“Sampai kapan kau akan menyembunyikan kehamilanmu?” Ulang Alfian sekali lagi tetap seperti petir yang menggelegar yang kembali menyambar sehingga membuat tubuhku menjadi bergetar hebat. Tubuhku yang awalnya sudah kembali rileks perlahan kembali menegang, dengan keringat dingin yang tiba-tiba kembali membasahi tubuhku. Aku tercekat, Alfian tadi sengaja membuat diriku menjadi lebih rileks sebelum akhirnya memberiku pukulan yang keras, bahkan sangat keras untuknya saat ini. “M-maksud kamu?” tanyaku dengan nada bergetar. Napasnya tercekat namun dia berusaha keras untuk tetap bersikap biasa saja. Namun wajah dingin dan rahang yang mengeras yang Alfian perlihatkan membuatku semakin ketakutan. Tanganku bergerak menutupi perutku saat tatapan Mata Alfian terarah ke sana. “Berapa bulan?” tanya A

