BAB 4.

1074 Words
Dikota A, kegelapan meraja di bawah bayang-bayang gedung tinggi dan jalanan sepi. Alex, seorang pemain kunci dalam dunia bisnis gelap, terus terlibat dalam urusan berbahaya. Bisnis senjata api ilegalnya menguntungkan, tetapi juga membawa risiko yang semakin mendekati. Di tengah tekanan dari berbagai pihak, termasuk kelompok mafia bersaing, Alex merasakan beban berat di pundaknya. Ancaman dan intimidasi dari mereka mulai menghantui setiap langkahnya. Hari demi hari, teror semakin dekat, memaksa Alex untuk mempertimbangkan langkah selanjutnya dengan hati-hati. Saat malam mendekat, ruang rapat gelap di gedung terpencil adalah tempat di mana Alex bertemu dengan pasukannya. Ekspresi wajah mereka mencerminkan ketegangan dan kecemasan yang terbaca jelas. Suasana tegang memenuhi ruangan seolah menunggu ledakan. "Kita harus mengambil tindakan," desis Alex, suaranya penuh dengan otoritas dan frustrasi. "Aku tidak akan membiarkan bisnis ini hancur karena ancaman dari luar." Salah satu rekan setia, Marco, menatap Alex dengan penuh kekhawatiran. "Tapi Bos, situasi ini semakin memburuk. Mereka tidak main-main." Alex mengangguk, mata menyiratkan rasa perih yang dalam. "Saya tahu, Marco. Semuanya berawal dari keputusanku. Ini adalah harga yang harus aku bayar." Percakapan mereka diisi dengan ketegangan dan pertimbangan berat. Setiap kata diucapkan dengan penuh pertimbangan, setiap keputusan memiliki implikasi besar. Di dalam ruangan itu, para pemain gelap berkumpul untuk memutuskan nasib bisnis mereka. Dikota B, Mia terlelap dalam tidurnya, tak sadar akan kegelapan yang merayap masuk ke dalam mimpinya. Bayangan-bayangan gelap menari-nari di sekitarnya, menciptakan dunia yang terasa lebih mencekam daripada kenyataan. Di kejauhan, ada suara gemuruh yang menggema, menandakan kedatangan seseorang yang tidak diinginkan. Alex muncul di depannya, bayangannya mengisi ruang dengan aura kekuasaan yang mengintimidasi. Wajahnya terbungkus dalam bayangan gelap, ekspresinya tak lagi dikenali. Mia mencoba berteriak, tetapi suaranya terhenti di tenggorokannya. Kakinya terasa lemah, tidak mampu untuk bergerak. Ia terjebak dalam mimpi buruk ini, tak bisa berbuat apa-apa. Alex mendekatinya dengan langkah berat, tatapannya menusuk jauh ke dalam jiwa Mia. Dalam kegelapan mata itu, Mia melihat kilatan kekejaman yang tak terbantahkan. "Kau pikir kau bisa lari dariku?" desis Alex dengan suara menggertak. Suaranya bergema di keheningan, menciptakan ketegangan yang tak tertahankan. Mia mencoba berteriak lagi, namun kata-katanya tercekat oleh ketakutan yang memenuhi dadanya. Ia merasakan rasa sakit yang menusuk-nusuk saat Alex mendekat, memenuhi mimpi buruknya dengan kegelapan yang menakutkan. Pada saat itu, Mia terbangun dengan napas tersengal-sengal. Keringat mengalir deras di tubuhnya, dan matanya memandang ke langit-langit dengan penuh ketakutan. Ia mencoba menenangkan diri, mengingatkan dirinya bahwa itu hanya mimpi. Namun, bayangan Alex masih menghantui pikirannya, mengisi ruangnya dengan kecemasan yang tak terduga. Sementara didalam ruang tersembunyi, Alex dan Van duduk di seberang meja kayu gelap, wajah mereka tercermin dalam cahaya gemerlap neon dari jendela. "Kita harus bertindak cepat, Van," desis Alex, matanya penuh dengan tekad. "Informasi rahasia telah bocor, dan bisnis kita sedang dipertaruhkan." Van mengangguk perlahan. "Saya sepakat, Alex. Pertama-tama, kita harus mencari tahu siapa yang membocorkannya. Saya telah memeriksa setiap rincian rencana, hanya segelintir orang yang memiliki akses ke informasi ini." Alex mengerutkan kening. "Betul. Mulailah dengan tim logistik. Mereka memiliki akses langsung ke data ini." Van mengambil catatan dengan serius. "Tim logistik, dimengerti. Namun, perlu diingat, beberapa dari mereka sudah bersama kita selama bertahun-tahun." "Kita harus tegas, Van," tegas Alex. "Ini tentang masa depan bisnis kita. Periksa juga orang-orang dalam lingkaran terdekat. Mungkin ada yang merasa tertekan atau tidak puas dengan situasi ini." Van mengangguk lagi. "Saya akan melakukan penyelidikan dengan seksama. Dan jika kami menemukan petunjuk apapun, langkah selanjutnya apa?" Alex memandang tajam. "Jika kita menemukan pelakunya, kita akan bertindak tegas. Bisnis ini tidak bisa bertahan jika kita memiliki pengkhianat di antara kita." Suasana di ruangan itu terisi dengan keputusan berat. Kedua pria itu tahu bahwa tak ada ruang untuk kompromi. Bisnis ini adalah hidup mereka, dan mereka akan melindunginya dengan segala cara. "Baik, Van," ujar Alex akhirnya. "Waktu sangat berharga dalam situasi ini. Kabari saya segera jika Anda menemukan informasi tambahan." Van mengangguk, memahami pentingnya tugasnya. "Saya akan segera memulainya, Alex. Bisnis ini akan tetap kokoh, tidak ada yang akan menghancurkannya." Sementara Mia yang ketakutan mencoba untuk menenangkan dirinya dengan napas dalam dan memusatkan pikirannya. Ia menyadari bahwa ini hanya mimpi buruk, dan bahwa kekuatan sejati terletak dalam kemampuannya untuk mengatasi rasa takut. Dengan mata terpejam, Mia memusatkan perhatiannya pada irama napasnya. Ia menghirup udara dengan perlahan, membiarkannya mengisi paru-parunya secara mendalam, dan menghembuskannya dengan lembut. Setiap helaan napas membawa ketenangan, mengalirkan energi positif ke seluruh tubuhnya. Mia mencoba untuk memvisualisasikan tempat yang aman dan menenangkan dalam pikirannya. Ia membayangkan dirinya berada di tepi pantai, merasakan hangatnya pasir di bawah kakinya dan mendengarkan deburan ombak yang menenangkan. Suara alam ini menjadi mantra yang menenangkan jiwanya, membantu mengusir ketakutan yang masih mengendap. Tangan Mia perlahan-lahan menggenggam erat selimut di sekitarnya, mencari kehangatan dan keamanan di dalamnya. Ia merasakan denyut jantungnya yang perlahan-lahan kembali ke ritme yang normal, mengusir kegelisahan yang memenuhi dadanya. Dengan setiap napas yang diambil dan dilepaskan, Mia merasakan dirinya kembali mengendalikan tubuh dan pikirannya. Ia tahu bahwa kekuatan untuk menghadapi mimpi buruk dan ketakutan datang dari dalam dirinya sendiri. Akhirnya, ketenangan menyebar melalui tubuh Mia, menggantikan ketakutan dengan ketetapan dan keyakinan. Ia membuka mata dengan penuh keberanian, siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang. Mencari informasi tentang pengkhianat bukanlah hal sulit bagi alex apalagi van. Van yang tengah duduk di ujung meja, matanya menatap lurus ke arah Alex, ekspresinya campur aduk antara kesedihan dan tekad. "Alex," ucap Van dengan suara serius, "Aku telah menemukan siapa yang membocorkan informasi rahasia kita." Alex menatap Van dengan mata tajam "Siapa?" tanya Alex, suaranya rendah namun penuh dengan desakan. Van menelan ludah, mempersiapkan diri untuk pengungkapan yang akan mengguncang dasar bisnis mereka. "Ini adalah Marco, salah satu anggota tim logistik kita yang sudah bersama kita selama bertahun-tahun." Alex terdiam sejenak, rasa kecewa dan amarah bergelombang di dalam dirinya. Marco, orang yang telah dia anggap sebagai sahabat dan rekan setia, adalah pengkhianat di balik segala kekacauan ini. "Kita harus bertindak cepat," tambah Van, mencoba menahan rasa sesak di dadanya. "Marco tidak boleh lagi memiliki kesempatan untuk merusak bisnis kita lebih lanjut." Alex mengangguk, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Meskipun kecewa, dia tahu bahwa langkah ini tak bisa dihindari. Bisnis ini adalah hidup mereka, dan mereka harus melindunginya. "Hubungi tim keamanan. Pastikan Marco ditahan dan diisolasi," perintah Alex dengan suara tegas. Van mengangguk, berdiri dengan mantap. "Segera, Alex. Bisnis ini adalah segalanya bagaimana kita harus memastikan keamanannya." Kedua pria itu saling berpandangan, mengerti bahwa tahap baru dalam perjuangan mereka telah dimulai. Namun, kali ini, mereka tahu bahwa mereka menghadapinya bersama-sama, lebih kuat dari sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD