Tak terasa, sudah lebih dari satu jam kami masih fokus dengan kertas yang ada di depan kami. Aku yang awalnya duduk di atas sofa sekarang turun di bawah. melihat poin-poin yang aku buat satu per satu. Memikirkan kembali apakah poin-poin itu akan diterima dengan baik oleh Alfian. Kulirik Alfian yang juga terlihat membaca apa yang dia buat.
“Sudah selesai?” tanyanya mengarahkan pandangan ke arahku. Kutarik napasku dalam sebelum kemudian mengangguk. Kutarik lembaran kertas berisi tulisanku itu lalu memeluknya dengan erat. Alfian yang berada di atas Sofa berdiri, lalu mengikuti aku dengan duduk di depanku.
Tatapan mata kami bertemu. Iris mata abu itu masih terlihat dingin. Tapi, entah mengapa aku sudah merasa terbiasa dengan tatapan dingin itu
Tatapan matanya masih terlihat begitu dingin, namun sekarang entah mengapa tatapan dingin itu bukan lagi tatapan dingin yang menusuk seperti dulu. Ada sesuatu yang lain yang terlihat di sana, seolah pria itu tengah menatapku dengan begitu lembut. Alfian dengan segala misterinya yang belum kupahami.
“mau membacanya terlebih dahulu?”
Aku tatap kertas tulisan tangan itu sekali lagi sebelum kemudian mengangguk. “Aku tak memaksa kau harus melakukannya langsung. Hanya saja, aku minta kau untuk melakukannya pelan-pelan.”
Alfian mengangguk, “yang pertama, aku ingin kau pulang tidak terlalu pulang larut malam.” Kuangkat kepalaku melihat reaksi Alfian yang terlihat terkejut. “jika memang kau harus lembut dan pulang larut malam. Setidaknya, mengabari aku terlebih dahulu. Agar aku tidak selalu menunggumu pulang tanpa kepastian.”
Tatapan terkejut Alfian berubah menjadi tatapan sendu, seolah menyadari bahwa tindakannya yang membiarkanku menunggunya hingga tertidur di sofa setiap hari adalah salah. “Aku mengerti,” angguk Alfian pelan.
“Kau benar-benar akan melakukannya?” Mataku membulat tak percaya melihat anggukan yang Alfian berikan.
“Aku akan berusaha melakukannya,” ujarnya lagi mengulang persetujuannya membuatku kembali tersenyum malu. Wajahku terasa memanas. Aku yakin wajahku kini berubah menjadi kepiting rebus karena perubahan sikap Alfian yang tiba-tiba berubah menjadi lembut seperti ini.
“Ada lagi yang harus kulakukan?”
“Aku juga ingin kau setiap hari setidaknya makan masakanku. Dan memberitahuku apakah masakanku cocok dengan lidahmu atau tidak.”
“Lalu?”
“Kau menyetujuinya?” tanyaku kembali tak percaya.
“Selama beberapa minggu terakhir, aku terus memakan masakanmu. Tak ada yang salah dengan itu semua. Terlebih ... Aku menyukai semua masakanmu.”
“Kau menyukai semua masakanku?” Alfian kembali mengangguk lalu terkekeh pelan saat menyadari nada tak percaya yang aku keluarkan. “Kau tidak membuang bekal yang aku buang?”
Kali ini, Alfian tak dapat menyembunyikan tawanya. Dia tertawa dengan suara ringan dan terdengar renyah yang menyapa pendengaranku. Mata Abu itu menatapku geli, kulihat dia menghapus air matanya yang tanpa sengaja keluar karena tawa kerasnya. “Jadi kau pikir selama ini aku membuang semua bekal yang kamu buat?”
Aku mengangguk, menunduk malu sembari meremas celana yang aku kenakanl
“bukankah kau melihat bagaimana aku mencuci kotak bekal itu “
“kan bisa saja kau membuangnya ke bak sampah dan berpura-pura menyukainya.”
Alfian kembali menatapku dengan tatapan lembut. “Ra ...” ujarnya memanggilku dengan pelan membuatku perlahan mengangkat kepala, “aku tak pernah berpura-pura dalam hidupku. Jika aku memang tak menyukainya, aku tak akan pernah membawa bekal yang kamu persiapkan itu.”
Ya Allah ...
Tak bisakah Alfian berhenti membuatku malu. Rasanya aku merasa melayang dengan setiap tindakan lembut yang dia perlihatkan. Perubahan pria ini terlalu tiba-tiba dan aku belum mempersiapkan hatiku untuk itu. Rasanya telingaku memekak saat dia mengatakan menyukai semua masakan yang aku buat. Terlebih saat dia mengatakan bahwa dia memakan semua yang telah aku persiapkan.
“Ada lagi? Kau bisa mengatakan semuanya, dan aku akan menyela ucapanmu jika aku memang tak menyukainya. Mengerti?”
“Aku ingin kau menyediakan waktu untuk menghabiskannya denganku. Kita tidak perlu melakukan apa pun. Hanya duduk berdua dan membicarakan segala hal yang terjadi atau kita bisa menemaniku menonton tv. Itu sudah cukup.” Aku melirik ke arah Alfian, menunggu reaksinya namun pria itu terdiam memikirkan ucapanku.
“Aku ingin kita berusaha untuk melakukan apa pun berdua. Maksudku ... Kita harus saling membantu saat kita sedang kesusahan. Aku ingin kau membagi pikiranmu dan aku juga bisa membagi pikiranku ke kamu. Jangan pernah menghadapi semuanya seorang diri. Aku tahu bahwa ini mungkin sulit untukmu, Tapi aku ingin kau sadar bahwa sekarang kau tidak sendirian. Ada aku di sisimu.”
Rasanya aku ingin menutup mulutku yang berpikir terlalu puitis dan menggelikan. Namun, jujur ... itulah yang aku ingin katakan kepada Alfian sekarang. Selama sebulan hidup bersama dengannya dalam satu atap dan juga ucapan Bianca tadi siang membuatku menyadari bahwa walaupun Alfian berada dalam keluarga yang menyayanginya atau bahkan kedua orang adik perempuan yang menyayanginya, pria itu terlihat sangat kesepian. Alfian seolah memiliki misteri tersendiri yang membuatnya selalu terlihat kesepian.
Pria itu seolah terkurung dalam penjara yang dia bangun sendiri, dan entah mengapa ... Aku merasa ingin menghancurkan tembok penjara itu, meraih tangan Alfian dan membawanya pergi dari sana
Aku menarik napasku dalam sebelum kemudian menatap Alfian yang terpaku. “Kalau kamu, apa yang kamu inginkan?” ujarku pada akhirnya.
Alfian yang sedang terpaku akhirnya tersadar. Dia berdehem sejenak memperbaiki posisinya sebelum kemudian menatap lembaran yang dia tulis. Aku melihat Alfian menarik napas dalam, dan menatapku dalam.
"Aku hanya ingin kau bersabar dengan sikapku. Benar seperti katamu, bahwa aku belum terbiasa dengan pernikahan ini. Dan aku akan berusaha untuk memperbaiki diri."
Alfian menghentikan ucapannya, mata Abunya menatap ke arahku dengan tatapan yang tak dapat aku artikan.
"lalu ... apakah kau keberatan dengan skinship?" tanya Alfian tiba-tiba membuat telingaku memekak. Mataku membulat saat mendengar ucapan Alfian yang terasa aneh di telingaku.
"Ya ... Skinship. pegangan tangan, ciuman atau bahkan ... s*x?"
"S-s*x?" tanyaku gugup ke arahnya.
"Aku tau ini terdengar konyol. Tapi, jika kau menginginkan pernikahan ini berjalan dengan normal. Kau tidak lupa bahwa kita juga harus melakukan apa yang harus dilakukan suami istri lainnya bukan?"
Napasku tercekat saat mendengar Alfian mengatakan hal itu. bagaimana mungkin aku bisa melupakan hal yang harusnya menjadi prioritas yang dilakukan oleh pasangan suami istri normal pada akhirnya ... Rona merah di wajahku menyebar hingga ke telinga lalu ke seluruh tubuhku k.
"Tapi, aku tak menginginkan ada anak dalam pernikahan kita," ujarnya lagi membuat keningku berkerut