BAB 15.

1014 Words
Pagi itu, Alpha pergi ke sekolah seperti biasa dengan menggunakan sepeda. Hembusan angin pagi menyapa wajahnya, memberikan semangat untuk memulai hari. Namun, ketika sudah dekat dengan gerbang sekolah, sesuatu yang tak lazim terlihat. Sebuah mobil hitam terparkir di sana, dan itu terasa asing bagi Alpha. Orang tua biasanya selalu memarkir mobil dekat dengan gerbang sekolah untuk keamanan dan kenyamanan anak-anak mereka. Tetapi kali ini, mobil itu berada jauh dari gerbang, menimbulkan kebingungan dalam benak Alpha. Apakah ini pertanda dari sesuatu yang akan datang? Alpha berusaha untuk menghiraukan kehadiran yang tak biasa itu, dan memilih untuk melanjutkan perjalanannya dengan sepedanya. Namun, ketika ia semakin mendekati mobil hitam itu, tiba-tiba, beberapa orang berpakaian serba hitam keluar dari dalamnya, membuat Alpha tersentak kaget. "Apa yang kalian inginkan?" seru Alpha, mencoba untuk mempertahankan sikap tegasnya. Namun, para pria itu dengan cepat menangkap Alpha, memutuskan harapannya untuk kabur. "Diamlah dan ikutlah dengan kami," desak salah satu dari mereka. "Tidak! Aku tidak mengenal kalian, aku tidak mau!" teriak Alpha, berusaha keras untuk melepaskan diri, namun usahanya sia-sia. "Maaf, bocah. Aku tidak suka di teriaki," kata pria itu dengan nada dingin sebelum memukul tengkuk Alpha dengan kuat, membuatnya pingsan. Dalam sekejap, kehidupan Alpha berubah drastis. Ia tak lagi berada di dalam keamanan kota atau sekolahnya, melainkan terjerembap dalam dunia yang penuh dengan misteri dan bahaya. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sementara itu, David yang tanpa sengaja melihat Alpha diculik oleh sekelompok pria berpakaian serba hitam, terlihat kesal dan marah. "Sial, dia sudah bertindak sejauh ini," desis David sambil mengetuk setir mobilnya dengan marah. Sementara itu, di tempat lain, seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Bat, sedang berdiskusi dengan anak buahnya. "Apakah semua berjalan sesuai rencana?" tanyanya tegas pada anak buahnya. "Semua berjalan lancar, Tuan" jawab anak buahnya dengan percaya diri. "Apakah Alex menyadarinya?" tanya Bat, memastikan bahwa langkah-langkah mereka masih dalam bayang-bayang rahasia. "Saya rasa tidak, Tuan," sahut anak buahnya dengan yakin. "Bagus. Lanjutkan rencananya," perintah Bat dengan suara serius, memastikan bahwa setiap langkah selanjutnya akan terlaksana sesuai dengan rencana yang telah mereka susun dengan matang. "Kamu harus bersiap dengan kejutan yang aku siapkan, Alex," ucap Bat dengan wajah yang menyeringai, menyiratkan bahaya dan kejutan yang akan segera terjadi. "Ayah, dia sudah mulai bertindak. Apa yang harus kita lakukan?" ucap David pada sosok yang ia panggil ayah. "Tenang, David. Kita tidak boleh gegabah," kata ayahnya dengan suara tenang, mencoba menenangkan kegelisahan anaknya. "Tapi dia telah menculik Alpha," desak David, wajahnya penuh dengan kegelisahan dan kemarahan. "Apakah kamu yakin bahwa yang menculiknya adalah Alex?" tanya ayahnya dengan serius. "Siapa lagi, Ayah? Aku tidak paham tentang semua ini. Kenapa Alex harus menculik Mia dan Alpha?" ucap David dengan raut wajah yang dipenuhi pertanyaan. "Maka dari itu, kita harus mencari tahu, David," jawab ayahnya dengan mantap. Mereka harus mencari jawaban di balik semua kejadian ini, untuk mengungkap misteri ini. "Apa sebenarnya hubungan Alex dengan Mia dan Alpha? Kenapa harus Mia dan Alpha?" gerutu David, pertanyaan-pertanyaan itu menghantui pikirannya. Suara guyuran air memecah keheningan. Alpha terbangun dengan kondisi yang bingung. Tangannya dan kakinya terikat kuat di sebuah bangku, dan