Bagi Alfian sekarang, Mata Rani yang membulat lebar, mulutnya yang terbuka dengan wajah yang perlahan memperlihatkan semburat merah terlihat begitu menggemaskan untuknya sehingga membuatnya ingin semakin menggodanya. Sudut bibirnya naik sedikit memperlihatkan seringai saat Rani menatapnya dan Tari bergantian, Dia melepaskan genggamannya pada tangan Rani dan berjalan ke arah Tari yang mengerti dengan maksud tatapan Masnya itu. Dia dengan cepat menautkan tangannya ke lengan Alfian, lalu mengulurkan tangan ke arah Rani yang masih menatap tak percaya. “Hai, Kakak ipar. Kenalin aku Tari, Adik ipar Mbak yang nggak pernah Mbak Rani temui,” sapa Tari membuat semburat merah itu semakin memerah sehingga menyebar ke bagian telinga. “Ah, bukankah kita bertemu kemaren?” goda Tari lagi dengan mengerl

