BAB 18.

1045 Words
Suara tembakan tiba-tiba menggelegar di langit sore ini, memecah keheningan yang telah meliputi hutan terlarang ini. Semua mata di sekitar tempat itu langsung tertuju pada sumber suara itu. Peluru yang tiba-tiba terbang dari balik pepohonan mengejar Alex dengan kecepatan mengerikan. Dia merasa hawa panas dan tajam melesat melewatinya sebelum akhirnya menghantam pundaknya dengan keras. Dalam sekejap, kekuatannya memudar, dan dia jatuh terhuyung ke tanah. Dalam keadaan terjatuh, mata Alex terfokus pada langit-langit dedaunan yang menaungi mereka, sementara detak jantungnya berdegup liar, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. "Tuan Alex!" teriak pengawal Alex begitu mereka melihat Alex yang tertembak. Mereka segera sigap, bergerak cepat untuk melindungi Alex, masing-masing mengeluarkan pistol mereka. Dengan tatapan tajam dan wajah tegang, mereka memperhatikan sekeliling, siap untuk melawan ancaman apapun yang mungkin datang. Mereka adalah benteng terakhir di antara Alex dan bahaya yang mengintai di hutan terlarang ini. "Cepat, bawa Tuan Alex pergi dari sini," perintah salah seorang pengawal kepada yang lain. "Baik," jawab pengawal yang lain sambil menegakkan tubuhnya, siap untuk melindungi Alex. "Tuan Alex, apa Anda masih bisa berdiri?" tanya salah satu pengawal, penuh kekhawatiran. "Aku masih bisa berjalan," desis Alex, wajahnya pucat namun sikap dinginnya masih saja terlihat. Dengan bantuan pengawal-pengawal setianya, mereka bergerak dengan hati-hati melalui hutan yang gelap dan berbahaya, mencari tempat perlindungan yang lebih aman. Namun, sepertinya Alex tidak diizinkan untuk pergi hidup-hidup oleh musuhnya itu. Belum jauh mereka berjalan, segerombol orang dengan penutup wajah dan senjata lengkap menghadang mereka. "Mau lari kemana kalian?" ucap salah satu dari mereka, suaranya tertutup oleh masker yang menakutkan. "Kalian tidak akan bisa kabur dari sini." Pengawal-pengawal Alex mengambil posisi bertahan, mata mereka penuh dengan tekad untuk melindungi Tuan Alex hingga titik terakhir. Sementara itu, Alex memegang rasa tegang, tahu bahwa pertarungan tak terelakkan. Mereka berada dalam keadaan genting, namun tekad mereka tak tergoyahkan. "Sial, siapa yang telah menyuruh kalian, hah?" teriak Alex, rasa frustrasi menyulut dalam dirinya. "Tuan, jangan berteriak atau luka tuan akan lebih parah," ingatkan salah satu pengawal dengan serius. "Maaf, tuan. Tuan kami tidak sudi bertemu denganmu, Tuan Alex," ejek pria bertopeng itu dengan nada sinis. "Dasar pengecut," balas Alex dengan nada tajam, kesal akan situasi ini. "Tuan, kami bukan pengecut, tuan. Dia hanya tidak ingin repot-repot mengurusi anda, sedangkan tuan kami punya kami yang siap dengan perintahnya," jelaskan pengawal dengan tegas, mencoba mempertahankan sikap mereka. Meski sudah tertembak, Alex masih mampu menembak beberapa pria bertopeng itu. Dengan tekad yang membara dan insting bertahan hidup yang kuat, ia mengatasi rasa sakit dan terus melawan. Peluru melesat dari senjatanya, menandai pria-pria bertopeng itu satu per satu. Setiap tembakan membawa harapan baru untuk keluar dari situasi berbahaya ini. Di tengah kekacauan dan keganasan aksi tembak-menembak, ketegangan mencapai puncaknya, dan nasib mereka dalam pertarungan ini semakin tak pasti. Dalam keadaan darurat, Alex berpaling ke pengawal setianya yang tersisa. Napasnya terengah-engah, namun matanya masih memancarkan tekad. "Kita harus cepat mencari tempat perlindungan. Mereka akan segera mengejar kita," desah Alex dengan suara parau. Pengawal terdepan mengangguk, matanya waspada. "Saya tahu tempat yang aman, Tuan Alex. Saya akan membawa Anda ke sana." Alex menarik nafas dalam-dalam, mencoba menahan rasa sakit dari luka-lukanya. "Lakukan apa pun yang diperlukan. Kita tidak boleh terjebak di sini." Mereka melanjutkan langkah mereka dengan hati-hati, menyusuri lorong-lorong gelap di dalam hutan yang terlarang ini. Sementara mereka berjalan, pengawal yang setia terus memantau sekitar mereka, siap untuk bertindak jika ada bahaya mendekat. "Dia... dia tidak akan berhasil melarikan diri, Tuan Alex," ujar salah satu pengawal dengan nada penuh keyakinan. "Tidak ada yang bisa menahan Tuan Alex. Kita akan menemukan jalan keluar dari situasi ini," ucap yang lain, mencoba memberikan semangat pada Alex. Dengan semangat dan tekad yang kuat, mereka berusaha mencapai tempat perlindungan, berharap bisa menahan serangan musuh yang mengancam nyawa mereka. Pengawal-pengawalnya segera mengambil posisi bertahan, membalas tembakan dengan sengit, mencoba untuk memberikan peluang kepada Alex untuk pulih. Namun, situasinya semakin genting dan peluang untuk keluar hidup-hidup semakin tipis. "Tuan Alex! Tuan Alex!" teriak salah seorang pengawal dengan nada penuh kekhawatiran ketika melihat darah yang mengucur dari lengan alex. Tubuh Alex terasa berat dan matanya kabur. Namun, dengan tekad yang membara, ia mencoba untuk bangkit lagi. "Kita... kita harus terus melarikan diri," bisiknya dengan susah payah. Namun sepertinya dewa perang tidak berpihak kepada Alex karena, dengan kejutan yang mengejutkan, Alex harus kembali tertembak dan terjatuh ke jurang ketika mereka berusaha untuk melarikan diri. "Tidak, Tuan Alex!" teriak salah satu pengawal Alex dengan suara lantang, penuh dengan keputusasaan dan kekhawatiran ketika melihat alex yang terjatuh kejurang. "Kita harus segera keluar dari hutan ini dan meminta bantuan Tuan Van," ucap salah seorang pengawal Alex yang masih bertahan dengan suara tegas dan penuh keputusasaan. "Kita tidak punya pilihan lain. Kita harus sampai ke Tuan Van." Sementara itu, seseorang yang memperhatikan pertarungan mereka dari balik teropongnya pun tersenyum puas ketika melihat adegan Alex yang jatuh ke jurang dengan luka parah akibat tembakan. "Alex itu pantas kamu dapatkan," Ucap orang pertama yang mengamati dari teropong,orot matanya penuh dengan kepuasan jahat. "Aku yakin dia pasti sudah mati," tambahseseorang yang berada disebelah orang pertama tersbut dengan keyakinan tegas. "Akhirnya, batu sandungan kita berhasil kita lenyapkan," ucapnya dengan nada kemenangan, merasa bahwa rencananya untuk menyingkirkan Alex akhirnya berhasil. Sementara tiga orang pengawal Alex yang tersisa akhirnya sampai di mansion mewah milik Alex, Mia yang sudah berdandan rapi dan cantik pun sudah bersiap untuk menyambut kedatangan Alex. Bersama dengan pelayan Alex yang lain, mereka telah menyiapkan segala sesuatunya sesuai dengan perintah Alex. "Dimana pria berengsek itu? Kenapa aku tidak melihatnya?" gumam Mia, matanya terus memandang sekeliling mencari sesosok orang yang menyebalkan dimatanya itu. Tiga pengawal itu keluar dari mobil dalam keadaan berantakan. Salah satu dari mereka menyampaikan berita buruk, wajahnya penuh kekhawatiran. "Gawat, Tuan Alex tertembak ketika menuju kesini dan jatuh ke jurang," ucapnya dengan nada serius, memastikan agar semua orang di sekitarnya memahami situasi yang kritis ini. Mia menahan nafas dengan wajah pucat. "Kita harus segera meminta bantuan polisi. dengan cepat!" "Tidak, jangan menghubungi polisi. Kita harus menghubungi Tuan Van," ucap salah seorang pengawal dengan suara tegas. "Benar, akan bahaya jika polisi tahu hal ini," tambah pengawal yang lain, sepakat dengan keputusan tersebut. Mereka semua setuju bahwa situasi ini terlalu rumit dan berbahaya untuk melibatkan pihak berwenang. Menghubungi Tuan Van adalah pilihan terbaik untuk mendapatkan bantuan yang diperlukan tanpa menarik perhatian yang tidak diinginkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD