BAB 17.

1059 Words
Hari berganti hari, kini Mia mulai merasa terbiasa dengan kesendirian yang menyelimutinya. Ruang kamar yang semula asing dan menakutkan, kini menjadi tempat perlindungan yang akrab baginya. Meskipun tubuhnya semakin pulih, kehadiran selang infus dan pakaian tidur yang dirasa terlalu mewah untuknya, tetap menjadi pengingat bahwa dia masih berada di tempat yang bukan miliknya. Mia memandangi jendela kamar, mengamati pepohonan yang bergoyang lembut ditiup angin. Suara daun-daun yang berdesir dan cahaya matahari yang menyelinap masuk, memberinya sedikit kenyamanan. Meskipun terkurung, Mia mencoba untuk tidak membiarkan kegelisahannya merajalela. Saat itu, pintu kamar terbuka perlahan. Seorang wanita dengan seragam pelayan masuk membawa nampan berisi makanan hangat. "Selamat pagi, Nona. Saya yakin Anda pasti lapar," sapa wanita itu dengan ramah yang tidak lain adalah ambar. Mia mengangguk sambil tersenyum lemah, merasa lega bahwa ada seseorang yang memperhatikannya. "Selamat pagi, Ambar. Terimakasih." "Nona, saya ingin memberitahu Anda bahwa Tuan Alex akan datang sore nanti, dan Anda diminta untuk menyambutnya di pintu depan bersama para pelayan." jelas ambar. "Menyambutnya? Untuk apa? Dia itu kan bukan raja, kenapa harus disambut?" jawab Mia sedikit kesal, kenapa juga ditnya harus menyambut Alex orang sudah menculiknya dan mengurung nya di tempat tersebut. "Nona... Saya mohon jangan berkata seperti itu. Jika orang lain mendengar dan melaporkannya kepada Tuan Alex, maka itu akan sangat berbahaya untuk kota semua." jawab ambar sedikit panik. "Ini adalah perintah langsung dari tuan Alex nona" tambahnya. "Menyebalkan sekali, baiklah kami yenanglah, Ambar. Aku tidak akan membuat kalian menderita." Ambar menatap Mia dengan pandangan yang penuh rasa terima kasih. "Terima kasih, Nona, Anda sungguh baik." Mia mengangguk, memahami bahwa keamanan mereka semua ada di tangan Alex. Walau begitu, rasa tak puas dan ketidaksetujuan terhadap situasi ini masih membuncah dalam dirinya. Saat pagi berlalu, Mia menghabiskan waktu dengan memeriksa sudut-sudut kamar dan menatap keluar jendela. Setiap detik, pertanyaan-pertanyaan tentang keberadaannya di sana terus menderu dalam benaknya. Apakah ada peluang untuk kabur? Bagaimana keadaan Alpha? Dan pertanyaan terbesar 'Mengapa Alex melakukan ini?' Di tempat lain, Alpha telah menjalin kesepakatan dengan orang yang menculiknya. "Baiklah, aku akan bekerja sama denganmu, tapi dengan satu syarat," ucap Alpha. "Syarat? Rupanya kamu ingin melakukan tawar-menawar denganku ya," sahut orang itu. "Itu jika kau mau, kalau tidak ya sudah," tambah Alpha dengan tegas. "Dasar bocah tengil, kenapa sifatmu mirip Alex bukannya Mia? Hidupmu sudah diujung tanduk tapi kamu masih bisa tawar-menawar," ujarnya dengan nada tajam. Alpha menolak untuk menerima kenyataan ini, "Jangan samakan aku dengan pria yang sudah menyakiti kakakku!" teriaknya dengan penuh emosi. "Baiklah-baiklah, jangan teriak begitu nanti tenggorokanmu sakit," ejek pria itu. "Baiklah, syarat apa yang kamu inginkan?" tambahnya dengan nada santai. "Aku ingin kau mengirimku kepada kakakku." Mendengar ini, pria itu tersenyum, "Dasar bocah, itulah yang ingin ku buat kesepakatan denganmu. Pergi ke rumah Alex dan buat dia mempercayaimu, lalu khianati dia." Tawa pria itu meledak, mengisi ruangan dengan nada penuh kemenangan. Alpha memikirkan dalam hatinya, 'Sebenarnya apa yang diinginkan oleh pria ini?' Mia kini tengah dengan khusyuk memandangi jam dinding yang tergantung di kamar itu. Dia melihat setiap detik jarum jam itu berdentang, seperti detik-detik keputusasaan yang terus berlalu. "Kenapa jam itu harus berlalu sangat cepat?" kesal Mia. Tidak lama kemudian, handphone Mia berdering, membuatnya sedikit tersentak. Mia memicingkan matanya ketika nama Alex terpampang di layar handphone itu. "Tidak bisakah kau tidak mengganggu hidupku?" Kesal Mia sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu. "Hallo," sapa mia. "Aku akan segera tiba, ku harap kamu tidak lupa dengan apa yang disampaikan Ambar padamu pagi!" ujarnya dengan nada tegas tanpa ada niat untuk menjawab sapaan dari mia. "Iya, aku tidak lupa," jawab Mia dengan nada ketusnya. "Good," kata Alex singkat sebelum mengakhiri panggilan yang terasa tidak bermutu. "Dasar b******n menyebalkan seenaknya saja dia menyuruh ku, jika aku tidak takut padanya aku tidak akan mau disuruh seperti ini" maki Mia pada angin kamar karena kesal dengan nasibnya saat ini. Di perjalanan pulang, Alex mengendarai mobil sport mewahnya dengan beberapa mobil hitam yang mengikutinya, tak lain adalah para pengawalnya. Mereka melaju dengan kecepatan yang sedang, mobil-mobil hitam bergerak serasi seiring langkah mobil Alex. Para pengawalnya tetap waspada, mata mereka memperhatikan sekeliling dengan cermat, siap untuk mengantisipasi segala kemungkinan. Mereka adalah tim yang terlatih dengan baik, setia pada tugas mereka untuk melindungi Alex. Suasana di dalam mobil terasa tegang, namun Alex tetap tenang di balik kemudi, tangan tergenggam erat. Dia tahu bahwa dalam dunia ini, kehati-hatian adalah harga yang harus dibayar untuk kekuasaan. "Mobil mereka sudah terlihat," ucap salah seorang berpakaian hitam sambil mengamati seseorang yang berada di balik teropong. Suaranya terdengar tegas dan penuh kewaspadaan. "Bagus, saat mobil mereka lebih dekat dengan posisi, cepat alihkan para pengawal Alex," perintah pria itu dengan suara tegas dan terukur. Para pengawal segera bergerak sesuai instruksi, beralih ke posisi baru dengan kecepatan yang mengesankan, siap mengamankan Alex dari setiap potensi ancaman. Mereka bekerja seperti satu kesatuan yang terlatih, menyelaraskan gerakan mereka dengan presisi yang memukau. Dengan cepat dan hening, para pengawal menaburkan paku di jalanan, siap untuk membuat mobil mereka mengalami bocor ban. Mereka bekerja dengan keahlian tinggi, memastikan paku-paku tersebar dengan merata di sepanjang jalan. Itu adalah tindakan cepat untuk memastikan bahwa mobil lawan tidak akan bisa melarikan diri dengan mudah. Keahlian mereka teruji, dan sebentar kemudian, posisi Alex semakin dekat dengan mereka. Misi ini adalah tindakan terakhir dalam pertarungan yang tak terlihat, dan semuanya bergantung pada eksekusi yang sempurna. Dalam sepersekian detik, ban mobil yang dikendarai oleh Alex meledak dengan suara mendebarkan, membuat mobilnya oleng dan hampir terperosok ke dalam jurang. Dengan refleks yang cepat, para pengawal Alex menghentikan mobil mereka, mencegah insiden yang lebih parah terjadi. Mereka beraksi dengan sigap, memastikan keamanan Alex adalah prioritas utama. Para pengawal dengan hati-hati memeriksa situasi dan siap untuk bertindak sesuai dengan perkembangan situasi. Itu adalah momen kritis yang menuntut respons yang cepat dan presisi. "Sial ada yang memasang jebakan" "Kita harus segera melindungi tuan Alex" "Cepat periksa keadaan tuan Alex" "Tuan, apakah Anda baik-baik saja?" tanya salah seorang pengawal dengan khawatir. Mereka semua memandang Alex dengan perhatian dan kesiapan untuk bertindak sesuai kebutuhan. Alex mengangguk, mencoba untuk menenangkan para pengawalnya. "Ya, saya baik-baik saja," jawabnya dengan tenang, meskipun sedikit terengah-engah akibat insiden tadi. "Aku yakin ini adalah jebakan, kalian harus waspada." Para pengawal mengangguk hormat, tetap waspada terhadap sekeliling. Mereka adalah tim yang terlatih dengan baik, selalu siap untuk bertindak dalam situasi darurat seperti ini. Kecelakaan tersebut adalah pengingat bagi mereka semua akan pentingnya kewaspadaan dan kesiapan dalam menjalankan tugas mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD