“Mi... jan peiii...” rengekan suara Deeva dengan kata-kata yang bahkan belum sampai itu membuatku meringis. Tanganku yang awalnya ingin mengambil tas kerja yang kuletakkan di kursi meja makan, mengurungkan niat. Langkahku dengan cepat mengambil Deeva dari gendongan Tami. Melihat putri kecilku itu bahkan belum menghabiskan Mpasinya. Anggukanku membuat Tami mengerti. Dia memberikan mangkuk berisi makanan Deeva dan membiarkanku duduk di kursi yang ada di teras. “Habisin makanannya dulu ya?” Deeva menggelengkan kepalanya, lalu meletakkan kepalanya di dadaku, wajahnya menunduk. Aku menarik napas dalam. Deeva memang baru jalan dua tahun. Tapi sudah bisa mengutarakan pendapatnya dan tahu kalau aku ingin pergi. “Nanti Deeva nggak bisa main.” Deeva semakin menyembunyikan wajahnya di dadaku ta

