13.Kejutan

857 Words
Children with disabilities are stronger than we know, they fight the battles that most will never know. ~ Misti Renea Neely ~ ❄❄❄❄❄ Liburan sudah berakhir dan tugas Sophie pun dimulai. Wanita itu sudah tiba di Yayasan Carina yang amat dikaguminya. Melihat anak-anak difabel yang duduk di atas kursi dalam aula kecil membuat hati Sophie membuncah senang. Manik kelabunya menatap satu persatu anak dengan penuh sayang. Meskipun baru mengenal mereka, tapi perasaan sayang itu langsung tumbuh karena wanita itu sangat menyukai anak-anak.  Namun Sophie bisa melihat tatapan lesu dari semua anak-anak. Meskipun mereka tampak baik-baik saja, tapi wanita itu kenal tatapan kosong di mata mereka. Karena dulu Sophie pernah merasakan hal yang sama.  Lalu sebuah ide muncul di pikirannya. Dia bergegas menghampiri Shamus sang pengurus yayasan. Pria yang berpakaian rapi itu terlihat begitu serius. Terkadang Sophie merasa tidak nyaman berbicara dengannya. Tapi dia tahu Shamus bukanlah pria jahat. Hal itu terlihat saat pria itu menolong gadis kecil yang terjatuh.  "Sir, bi-bisakah saya minta sesuatu?" tanya Sophie saat berhadapan dengan pria paruh baya itu.  "Tentu saja. Apa yang anda perlukan Miss Ralston?" Sophie berbisik kepada pria itu. Wajah pria itu langsung kaku mendengar usulan wanita itu.  "Tapi...." Sophie memotong protes pria itu, "Percayalah padaku, mereka ... mereka akan lebih menyukainya." Meskipun pria itu tampak ragu tapi dia segera menjalankan apa yang diinginkan Sophie. Bibir wanita itu pun mengembang senang. Dia percaya jika idenya akan berhasil menghilangkan tatapan kosong itu pada anak-anak.  Di luar Yayasan Carina, dua mobil sedan hitam berhenti. Di kap mobil itu berdiri tegak bendera Eginhard dalam ukuran kecil. Seorang pengawal turun dan membuka pintu belakang. Sepatu Oxford hitam menapaki jalan. Terlihat Pangeran Felix berdiri tegap dalam balutan three-piece suit berwarna biru tua. Matanya menatap bangunan kecil modern yang terletak di pinggir kota Fremont. Shamus yang melihat kedatangan sang Pangeran, langsung menghampirinya. Pria itu menyapa Felix dan memberikan hormat dengan menundukkan kepalanya.  "Maafkan saya Your Highness. Ada sedikit perubahan di dalam." "Perubahan? Perubahan apa?"  Apakah perubahan itu berhubungan dengan Sophie? Pikir Felix.  "Anda akan melihatnya setelah masuk ke dalam Your Highness." Dengan rasa penasaran yang menyelubungi pikirannya, Felix berjalan masuk diikuti Shamus dan pengawalnya. Pria itu melewati pintu kayu dua sisi. Suara ketukan langkah kaki terdengar di lorong itu. Hingga mereka berhenti di sebuah pintu yang mengantarkan mereka menuju aula kecil di mana dia akan dipertemukan kembali dengan Sophie.  Shamus membuka pintu itu dan suara nyanyian Sophie langsung terdengar di telinganya. Diiringi dengan gitar, lagu 'The Wheels on the Bus' dilantunkan dengan begitu riangnya. Felix melangkah masuk dan seketika tatapannya tertumbuk pada wanita yang memenuhi pikirannya selama beberapa hari ini. Sophie memetikkan gitar dan bernyanyi bersama anak-anak. Luar biasanya keceriaan wanita itu menular pada anak-anak. Terlihat binar-binar kebahagian terpancar di mata anak-anak. Seakan Sophie membawakan keajaiban di tempat ini.  "Miss Ralston minta untuk menyingkirkan kursi-kursi yang diduduki anak-anak. Dia juga meminta untuk menggelar tikar di bawah. Saya tidak setuju dengan ide itu. Tapi aku juga berpikir mungkin itu bagus untuk anak-anak." Jelas Shamus.  "Kupikir itu ide yang luar biasa. Miss Ralston sudah membuat sihir yang menakjubkan untuk anak-anak." Ucap Felix tanpa mengalihkan perhatiannya pada Sophie. Melihat wanita itu kembali, Felix bisa merasakan darahnya berdesir. Kerinduan yang selama ini berusaha disangkalnya menyeruak dalam hatinya. Meskipun sudah tidak bertemu selama beberapa hari, tapi wanita itu masih memberikan efek aneh dalam tubuhnya. Seakan percikan gairah timbul hanya karena melihat wanita itu.  "Anda benar Your Highness. Anak-anak terlihat bahagia bersama Miss Ralston." Ucap Shamus menyadarkan Felix.  Kemudian pria itu duduk di pinggir ruangan tanpa melepaskan tatapannya dari Sophie. Wanita itu begitu bersemangat memberikan dorongan bagi anak-anak. Bahkan Felix tak bisa menahan senyumannya saat Sophie melakukan tindakan konyol. Dia tahu mengundang Sophie kemari akan membuat perubahan besar. Wanita itu layaknya sinar matahari yang menghangatkan siapapun disekitarnya dengan keceriaan yang dimilikinya.  Hingga acara yang paling ditunggu adalah saat Shamus akan memanggil Felix untuk memberikan pidato singkatnya. Dengan begitu Sophie akan mengetahui pemilik yayasan ini adalah dirinya.  Sophie merasa puas setelah bermain, bernyanyi dan memberikan nasehat kepada anak-anak untuk tidak patah semangat hanya karena kekurangan yang mereka miliki. Karena sedang memasukkan gitar ke tempatnya, Sophie tidak terlalu memperhatikan ke depan. Sampai pada saat pandangannya beralih ke depan, nafas wanita itu tercekat. Dia melihat tempat di mana Shamus berdiri sudah digantikan oleh Pangeran-nya.  Ya, itu adalah Pangeran-nya Sophie. Sebutan 'Pangeran-nya' terasa begitu pas bagi wanita itu. Dia tahu seharusnya dia tidak mengklaim Felix sebagai kekasihnya. Tapi dia tidak tahan untuk tidak melakukannya.  Sophie tidak bisa membaca gerak bibir pria itu. Karena selain jaraknya terlalu jauh, wanita itu tidak bisa fokus terlalu sibuk dengan pertanyaan 'Mengapa Felix di sini?' atau 'Apa Felix tahu dia di sini?'.  Seseorang menyentuh bahunya dan Sophie pun menoleh. Avery, penerjemah bahasa isyarat, menyampaikan kepada Sophie bahwa Pangeran Felix memintanya untuk maju. Dalam kondisi yang masih tercengang, Sophie pun beranjak maju. Tatapannya tak lepas dari manik mata pria itu. Seakan tatapan itu menyedot seluruh inderanya. Bahkan dengan cara pria itu melihat ke arahnya sudah melemaskan kakinya. Wanita itu berharap dirinya tidak melakukan tindakan ceroboh dengan tersandung di hadapan Pangeran-nya. Atau wanita itu bersumpah akan menyembunyikan wajahnya seumur hidup jika hal itu terjadi.  ※ ※ ※ ※ ※
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD