BAB 14.

1048 Words
Di sebuah kantor yang elegan dan berkelas, suasana hening terasa tegang. Seorang pria dengan pakaian rapi dan wajah serius mendekati seorang pria lain yang duduk di meja besar. "Tuan, rapat akan dimulai sebentar lagi," ucapnya dengan hormat, memecah keheningan yang mengisi ruangan. Alex, pria yang duduk di meja itu, mengangkat kepalanya. Matanya menatap pria yang memberi kabar dengan ekspresi serius. "Baik, kita ke ruang meeting sekarang," ucapnya tegas. Di ruang rapat yang elegan, semua peserta rapat sudah berkumpul. Mereka duduk dengan serius di sekitar meja konferensi yang besar, siap untuk memulai diskusi penting ini. Udara terasa tegang, namun juga penuh dengan antisipasi. Rapat dimulai dengan laporan singkat dari seorang moderator, yang membuka forum untuk membahas bisnis dan potensi kerja sama di antara mereka. Suara-suara serius dan penuh konsentrasi mulai terdengar di ruangan, mencerminkan keinginan mereka untuk mencapai kesepakatan yang menguntungkan bagi semua pihak. Di tengah diskusi yang intens, Alex mendengarkan denganseksama dan siap untuk berkontribusi pada keputusan akhir yang akan diambil. Suasana ruang rapat penuh dengan semangat bisnis dan harapan untuk membuka pintu menuju masa depan yang sukses. "Bisnis ini cukup menjanjikan," ucap seorang pria tua yang ikut dalam rapat. Suaranya tenang namun penuh kebijaksanaan. Alex memandang pria itu dengan mata tajam, menghargai kata-kata dari orang yang memiliki pengalaman dalam industri ini. "Aku akan menerima kerja sama ini," ucap pria itu dengan mantap. Alex tersenyum tulus. "Terimakasih, tuan. Saya sangat senang bisa bekerja sama dengan Anda," ucapnya penuh rasa terima kasih. Keduanya saling berjabat tangan sebagai tanda kesepakatan yang baru saja tercapai. Mereka menyadari bahwa langkah ini akan membuka pintu menuju peluang baru dan potensi pertumbuhan bisnis yang besar bagi keduanya. Rapat selesai, dan Alex kembali ke ruang kerjanya. Di sana, sudah ada Van, orang kanannya, menunggu. "Kamu yakin akan bekerja sama dengan Tuan Bat?" tanya Van dengan penuh perhatian. "Tentu, Van. Tuan Bat adalah orang yang sangat cocok untuk kita ajak bekerja sama," jawab Alex dengan keyakinan. Van masih tampak ragu. "Bukankah kamu masih meragukannya?" "Van, Tuan Bat adalah ayah angkat kita. Kita harus mempercayainya," tegaskan Alex. Namun, Van masih terlihat khawatir. "Tapi, Alex, Tuan Bat dia..." "Aku tahu, Van. Tenanglah. Aku masih punya rencana untuk itu. Ingat, Van, untuk menangkap mangsa yang besar, kita juga harus memberikan umpan yang besar," kata Alex dengan senyuman misterius. Van akhirnya mengerti bahwa Alex memiliki strategi tersembunyi di balik keputusannya ini. Mereka berdua tahu bahwa kepercayaan pada Tuan Bat adalah langkah penting dalam rencana besar mereka. Di mansion Alex, Mia terlihat gelisah, memandangi handphone yang berada di genggamannya. Pikirannya dipenuhi dengan kekhawatiran tentang saudaranya. "Bagaimana keadaan Alpha sekarang? Apa dia baik-baik saja?" desis Mia dalam monolognya. Kekhawatiran yang mendalam terpancar dari matanya. Tidak lama pintu kamar itu diketuk "Nona..." panggil ambar. "Iya masuklah ambar" perintah mia mengizinkan ambar masuk kedalam kamar. Ambar memasuki kamar dengan lembut, membawa nampan berisi makanan. Mia berbalik dan tersenyum pada Ambar, merasa terharu dengan kepedulian dan kesetiaannya selama ini. "Waktunya makan siang, nona," ucap Ambar dengan ramah. "Terimakasih, Ambar," ucap Mia dengan penuh terima kasih. Ambar tersenyum dan hendak meninggalkan Mia, namun Mia tiba-tiba memanggilnya. "Ambar..." "Iya, nona?" jawab Ambar dengan lembut. "Bisakah kamu menemaniku makan? Aku bosan selalu sendirian di dalam kamar ini," pinta Mia dengan raut wajah penuh harap. Ambar tampak berpikir sejenak, lalu akhirnya setuju dengan senyum lembut. "Tentu, nona. Saya akan senang menemani anda makan." Dengan senyum ramah, mereka duduk bersama untuk menikmati makan siang, menciptakan momen kehangatan di tengah keadaan yang sulit ini. Lebih tepatnya keadaan mia lah yang terasa sulit. "Ambar, apakah aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Mia dengan raut wajah yang sedikit ragu. "Jika saya bisa menjawab, maka akan saya jawab, nona," jawab Ambar dengan penuh hormat, menunjukkan keterbukaannya untuk berbicara. "Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?" tanya Mia, mencoba memulai percakapan. Ambar tersenyum dengan ramah. "Saya dipekerjakan di sini baru 4 hari, nona." "Empat hari?" Mia sedikit terkejut. "Iya, nona. Saya dipekerjakan di sini karena tidak ada pelayan wanita, dan tuan tidak ingin pelayan pria yang merawat Anda," jelas Ambar, mencoba memberikan penjelasan yang jelas pada Mia. "Jadi hanya kamu pelayan wanita di sini?" tanya Mia, mencoba memahami situasi. "Tidak, nona. Masih ada Amira," jawab Ambar dengan senyuman ramah. "Bukankah Amira seorang perawat?" tanya Mia, sedikit bingung. "Amira memang seorang perawat, nona, tapi dia juga bekerja sebagai pelayan Anda," jelaskan Ambar dengan penuh kesetiaan, menunjukkan betapa Amira dan dia sendiri bersedia melakukan segala yang diperlukan untuk memastikan kenyamanan Mia. "Aku tidak paham dengan situasi ini," ucap Mia, suaranya penuh dengan kebingungan dan frustrasi. "Saya rasa Tuan Alex sangat mencintai Anda, nona," ucap Ambar tiba-tiba, membuat Mia terkejut bukan main. Mia merasa bingung dan terkejut oleh pernyataan itu. Bagaimana mungkin cinta, jika dia bahkan tidak mengenal Alex dengan benar? Dia berada di mansion mewah ini karena diculik oleh Van, yang jelas-jelas hanya melakukan perintah dari Alex. "Dasar pria aneh," gumam Mia, ekspresinya penuh dengan kebingungan. "Apa yang Anda katakan, nona?" tanya Ambar dengan rasa ingin tahu. "Ah, tidak ada, Ambar," tolak Mia dengan cepat, menyadari bahwa mungkin bukan saat yang tepat untuk membicarakan perasaannya pada saat ini. Dia masih harus berhati-hati dengan kata-katanya. Tiba-tiba, handphone Mia berdering. Mia bisa menebak dengan pasti bahwa itu adalah panggilan dari Alex. Hanya nomor Alex yang terdaftar di handphone itu. Dengan hati berdebar, Mia memandang layar handphone, masih ragu apakah harus menjawab atau tidak. Pada akhirnya mia memilih untuk menjawab panggilan itu. "Hallo," Mia menjawab dengan suara yang gemetar. "Mia, aku harap kamu menikmati tinggal di rumahku," ucap Alex tanpa basa-basi, suaranya penuh dengan kesombongan. "Aku tidak akan pernah menikmati tinggal di rumahmu ini, Tuan!" Mia menyahut dengan nada tegas. "Sudahlah, Mia. Nikmati saja," kata Alex dengan dingin. "Aku benci padamu, Tuan! Kembalikan aku ke rumahku!" teriak Mia melalui sambungan telepon, kebingungannya mulai beralih menjadi kemarahan yang tulus. "Oh, Mia. Sudah kukatakan, jangan terlalu suka berteriak. Nanti tenggorokanmu akan sakit," ejek Alex tanpa belas kasihan. "Dasar b******n!" umpat Mia dengan amarah yang menyala-nyala. "Oh, Mia. Kamu memang selalu hidup dilingkari para b******n," ejek Alex dengan suara sinis. Mia tampak bingung dengan kata-kata Alex. "Apa maksud Anda, Tuan?" tanya Mia, mencoba mencerna makna dari ujaran Alex. "Kamu akan tahu suatu saat nanti, Mia," kata Alex dengan nada misterius, sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon dengan dingin. Mia dibiarkan dalam kebingungannya, bertanya-tanya apa maksud sebenarnya dari kata-kata aneh yang baru saja diucapkan oleh Alex.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD