Alex mengepalkan tinjunya, wajahnya memerah oleh kemarahan yang memuncak. Ia melangkah tegas ke arah anak buahnya yang terbukti bersekutu dengan musuhnya. "Kau berani mengkhianati ku?" desisnya, suaranya tajam menusuk udara.
Anak buahnya menatap Alex dengan tatapan penuh penyesalan, namun tidak ada kata yang keluar dari bibirnya. Ia terdiam, menunggu keputusan tak terelakkan.
Dengan pukulan yang menggelegar, tinju Alex mendarat dengan keras di pipi anak buahnya. Tubuhnya terhuyung ke belakang, terjatuh ke lantai dengan gemetar. Nafasnya terengah-engah, mata memandang Alex dengan campuran rasa sakit dan kebingungan.
Alex menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan amarahnya. "Ini adalah harga yang kamu dapat dari sebuah pengkhianatan," desahnya, suaranya penuh dengan kata-kata pahit.
Setelah puas menghajar marco Alex merenung dalam keheningan ruangannya, mata yang biasanya tajam kini terlihat dalam kebingungan. Pengkhianatan Marco telah membuka luka dalam yang dalam. Sekarang, tugasnya adalah mengungkap siapa lagi yang terlibat dalam konspirasi ini.
Dengan hati-hati, Alex memeriksa catatan dan data yang terkait dengan kejadian-kejadian terakhir. Ia memilah-milah informasi dengan teliti, mencari petunjuk apa pun yang mungkin terlewatkan.
Van memasuki ruangan, mengetuk pintu dengan lembut. "Alex, saya pikir saya menemukan sesuatu yang mungkin bisa membantu."
Alex mengangkat kepala, mata tajamnya bertemu dengan mata Van. "Apa yang kamu temukan?"
Van mengulurkan selembar kertas yang berisi daftar aktivitas tim logistik selama beberapa minggu terakhir. "Saya memeriksa catatan ini ulang. Ternyata, ada beberapa pola yang mencurigakan."
Alex mengamati daftar itu dengan cermat. Beberapa nama menonjol, orang-orang yang bekerja erat dengan Marco dalam beberapa proyek khusus. "Inikah mereka?"
Van mengangguk. "Saya rasa ada kemungkinan bahwa beberapa dari mereka mungkin terlibat. Kami harus menindaklanjuti dengan penyelidikan lebih lanjut."
Alex mengangguk, keputusan telah diambil. "Segera panggil mereka satu per satu. Kita akan menginterogasi mereka tanpa memberikan kesempatan bagi mereka untuk berkomplot lebih lanjut."
Van mengerti urgensi situasi ini dan dengan cepat pergi untuk mengatur pertemuan dengan anggota tim logistik yang mencurigakan.
Alex duduk kembali di mejanya, pikirannya menggolongkan berbagai kemungkinan dan skenario. Ini adalah saat krusial dalam bisnis gelap mereka, dan keputusan harus diambil dengan bijak.
Hari itu, udara kota B terasa segar dan terang. Mia memandang sekitar dengan mata penuh harap, menghirup nafas baru kehidupan yang akan dimulainya di sini. Dia yakin, ini adalah langkah yang benar.
Adik laki-lakinya, Alpha, berdiri di sisinya dengan senyum cerah di wajahnya. Wajahnya penuh semangat dan tak sabar untuk memulai petualangan baru di sekolah yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya.
"Kak Mia, aku senang sekali!" kata Alpha dengan suara riang. "Aku yakin aku akan suka di sini."
Mia tersenyum hangat, merasa lega melihat adiknya begitu bersemangat. "Pasti, Alpha. Kamu akan bertemu teman-teman baru dan belajar banyak hal menarik di sekolah ini."
Keduanya berjalan bersama menuju gerbang sekolah yang megah. Pohon-pohon di halaman tampak hijau dan segar, menciptakan suasana yang menyenangkan.
Saat mereka tiba di ruang pendaftaran, petugas sekolah menyambut mereka dengan ramah. Mia memandu Alpha melalui proses pendaftaran, memberikan dukungan dan semangat yang dibutuhkan.
Alpha duduk di bangku ruang tunggu, menunggu giliran untuk bertemu guru pembimbingnya. Matanya penuh antusiasme, siap untuk memulai babak baru dalam pendidikannya.
Mia menyentuh pundak Alpha dengan lembut. "Aku yakin kamu akan menjadi siswa yang hebat di sini, Alpha. Jangan ragu untuk mengejar impianmu."
Alpha menatap Mia dengan penuh keyakinan. "Terima kasih, Mia. Aku beruntung memiliki kakak sepertimu."
Saat kata-kata itu terucap, Mia merasa haru dan bersyukur. Ini adalah awal dari kehidupan baru mereka di kota B, dan dia berjanji untuk selalu mendukung dan melindungi adiknya.
Alex duduk di meja yang penuh dengan berkas-berkas dan daftar nama yang disusun dengan rapi. Ia mencari-cari petunjuk yang bisa membantu mengungkap pengkhianatan dalam bisnisnya. Namun, ada satu nama yang mencuri perhatiannya dan membuatnya bingung: "Devil."
Matanya memandang nama itu berulang kali. "Devil" bukanlah nama manusia, dan Alex tahu bahwa ini harus menjadi sebuah kode atau alias. Pertanyaan yang memenuhi pikirannya adalah, siapa yang berada di balik nama ini?
Ia mencoba mengingat setiap orang yang bekerja dengannya, mencari petunjuk yang mungkin menghubungkan nama ini dengan salah satu rekan bisnisnya. Namun, sulit untuk menemukan jawaban yang jelas. Bisnis gelap selalu penuh dengan rahasia dan kode-kode yang rumit.
Alex menyentuh dagu dengan jari-jarinya, merasa frustrasi. Ia tahu bahwa menemukan identitas "Devil" adalah salah satu kunci untuk mengungkap pengkhianatan dalam bisnisnya, tetapi bagaimana caranya? Siapa yang bisa bersembunyi di balik nama ini dengan begitu baik?
Tepat, hal ini memang mencurigakan. Nama "Devil" seharusnya tidak terdapat dalam daftar orang-orang yang bekerja bersama Alex. Hal ini tentu saja membingungkan Alex, karena "Devil" jelas bukan nama manusia sebenarnya.
Alex merasa semakin waspada. Ia menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih kompleks dan rahasia di balik bisnis gelapnya. Ia mulai bertanya-tanya apakah ini adalah kode atau apakah ada organisasi atau entitas lain yang terlibat dalam situasi ini.
"Van, kita punya masalah serius di sini," kata Alex dengan suara serius. "Ada nama 'Devil' dalam daftar ini, dan saya yakin itu bukan nama manusia."
Van mengerutkan kening, menyadari seriusnya situasi ini. "Devil? Ini benar-benar aneh. Kita perlu mencari tahu apa yang dimaksud dengan nama itu."
Mereka mulai memeriksa catatan dan informasi yang mereka miliki, mencari petunjuk tentang apa arti dari nama "Devil". Apakah itu adalah julukan atau kode yang digunakan oleh seseorang atau kelompok tertentu?
Pertanyaan-pertanyaan ini menggantung di udara, menciptakan aura misteri yang mengelilingi bisnis gelap mereka. Alex dan Van menyadari bahwa mereka harus memecahkan teka-teki ini sebelum situasi semakin rumit dan membahayakan bisnis mereka.
Dengan tekad dan determinasi yang baru, mereka bersumpah untuk menemukan identitas sebenarnya dari "Devil" dan mengungkap kebenarannya. Mereka tahu bahwa masa depan bisnis gelap mereka bergantung pada kemampuan mereka untuk memecahkan teka-teki ini.
Langit senja mulai merayap di atas kota B ketika Mia akhirnya meninggalkan sekolah dengan Alpha. Mereka berjalan pulang, membicarakan hari pertama Alpha di sekolah baru dengan penuh semangat.
Sesampai di rumah alpha langsung pergi kekamarnya sedangkan mia memilih untuk berjalan menuju dapur, namun tanpa sengaja Mia mendengar suara langkah cepat mendekat. Pintu rumah terbuka dan David muncul dari dalam, sibuk berbicara di ponselnya. Wajahnya terlihat tegang dan penuh perhatian.
Mia memandang David dengan tatapan heran, bertanya-tanya tentang isi percakapan yang membuatnya begitu terfokus. Meskipun mereka tinggal dalam satu rumah, jarang sekali mereka terlibat dalam urusan satu sama lain.
Setelah percakapan selesai, David menutup ponselnya dan memandang Mia dengan tanda tanya di matanya. "Ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?" tanyanya dengan nada penasaran.
Mia merasa kebingungan sejenak, sebelum akhirnya menggelengkan kepala. "Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya mencari Alpha untuk membicarakan hari pertamanya di sekolah."
David mengangguk, lalu melangkah masuk ke rumah dengan langkah tergesa-gesa. Terdengar gelisah di dalam suaranya, dan Mia merasa ada sesuatu yang tidak biasa.
Mia mengejar sedikit langkah David. "Apakah semuanya baik, David?"
David memutar matanya sebentar sebelum akhirnya menjawab, "Ya, Mia. Hanya urusan bisnis kecil yang perlu saya selesaikan. Jangan khawatir."
Saat Mia berjalan melalui lorong menuju kamar Alpha, ia terdiam sejenak untuk merenungkan pertemuan itu. Ada rasa kekhawatiran yang mengganjal dalam dadanya. Apakah David terlibat dalam sesuatu yang lebih dari yang terlihat?