Bab 7 - one step closer

2113 Words
Tanganku masih bergetar hebat saat kami masuk ke dalam kamar masing-masing. Aku duduk di atas ranjang bersandar di dinding yang membatasi kamarku dengan kamar Alfian. Menolehkan kepala melirik ke arah dinding itu, berharap semua yang baru saja terjadi bukanlah mimpi dan Alfian benar-benar mencoba untuk berteman denganku. Ya .... setidaknya, hubungan kami sudah melangkah selangkah lebih jauh dari hari lain dan itu sudah membuat perasaanku menjadi lebih lega. Kutarik napasku dalam sebelum kemudian merebahkan diri ke ranjang milikku. Satu beban yang kurasakan seolah sudah terangkat yang bisa membuatku bisa tertidur dengan lega hari ini. Tangan kananku terangkat sebelum kemudian membentang menutupi lampu yang ada di langit-langit. Memikirkan apakah sikap pria itu akan berubah besok? Dan benarkah mereka akan berteman nantinya. Kuturunkan tangan itu sebelum kemudian memeluk guling miliku erat, berharap apa yang dikatakan Alfian tadi bukanlah sebuah omong kosong. Pada pagi harinya, aku memulai aktivitasku seperti biasa. Bangun bersamaan dengan suara adzan subuh yang selalu menjadi alarm ponselku. Kulakukan aktivitasku seperti biasa, mengambil air wudhu, sholat subuh sebelum kemudian berjalan ke arah dapur untuk membuatkan sarapan. Hari ini aku putuskan untuk membuat french toast untuk sarapan dan memasakan capcay dengan telur dadar untuk bekal yang selalu aku berikan. Walaupun bersikap dingin, Alfian termasuk orang yang selalu memakan makan siangnya, terbukti saat melihat kotak makan siangnya yang selalu kosong saat aku pura-pura tak melihat saat dia mencuci bekas makannya. Cekrek .... Suara pintu yang terbuka membuatku mengalihkan pandangan. Kulihat Alfian keluar dari kamarnya dan ikut terkejut saat melihat kehadiranku di dapur. Dia melirik jam yang menunjukkan pukul lima lewat sedikit. “Kau selalu bangun jam segini?” tanya Alfian membuka pembicaraan membuatku mengarahkan pandangan ke arahnya. Beberapa kali, mataku mengerjap tak percaya pria dingin dan irit kata yang sering kubandingkan dengan robot itu bisa memulai pembicaraan seperti ini. Dia meletakan berkas yang dia kerjakan malam tadi ke atas meja di ruang keluarga sebelum kemudian berjalan ke arahku. “Aku bukan hantu,” ujarnya singkat dengan nada dingin membuatku tersadar lalu melihat ke arahnya yang kini duduk di mini bar. “maaf,” ujarku menatapnya yang hanya mengangguk. “tapi selama ini aku memang merasa tinggal bersama hantu,” celetukku lagi kini membuatnya tersenyum tipis Ya Allah .... Dosa apa yang kuperbuat pagi ini sehingga membuat robot ini bisa mengeluarkan senyum seperti itu? ataukah hari ini adalah hari terakhirku tinggal di bumi sehingga dibiarkan melihat senyum pria dingin di depannya ini? “aku semengerikan itu?” Kali ini aku benar-benar merasa ada yang tak beres dengan Alfian. Dengan cepat, kumatikan kompor lalu melihat ke arahnya dengan tatapan ngeri. “Kau tak sedang kesambet kan?” Kututup mulutku cepat menyadari aku kembali menyuarakan apa yang sedang aku pikirkan. Alfian bukannya malah menggelengkan kepala membalas ucapanku tadi. “Sejauh ini, aku merasa tidak pernah mengerti apa itu kesambet?” “itu ... kemasukan jin.” Suara renyah pria itu menggelegar saat mendengar celetukan yang terus aku keluarkan. Aku memukul mulut yang kembali mengeluarkan dengan kurang ajar ini. Dan semi semua pria tampan di drama Korea yang tak dapat kugapai. Tawa Alfian seolah kembali menggetarkan hatiku. Suara bariton yang dia keluarkan saja sudah membuatku terpesona apalagi tawa renyah yang diperdengarkan pria itu. Kulihat dia menghapus air matanya yang keluar karena geli mendengarkan celetukan yang aku keluarkan. Napasku tercekat saat melihat perubahan manik wajahnya lagi yang kini menatapku dengan tatapan seolah penuh rasa bersalah. “Maaf ...” ujarnya lirih. “Untuk?” “membiarkanmu merasakan semua ini sendiri. Padahal aku seharusnya sadar bahwa bukan hanya kamu yang terkejut dengan pernikahan kita yang terelakkan ini.” Aku terdiam mendengar ucapannya, menarik napasku dalam sebelum kemudian menatap ke arah pria itu. Wajah dinginnya kembali terlihat. Untuk pertama kalinya, sejak menikah dengan Alfian dia bisa merasakan bahwa pria itu pun merasakan hal berat yang juga dia rasakan. Aku mencoba tak membalas ucapannya terlebih dahulu, melainkan melanjutkan memasak sarapan untuknya. Kubiarkan suasana hening dan canggung kembali memenuhi sekeliling kami, membiarkan masing-masing dari kami memikirkan segala hal yang terjadi begitu cepat hingga tanpa sadar kami sudah menikah selama sebulan tanpa pernah berbicara berdua seperti ini. Setelah semua masakanku selesai, aku menaruh kotak bekal di depan Alfian sebelum kemudian membawa sarapan hari ini yang berupa french toast, scramble egg, dan juga salad dari kol putih dan ungu yang kurajang kecil dan kuberi dressing berupa olive oil dan juga mayonaisse. Alfian menatap piring miliknya dan kotak bekal yang selalu kupersiapkan bergantian sebelum tatapannya kembali mengarah ke arahku. Aku kembali terpana, kali ini dia tidak menatapku dengan tatapan dingin, melainkan tatapan lembut penuh dengan rasa terima kasih yang membuat dadaku kembali menghangat. Aku berjalan duduk di depannya sebelum kemudian memperhatikan apa yang pria itu lakukan. Seperti biasa, jika aku tidak memberikan sambal, pria itu akan mengambil saus sambal dan bon cabe ke atas makanannya. “Suka pedas?” tanyaku pada akhirnya tak dapat menghentikan mulutku untuk berbicara. Alfian terlihat mengarahkan pandangannya ke arahku sebelum kemudian menganggukkan kepala. Benar-benar hanya menganggukkan kepala. Tanpa mengatakan sepatah kata lagi, membuatku kembali mendesah. Bagaimana aku bisa membuat pria itu kembali berbicara seperti tadi? Pria di depannya itu terlalu dingin dan pendiam. Selama satu bulan terakhir ini, dia sudah cukup bersabar dengan suasana hening yang selalu terjadi di antara kami. Tak bisakah pria itu kembali berbicara seperti tadi sehingga kami dapat membuat percakapan dengan nyaman. Huft ... Desahan keras yang aku keluarkan membuat pria itu tersadar. Dia kembali menatapku sebelum kemudian ikut menarik napas dalam, dia meletakkan sendoknya, lalu memiringkan posisi duduknya agar dapat melihatku dengan benar.   “Ini terlalu berat untukku?” Aku yang sedang mengaduk makananku tanpa selera sontak mengangkat kepala dan melihat tatapan sendu pria itu. Tatapan itu terarah ke arahku, seolah ada rasa bersalah yang dia rasakan di dalamnya. “Semua hal yang terjadi rasanya begitu mendadak. Aku yang sudah sangat terbiasa sendiri tiba-tiba diharuskan untuk menikah dan tinggal berdua dengan gadis yang tidak aku kenal.” Dia menarik napas dalam, terdiam sejenak seolah mencari kata-kata yang tepat untuk membicarakan semua hal ini. Di sisi lain, aku merasa bahwa pria ini entah mengapa terasa kesepian, padahal menurut mama. Dia memiliki kedua orang tua yang menyayanginya dan dua adik perempuan yang sangat mengandalkannya. Namun, pria itu selalu seolah mengurung diri dengan benteng tinggi yang dia bangun sendiri. Aku menggigit ujung bibirku, mencoba menarik napas dalam saat keheningan kembali berpendar di antara kami. “Bukan hanya berat untukmu ....” ujarku membuatnya kembali mengarahkan pandangan ke arahku. “Ini juga berat untukku.” Mengangkat kepalaku untuk menatap ke arahnya, menelan saliva guna membasahi kerongkonganku yang tiba-tiba mengering. “Saat itu mama bahkan hanya mengatakan bahwa kami akan menjenguk kenalan mama yang sedang sakit. Tapi, saat di rumah sakit. Aku bahkan dihadapi dengan kenyataan bahwa aku akan menikah dengan pria yang tak aku kenal.” Kutarik napasku dalam, “rasanya juga berat untukku tiba-tiba harus menikah dengan orang yang tak aku kenal. Semua rancangan hidup yang kubuat selama ini tiba-tiba tak dapat aku capai dan dengan sekejap statusku berubah menjadi istri orang lain.” Tatapan mata kami kembali bertemu, aku kembali terpana kepada iris mata abu yang kini menatapku dengan penuh penyesalan. Aku menyadari bahwa pria itu merasa bersalah karena Mamanya lah yang meminta kami untuk menikah, dan membuatku terjebak untuk tinggal bersamanya seperti ini. “Oh, please stop menatapku dengan tatapan kasihan seperti itu,” tegurku krahnya. “Bukan hanya kau yang membuat pernikahan ini terjadi. Ada andil aku juga.” Aku memberanikan diri untuk menatap ke arah manik abu matanya yang indah itu lalu tersenyum tipis ke arahnya. “Aku bukan tipe orang yang menyalahkan takdirku. Aku yakin ada hal baik yang akan terjadi di antara kita nanti. Jadi ... bisakah kita mencoba menerima takdir yang terjadi di antara kita ini?” Tatapan pria itu terlihat gamang mendengar ucapanku. Keheningan kembali terjadi, tak ada yang bersuara, kecuali embusan napas kami dan juga jam yang berdetak. Aku menunggu cukup lama hingga akhirnya melihat Alfian menarik napas dalam dan mengangguk. Senyum tipisku tak dapat aku sembunyikan saat melihat anggukannya. “Bagaimana jika hubungan ini tak berhasil?” “Kita bisa mengatakan kepada kedua orang tua kita bahwa hubungan kita tak berhasil dan berpisah baik-baik. setidaknya, kita bisa mencobanya terlebih dahulu.” Entah mengapa, ada rasa sakit yang kurasakan saat mengucapkan kata itu. Perpisahan sebenarnya tak pernah ada dalam kamus hidupku. Aku benci perpisahan, tapi jika perpisahan mungkin menjadi jalan terbaik untuk kami lakukan, maka mau tak mau. Aku harus menerima hal itu. Aku terkejut saat melihat Alfian kembali mengulurkan tangannya dan tersenyum, “Mari kita coba, Maharani ...” Aku kembali menatap uluran tangan itu sebelum kemudian tersenyum dan menyambut uluran tangannya, “Rani.” Memperbaiki ucapannya, lalu tersenyum “Semoga kita bisa menjalaninya dengan baik, Alfian Abiyaksa ...” “Alfian,” ralatnya balik membuatku menganggukkan kepala. “Kita bisa mengubah panggilan itu jika sudah terbiasa,” ujarnya membalas ucapanku. “Makan,” ujarku memintanya untuk menghabiskan sarapan yang aku buat. Walaupun, kami terlihat sangat canggung tapi setidaknya aku bisa tersenyum dan pria itu bisa menatapku tanpa harus membuang muka seperti sebelumnya. “Kamu sudah selesai?” tanya Alfian saat melihatku menghabiskan makananku. Aku mengangguk dan terkejut saat melihatnya mengambil piringku dan membawanya ke wastafel. “Aku bisa mencucinya sendiri. Kau seharusnya pergi, biasanya jam segini kau sudah di kantor,” ujarku sembari melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan jam setengah tujuh pagi, biasanya Alfian sudah pergi setengah jam yang lalu. “Aku sedang tidak buru-buru hari ini,” jawabnya yang kembali membuatku tersenyum dan mengangguk. Tatapanku tak lepas dari dirinya yang sedang mencuci piring, kemeja biru fit body yang dia kenakan entah mengapa semakin terlihat memesona dengan bagian tangan yang dia tarik sehingga ke bagian siku sehingga memperlihatkan lekukan indah di bagian lengannya. Bagi semua wanita, melihat bahu bidang dan juga garis lekukan sempurna yang tercetak di lengan seorang laki-laki membuat pria 100 kali lebih seksi dari pria lainnya. Terutama saat melihatnya tanpa diminta melakukan pekerjaan rumah seperti ini. Tatapanku mengikuti Alfian yang berjalan sembari mengelap tangannya dengan tissue. Menekan bak sampah dengan kaki agar terbuka lalu membuang sisa tisue itu ke sana. “Aku akan berusaha untuk mencuci piring jika kamu memasak. Kau harus membiasakan itu. lagi pula hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membalas apa yang kau lakukan,” ujarnya lagi membuat senyum di wajahku kembali terlihat. Aku mengambil tas berisi kotak bekal yang kubuat untuknya lalu memberikan ke arahnya, dia kembali menatap kotak bekal itu lalu menghela napas, “kau tak perlu membuatkanku sarapan dan makan siang sekaligus.” Kepalaku menggeleng, “Aku suka melakukannya. Lagi pula, sekalian mengirit waktu dan uangmu untuk makan siang kan? Kau bisa menggunakan waktu itu untuk bekerja lebih,” ujarku panjang lebar. Aku melihatnya mengambil kotak itu lalu mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. “Ambillah,” ujarnya memberikan kepadaku sebuah kartu kredit berwarna hitam ke arahku. “Untuk apa?” “Uang belanjamu. Kau bisa membeli keperluanmu dan keperluan rumah dengan ini.” “Aku masih punya uang.” Alfian mendesah mendengar penolakanku. Tersentak saat Alfian mengambil tanganku dan menaruh kartu kredit itu ke telapak tanganku. “aku tidak menerima penolakan. Lagi pula, sudah sepantasnya seorang suami memberikan nafkah seperti itu.” Mendengar kata ‘suami’ yang diucapkan oleh Alfian membuat tubuhku membeku, napasku tercekat bahkan telingaku terasa memekak. Rasa tak percaya memenuhi diriku sehingga aku menggenggam kartu yang dia berikan dengan erat. “Aku pergi dulu ...” pamitnya mengambil berkas yang tadi dia taruh di meja ruang keluarga lalu berjalan menuju pintu. “Fi ...” panggilku tanpa sadar memanggilnya dengan ‘Fi’ yang langsung membuatnya berhenti melangkah. Aku bergegas mengambil Blackberry milikku kemudian berjalan ke arahnya, “Pin BB kamu,” ujarku tanpa malu meminta hal itu ke arahnya. Alfian kembali terlihat bingung sejenak, sebelum celingukan mencari tempat untuk meletakkan berkasnya. Bergegas, aku mengambil berkas itu, dan membiarkannya memasukkan pin BB miliknya. Salahkah aku yang melangkah sedikit lebih jauh mengingat bagaimana sikap pasif pria ini di depannya? “Kebetulan bahan makanan sudah mau habis, maukah weekend ini kau menemaniku belanja bulanan?” Pria itu terlihat kembali terkejut mendengar permintaanku, menatap ke arah rumah sebelum melirik ke arahku melihat tubuhku dari ujung kaki hingga puncak kepala sebelum kemudian menganggukkan kepala. Sebenarnya, ada rasa tersinggung saat melihatnya menatapku demikian tapi, entah mengapa rasa kecewa itu kembali berubah menjadi rasa senang saat melihat persetujuannya. Aku kembali mengambil tangannya, lalu mengecup punggung tangan itu, “Hati-hati di jalan,” ujarku riang kemudian mengembalikan berkas yang dia pegang. Dia terlihat kembali terkesiap sebelum kemudian menganggukkan kepalanya. “Aku pergi dulu,” pamitnya setelah mengembalikan BB milikku lalu berjalan keluar dari apartemen. Aku terus melihat punggung bidangnya yang berjalan menjauh sembari menekan d**a kiriku yang berdebar. Salahkah aku jika akhirnya memiliki perasaan kepada pria asing berstatus suamiku itu nanti? :
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD