Why don't you give me a reason
Please tell me the truth
You know that I'll keep believing
Until I'm with you
Why don't you love me, kiss me
I can feel your heart tonight
It's killing me
~ Why Don't You Love Me | Hot Chelle Rae feat. Demi Lovato ~
❄❄❄❄❄
Sampai di kamarnya, Sophie bersandar pada pintu yang tertutup di belakangnya. Dia memejamkan matanya dan bayangan wajah Felix terlintas dalam pikirannya. Semua memori tentang pria itu masih hangat dalam ingatannya. Memunculkan perasaan hangat dalam hatinya.
Tapi dia seorang Pangeran.
Kelopak mata wanita itu terbuka saat sebuah fakta menghantamnya. Seakan-akan tubuhnya dihempaskan ke tanah begitu kerasnya.
Jangan berharap apapun Sophie. Dia seorang Pangeran. Sedangkan kau hanya wanita tuna rungu. Kau tidak pantas untuknya.
Murung dengan kenyataan itu, Sophie memilih untuk tidak memikirkan kembali kisah dongeng itu. Wanita itu meraih ponsel dan berniat menghubungi ketiga kakaknya setelah mendapatkan kembali sinyal.
Wajah Leo langsung terpampang di layar ponselnya, "Kau dari mana saja? Caleb sudah siap memesan tiket saat kau tidak bisa dihubungi."
"Ma-maafkan aku. Ada sedikit masalah."
Layar ponsel Sophie bergerak-gerak dan mengantikan wajah Leo dengan Caleb.
"Ada masalah apa? Kau baik-baik saja? Aku akan terbang ke sana."
Sophie menggelengkan kepalanya, "Jangan. Aku ... aku baik-baik saja. Masalahnya sudah teratasi."
Lagi-lagi ponsel itu direbut. Tapi kali ini wajah Alex yang muncul, "Jangan lakukan hal seperti itu lagi. Aku dan Leo kesulitan menahan Caleb untuk menjemputmu."
Seketika Sophie pun tertawa membayangkan kepanikan Caleb yang berlebihan, sedangkan Alex dan Leo terus menenangkannya.
"Padahal dia ... dia sudah berjanji tidak menjadikanku prioritas." Kecewa Sophie.
"Oh... percayalah adik kecilku dia menepati janjinya."
"Benarkah?" binar keceriaan tampak di wajahnya.
"Dia sedang berkencan Sophie. Tapi tidak mau memberitahu siapa namanya. Kupikir dia berbohong."
Sophie pun ikut tertawa dengan Leo. Kemudian wanita itu bisa melihat Caleb merengut kesal. Bibir sang kakak kaku dan kedua alisnya bertaut, kebiasaan ketika dia kesal.
"Aku tidak berbohong. Namanya Keira."
"Kei... siapa? Bi-bisakah kau mengejanya untukku?"
Dengan bahasa isyarat, Caleb mengejak huruf K-E-I-R-A secara perlahan. Setelah merangkai semua huruf itu, barulah Sophie bisa mengetahui nama yang disebutkan Caleb.
"Keira? Nama yang unik."
"Ya. Dia pun wanita yang unik."
Meskipun hanya melalui video call, tapi Sophie bisa melihat rona malu di wajah sang kakak. Ada perasaan lega melihat sang kakak akhirnya bisa menepati janjinya.
"Kau ... kau harus mengenalkannya padaku ju-juga pada Alex dan Leo."
"Tapi aku tidak yakin hubungan ini akan berhasil." Gundah Caleb.
"Mengapa?"
"Hubungan kami rumit Sophie. Aku tidak yakin untuk melangkah bersamanya."
Hubunganku dengan Felix pun akan rumit jika ternyata pria itu memiliki perasaan yang sama denganku. Pikir Sophie sedih.
Wanita itu berusaha menyingkirkan perasaannya dan memusatkan perhatiannya kepada kakaknya.
"Jika kalian memiliki perasaan yang sama, jangan ... jangan ragu," Sophie tersenyum menyemangati kakaknya, "Ke-kesempatan tidak datang dua kali. Pikirkanlah Ba-bagaimana perasaanmu yang sebenarnya."
Apakah aku juga memiliki kesempatan bersama sang Pangeran? Harap Sophie.
"Aku akan mendengarkan nasehatmu."
"Bagus. Ka-kalau begitu aku mau mandi. Bye." Sophie melambaikan tangannya kepada ketiga kakaknya yang berebutan untuk tampil di layar ponselnya.
Setelah sambungan itu terputus, Sophie berjalan menghampiri jendela. Pemandangan kota Fremont yang diselimuti salju begitu indah. Seperti gambar cover buku tulisnya saat masih sekolah.
Meskipun menatap keluar jendela, tapi pikiran wanita itu melayang ke tempat lain. Dia berusaha menyingkirkan pemikiran tentang Pangerannya yang memesona.
※ ※ ※ ※ ※
Kembali ke Villa, Felix merasakan suasana kembali seperti semula. Sunyi dan damai. Seharusnya pria itu menyukainya. Bukankah dia pria penyendiri pecinta keheningan?
Tapi anehnya Felix justru mendapati dirinya tidak menyukai gambaran itu lagi. Keceriaan Sophie yang menghidupkan tempat ini herannya membuat pria itu merasa nyaman. Bersama Sophie kehidupan Felix yang lama terasa membosankan.
Selain itu Felix bisa melihat bayangan-bayangan wanita itu di setiap ruangan. Seperti halnya saat ini pria itu duduk di sofa depan perapian. Dia pun teringat Sophie yang selalu duduk di sampingnya dan tak berhenti untuk berbicara.
Suara Benito yang menghela nafas panjang mengalihkan perhatian Pangeran itu. Dia bisa melihat anjingnya meletakkan kepalanya di atas kedua kakinya dengan lesu.
"Kau merindukannya?"
Suara helaan nafas anjing itu kembali terdengar. Benito tak tak bersemangat setelah Sophie pergi. Seakan wanita itu membawa semangat anjing itu bersamanya.
"Aku akan segera bertemu dengannya. Anehnya aku pun merindukannya." Felix meraih gelas di atas meja, kemudian meneguk Vin Brule.
Bahkan minuman itu saja mampu mengingatkan Felix bagaimana reaksi Sophie saat pertama kali mencobanya.
Felix meletakkan kembali gelas itu dan menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa. Kepalanya bersandar dengan mata terpejam. Membiarkan kesadarannya mulai berpindah ke alam mimpi.
※ ※ ※ ※ ※