pakaian basah kuyup akibat guyuran air. Dalam keadaan seperti ini, Alpha merasa kebingungan dan cemas, mencoba memahami di mana dia berada dan apa yang terjadi padanya. "Kenapa kalian menculikku, hah?" teriak Alpha, wajahnya penuh dengan kebingungan dan kemarahan. "Kami hanya menerima perintah, bukan menjawab pertanyaan," jawab salah satu dari orang yang menculiknya dengan nada dingin. "Sialan! Siapa orang yang menyuruh kalian, hah?" Alpha terus berteriak, mencoba mendapatkan jawaban. "Aku yang menyuruh mereka," ucap seorang pria berkemeja yang turun dengan angkuh. Kehadirannya menimbulkan aura kekuasaan yang tak dapat diabaikan. Alpha bisa merasakan bahwa situasinya semakin rumit dan berbahaya. "Siapa kau? Kenapa kau menculikku, hah?" Alpha masih terus berteriak, mencoba mendapatkan jawaban atas kebingungannya. "Apa kamu ingin bertemu dengan kakakmu, Mia?" pria itu bertanya dengan tatapan tajam, seolah-olah memeriksa reaksi Alpha. "Kakak? Apa yang terjadi dengan kakak?" Alpha merasa semakin terkejut dan kebingungan. Keberadaan kakaknya, Mia, tiba-tiba menjadi fokus utama dalam kejadian yang sedang dialaminya. "Dimana kakakku? Apa yang sudah kamu lakukan kepadanya, hah?" desak Alpha, matanya memancarkan kekhawatiran yang mendalam. "Aku tidak melakukan apa-apa kepada kakakmu itu," ujar pria itu dengan suara dingin, menunjukkan ketegasannya. "Lalu siapa kalau bukan kau?" Alpha menuntut jawaban, ingin mendapatkan kejelasan dari situasi yang semakin membingungkan ini. "Alex... kamu pasti tidak asingkan dengan nama itu?" tanya pria itu, seakan menantang Alpha untuk mengenali nama tersebut. "Alex... dia bukan kah pria yang pernah diceritakan oleh kak Mia waktu itu," batin Alpha, ingatan akan cerita yang pernah didengarnya dari Mia mulai muncul. "Alex, pria itu," bisik Alpha, mengingat cerita dari Mia. "Iya, Alex adalah pria yang menculik kakakmu," kata orang itu dengan nada dingin. "Tapi apa mau mu, kenapa kau memberitauku siapa yang menculik kakakku?" tanya Alpha dengan kebingungannya yang tak tersembunyi. "Aku ingin menawarkan kerja sama," ucap orang itu, mencoba mencari jalan tengah. "Kerja sama? Kerjasama apa yang membawa rekannya dengan cara diculik?" ejek Alpha, tidak percaya dengan tawaran tersebut. "Diamlah, bocah. Jika kamu tidak ingin kakakmu itu terluka," ancam orang itu dengan nada tegas. "Jangan pernah berani mengancamku, karena kau tidak tahu siapa aku sebenarnya," sahut Alpha dengan tegas, raut wajahnya penuh dengan keberanian. "Ho ho, kamu hanyalah bocah ingusan. Jangan coba-coba mengancamku," kata pria itu dengan nada mengejek, tetapi di matanya terlihat kilatan pertarungan yang sebentar lagi akan terjadi. Ditempat lain, Alex menerima sebuah panggilan telepon yang membuatnya terlihat gusar. Setelah menerima panggilan tersebut, ekspresi wajahnya berubah serius, menandakan bahwa ada sesuatu yang mendesak dan membutuhkan perhatiannya segera. "Apa yang terjadi, Lex?" tanya Van yang duduk di sofa, ekspresi penasaran tergambar di wajahnya. "Sepertinya kita mendapat musuh baru, Van," jawab Alex, suaranya serius. "Musuh baru? Terdengar menarik," kata Van, matanya berbinar-binar. "Tapi sepertinya musuh kita ini masih amatir," tambah Alex dengan nada meremehkan. "Kenapa kamu bisa bilang seperti itu, Lex?" Van bertanya dengan keingintahuannya yang tak terbendung. "Kamu akan tahu nanti, Van. Tenanglah, dia bahkan tidak selevel dengan Marko, hahaha," canda Alex, mencoba menggoda temannya. Namun, di dalam hatinya, Alex merasakan getaran aneh yang mengisyaratkan bahwa masa depan mungkin akan membawa masalah yang lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD