Hari ini, di sebuah perkebunan teh yang subur, para petani teh mulai melakukan rutinitas mereka dalam memanen pucuk daun teh.
Semua berjalan lancar, suasana tenang dipenuhi dengan aroma segar dari daun teh yang baru dipetik.
Namun, tiba-tiba, salah seorang buruh tani melihat sesosok yang terlihat asing, yang menarik perhatiannya seketika.
Buruh tani yang melihatnya tidak dapat menahan rasa penasaran dan kebingungannya. Hatinya berdebar kencang.
"Ah!" teriak buruh tani itu, matanya membesar dan jantungnya berdegup kencang.
Di hadapannya, tergeletak mayat tanpa busana, memberi nuansa kejutan dan ketegangan di tengah lahan perkebunan yang seharusnya tenang.
Tubuh wanita itu terbujur kaku di tengah rerumputan hijau, kulitnya pucat seperti lilin dan matanya terbelalak dalam ekspresi terkejut yang membeku.
Seseorang dengan kejam telah mengakhiri hidupnya di sini, di antara pohon-pohon teh yang tegak berdiri. Buruh tani itu tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pemandangan mengerikan ini, terperangah oleh kejadian yang tak terduga ini.
Para buruh tani lain yang mendengar teriakan itu segera berbondong-bondong mendekat, wajah-wajah mereka mencerminkan kebingungan dan kepanikan.
"Apa yang terjadi?" tanya salah seorang dari mereka, matanya terbelalak saat ia melihat mayat tanpa busana di tengah perkebunan.
"Ah..." teriak slaah seorang buruh tani wanita yang baru mendekat.
"Oh, tidak..." seru buruh tani lainnya, wajahnya pucat karena terkejut melihat pemandangan yang tak terbayangkan sebelumnya.
"Ini sangat tidak manusiawi," bisik salah satu dari mereka, suaranya penuh dengan keprihatinan dan ngeri.
"Kita harus lapor polisi sekarang," ujar buruh tani yang pertama kali menemukan mayat itu, mencoba untuk tetap tenang dan mengambil tindakan yang diperlukan.
Mereka semua menyadari bahwa situasi ini membutuhkan bantuan pihak berwenang untuk mengungkap kebenaran di balik kematian misterius ini.
Tidak butuh waktu lama bagi para polisi untuk tiba di tempat kejadian.
Mereka segera membentangkan garis polisi untuk mengamankan lokasi, sementara para buruh tani dan beberapa wartawan yang berada di sekitar berkerumun untuk melihat apa yang terjadi.
Para petugas kepolisian mulai bekerja secara profesional, mengamati setiap detail di sekitar mayat.
Mereka mencatat informasi penting dan mencari petunjuk apapun yang bisa membantu mereka dalam penyelidikan ini.
Sementara itu, seorang wartawan dengan kamera di tangannya mendekati buruh tani yang menemukan mayat tersebut untuk melakukan wawancara.
Dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan hati-hati, mencoba untuk mendapatkan informasi yang akurat tentang apa yang telah terjadi.
Para buruh tani memberikan kesaksiannya satu per satu, menceritakan dengan hati-hati apa yang mereka lihat dan alami pada saat menemukan mayat wanita itu.
Mereka berbicara dengan nada yang penuh dengan kebingungan dan ketakutan, mencoba untuk membantu pihak berwenang dalam penyelidikan ini.
Suasana di perkebunan teh itu terasa tegang dan penuh dengan kekhawatiran akan apa yang mungkin terjadi selanjutnya.
Alex, yang melihat berita tentang penemuan wanita tanpa busana di perkebunan teh, menyeringai puas. "Ketemu juga akhirnya," gumamnya dengan nada penuh kemenangan.
Van menatap Alex dengan tatapan skeptis. "Apa itu tidak berlebihan, Lex?"
"Tenanglah, Van. Hanya kau yang tahu," jawab Alex sambil masih menyimpan senyuman kemenangannya.
"Kenapa kamu sangat menyukai hal gila seperti itu?" tanya Van, mencoba memahami gairah Alex terhadap kejadian mengerikan itu.
"Hey, Van, itu menyenangkan... sesekali cobalah, maka kau akan tahu sensasinya," ajak Alex, mencoba membujuk Van untuk memahami perspektifnya.
"Kau benar-benar gila, Lex. Entah kenapa kita harus bersaudara," ujar Van dengan nada heran.
"Perlu ku tegaskan, Van, kita hanya saudara angkat," kata Alex dengan tegas, ingin menegaskan kembali batas hubungan mereka.
Meskipun mereka tinggal bersama dalam satu rumah, hubungan mereka bukanlah darah daging, dan Alex ingin memastikan Van memahami hal itu.
Van menatap Alex dengan serius. "Aku harap kau tidak akan menjadi beban bagiku suatu saat nanti," katanya dengan nada tegas.
"Tenanglah, Van," sahut Alex dengan nada santai, seolah tak terpengaruh oleh komentar Van.
Van menggelengkan kepala dengan sedikit kebingungan. "Semoga saja ada orang yang bisa menyembuhkan obsesi gilamu itu," ucapnya pelan, mencoba untuk menyampaikan kekhawatirannya pada saudaranya itu.
Dia berharap Alex bisa menemukan jalan untuk mengatasi obsesi yang terlihat tidak sehat tersebut.
Dengan cepat, berita penemuan wanita tanpa busana di perkebunan teh itu menyebar dan membuat heboh masyarakat. Mulai dari media sosial hingga berita televisi, semua membicarakan kejadian tersebut. Warga sekitar membentuk kelompok-kelompok kecil di pinggir jalan untuk berdiskusi dan berbagi pendapat mereka tentang kejadian yang mengejutkan ini.
Para petani di sekitar perkebunan teh juga menjadi pusat perbincangan.
Mereka berkumpul di warung-warung setempat, membahas apa yang mereka lihat dan bagaimana kejadian tersebut mempengaruhi komunitas mereka.
Beberapa di antara mereka bahkan mengungkapkan kekhawatiran akan keselamatan mereka sendiri.
Para penegak hukum bekerja keras untuk mengumpulkan bukti dan memulai penyelidikan lebih lanjut. Mereka mendekati saksi-saksi potensial dan memeriksa tempat kejadian perkara dengan teliti.
Kehadiran wartawan yang terus memburu informasi juga membuat situasi semakin tegang.
Seluruh masyarakat di sekitar perkebunan teh itu hidup dalam ketegangan dan kekhawatiran.
Mereka berharap pihak berwenang dapat menemukan jawaban secepat mungkin dan mengembalikan rasa aman dalam kehidupan sehari-hari mereka.
"APA yang terjadi? Bagaimana mungkin bisa ada mayat di perkebunan teh milikku?" teriak seorang pria dengan wajah frustasi, kebingungannya tak tersembunyi.
"Maaf, tuan, tapi kami masih belum menemukan informasi apapun," ucap seorang dari tim penyelidik dengan nada memelas, berusaha memberikan klarifikasi.
"Dasar kalian, tidak ada gunanya!" seru pria itu dengan nada ketus, kekecewaannya semakin terlihat.
Tiba-tiba, seorang wanita cantik memasuki ruangan dengan berkas di tangannya. Wajahnya terlihat serius, mengindikasikan bahwa ia membawa berita penting.
"Tuan, ini gawat. Omset penjualan produk teh kita turun drastis," ujar wanita itu dengan nada khawatir, memberikan kesan bahwa kejadian ini tidak hanya berdampak pada keamanan, tetapi juga pada bisnis perkebunan teh mereka.
"b******k!" teriak pria itu dengan suara yang penuh kemarahan, sambil menghambur-hamburkan berkas-berkas yang tergeletak di mejanya. Kekecewaan dan frustrasi tampak jelas terpancar dari wajahnya.
Pria itu berbicara dengan nada putus asa, "Alex, iya, Alex. Hanya dia yang bisa menyelesaikan masalahku ini." Dengan gesit, ia merogoh handphone yang berada di kantong jasnya, berharap bisa menghubungi Alex secepatnya.
Melihat handphone yang bergetar, Alex menyeringai penuh kemenangan. "Lihatlah, Van, rencana kita berhasil," ujarnya dengan kepuasan yang tak tersembunyi dalam suaranya.
Dengan santainya, Alex membiarkan handphone berdering berkali-kali tanpa ada niat untuk menjawabnya. Ia tampaknya menikmati momen kemenangannya dan ingin memberikan efek dramatis pada situasi ini.
Sementara itu, pria yang berusaha menghubunginya semakin cemas. Kekhawatiran dan ketegangan terpancar jelas dari wajahnya yang semakin gelisah. Ia merasa urgensi untuk mendapatkan bantuan dari Alex, namun kesulitan ini semakin memperburuk keadaan.