Tidak sengaja ponsel Yonna yang di genggam nya begetar, terlihat nama Anya yang menelepon nya saat itu juga.
Akhir nya dia mengangkat telepon tersebut.
“Hallo Anya, ada apa?” Tanya Yonna kepada Anya saat itu.
“Hm... iya bu, saya mau menyampaikan kepada ibu soal pak Dion dan saya akan pulang pagi ini bu.” Ucap Anya kepada Yonna yang pada hari itu.
“Ooo iya sudah, hati-hati saja. Sudah dulu ya aku ada pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan juga, bagaimana pun keadaan ini menjadi sebuah kenyataan diri ini semakin mendalam satu sama lagi. Dan sampai kan ke dia jangan sampai pulang nya akan telat lagi!” Ucap Yonna kepada Anya sedikit nada tinggi.
Anya menjawab dengan terbatah-batah dan dia merasa kalau Yonna sangat kesal kepada Dion.
“Ba....ik... lah Bu.”
“Iya sudah, aku mau lanjut kerja dulu dan tidak mau banyak bicara lagi.” Ucap Yonna kepada Anya dan dia langsung mematikan ponsel nya dengan cepat saat itu juga.
Yonna semakin kesal setelah mendengarkan nama Dion yang saat itu akan pulang menjelaskan kalau semua nya bisa di lakukan tanpa memikir kan akan menjadi sebuah keyakinan saja saat ini pada diri ini.
“Ahk...! memang Dion membuat aku naik darah saja, sampai detik ini aku masih melakukan yang terbaik satu sama lain nya lagi. Memang kejadian itu melakukan hal yang baru sampai menjadikan satu sama lain nya.” Ucap Yonna di dalam hati nya yang merutukan diri nya sendiri.
Di hadapan Yonna ada setumpuk tinggi semua berkas yang akan di selesaikan, semakin kesal dan kepala nya sakit memikirkan nya.
“Iya ampun aku lupa menyelesaikan semua berkas ini! Aku tidak tahu harus mengatakan diri ini semakin mendalam saja, di sisi lain pun aku paham apa yang akan di kerjakan di dalam kehidupan ini hanya memikir kan pria yang tidak sadar diri itu!!!”
Rutukan Yonna saat mengingat wajah Dion yang membuat diri nya menderita juga demi apa pun itu terjadi saat ini akan dia kesal.
Di tempat lain, Dion yang baru masuk ke dalam mobil hanya termenung dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dion memandang ponsel berharap kalau Yonna akan menelepon nya saat ini.
“Huh.... kenapa dia masih saja kesal dengan aku! Dari kemarin aku berusaha menelepon nya dan tidak ada yang bisa aku lakukan diri ini semakin mendalam saja, sampai lah di mana kalau menjadi sebuah kenyataan diri ini semakin pada diri ini, menjadi keyakinan diri ini menjadi sebuah kenyataan yang ada satu sama lain nya.”
Keluhan Dion yang saat itu melakukan yang terbaik satu sama lain nya.
Anya melihat kalau Dion begitu gelisah dan tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi nya satu sama yang lain nya lagi. Anya berharap bisa cepat melakukan yang terbaik untuk Dion.
“Pak, apakah bapak baik-baik saja?” Tanya Anya dengan sangat gelisah saat itu juga di hadapan Dion.
"Hmmm... aku baik baik saja, memang nya ada apa? jangan khawatirkan kalau semua nya ada masalah pada dirikh saat ini, sejauh ini pun aku bertahan pada diri sendiri." Ucap Dion kepada Anya.
Anya semakin bingung entah apa yang ada di dalam pikiran nya saat ini.
Di sisi lain yang terbaik satu sama lain nya di hadapan diri ini Yonna merasa kalau diri nya menjadi tidak menentu juga di sisi lain pun mendalam kehidupan yang tidak biasa di hadapi selama ini, tetapi dia merasa ada kebahagiaan yang sudah terjadi satu keinginan diri ini menjadi nyata saja.