asing dengan hidung, rahang dan tulang pipi tegas yang membuat hatinya sedikit berdesir. Belum lagi, saat mata abu pria itu menatapnya hingga membuatnya terhanyut ke dalam iris unik yang sangat jarang dimiliki oleh orang indonesia bahkan keturunan asing. Rani menggadang-gadang, dari mana pria itu memiliki iris mata abu itu mengingat Mama dan Papanya memiliki iris berwarna cokelat. Berbeda dengannya. Dia menggelengkan kepala membuang pikirannya yang terlalu mengada-ada. Matanya terpejam sejenak guna menenangkan pikirannya yang kembali memikirkan masa depannya nanti. Dia mengharapkan pernikahan yang dia jalani dengan pria dingin bernama Alfian itu akan senormal mungkin. Sama seperti penikahan dengan cinta, dia ingin pernikahannya bertahan selamanya dan tak akan pernah berakhir di tengah meja hijau persidangan. Walaupun, di dalam lubuk kecil terdalamnya, dia ragu akan pernikahan ini. Terutama mengingat sikap dingin yang Alfian perlihatkan kepadanya. Rani menarik napas dalam, mencoba berpikir untuk optimis. Walaupun, dia yakin tak mudah untuk memanjat dinding es tebal yang Alfian bangun untuknya. Jika dia tak bisa memanjat dinding es itu, dia bisa memahat bahkan mencoba untuk menghancurkan dinding es tersebut dengan berbagai cara sehinga membuatnya bisa membuka diri dan membuat pernikahan yang dia jalani bersama Alfian menjadi pernikahan yang abadi yang akan dia banggakan ke anak – cucunya nanti.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD