Mia merasa kebingungan saat ia memejamkan mata selama beberapa saat. Ketika ia membuka matanya, ruangan itu tampak asing baginya. Suara langkah kaki para perawat dan gemerincing peralatan medis mengisi udara. Matanya menyapu ruangan itu dengan penuh perhatian, hingga ia menyadari keberadaan selang infus yang tersambung di tangannya.
Tubuhnya terasa lebih baik daripada semalam. Mia memperhatikan bahwa ia berbalut pakaian tidur yang terasa nyaman. Rasa lapar tiba-tiba melanda dan mengalihkan perhatiannya dari selang infus itu.
"Apakah aku berhasil kabur?" gumam Mia dalam kebingungannya. Terbayang gambaran malam sebelumnya, ketika ia berusaha keras untuk membebaskan diri dari kenyataan yang mencekam. Tapi sekarang, ia merasa ada yang berbeda, meskipun ia belum benar-benar memahaminya.
Mia menoleh dengan cepat, terkejut oleh suara yang tiba-tiba muncul. Di ujung tempat tidurnya, seorang wanita tengah berdiri dengan senyuman lembut di wajahnya. Wanita itu terlihat seperti seorang perawat, dengan seragam putih yang rapi.
"Nona sudah bangun?" tanyanya dengan nada lembut, memperhatikan Mia dengan penuh perhatian.
Mia mengangguk dengan sedikit gemetar. Ia mencoba untuk memahami situasi ini dan mencari petunjuk dari wanita itu. Seiring dengan kebingungannya, ada rasa lega karena ia tidak berada dalam situasi yang sama seperti semalam.
Mia memandang sekeliling dengan tatapan bingung. "Aku ada di mana?" tanyanya dengan suara lembut, mencoba memahami situasi.
"Wanita itu tersenyum ramah, "Anda berada di ruang perawatan di mansion milik Tuan Alex."
Mendengar nama itu, Mia tidak bisa menahan gelombang kecemasan yang menyapu. "Alex... Jadi aku masih di rumah pria gila itu," batin Mia, rasa keputusasaan melingkupinya. Meskipun tubuhnya dalam kondisi yang lebih baik daripada semalam, ia menyadari bahwa tantangan untuk melarikan diri dari tempat ini akan semakin sulit.
Mia merasa sedikit lega melihat pemandangan wanita dengan berpaiakan pelayan yang membawa nampan berisi makanan. Senyum ramahnya menenangkan Mia. "Nona, saya yakin anda pasti lapar. Jadi silahkan nikmati sarapan anda," ucapnya dengan lembut, menempatkan nampan itu di atas meja di dekat tempat tidur Mia.
Sambil mencoba untuk tetap tenang, Mia mengangguk dengan lembut sebagai tanda terima kasih.
"Apakah aku boleh bertanya sesuatu kepada kalian?" tanya Mia kepada Perawat dan Pelayan itu.
"Tentu, nona," jawab perawat itu dengan ramah.
Mia tersenyum sedikit gugup. "Bolehkah aku tahu nama kalian?" tanyanya lagi.
"Namaku Amira, nona. Aku adalah perawat di sini," jawab Amira dengan senyum hangat.
"Dan saya Ambar, pelayan yang dipekerjakan khusus untuk Anda, nona," tambah Ambar dengan sopan.
"Khusus untukku?" tanya Mia, matanya memancarkan ketidakyakinan.
Ambar mengangguk. "Ya, nona. Tuan Alex meminta agar kami memberikan perhatian khusus kepada Anda selama Anda berada di sini."
Mia terdiam sejenak, mencoba memproses informasi itu. Ia merasa bingung dan terkejut atas perhatian yang diberikan. Sesuatu dalam dirinya masih waspada, namun ia memutuskan untuk menunggu dan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Hallo," ucap Mia, suaranya penuh kehati-hatian.
"Tidak perlu sok lembut dengan menyapaku, Mia," jawab Alex di balik layar telepon dengan nada tegas yang mengagetkan Mia.
Mia ingin membantah, namun dia terdiam oleh kata-kata Alex. "Sudahlah, kau sudah sadar berarti kau sudah sehat, bukan? Aku akan berada di luar kota selama satu minggu. Jangan sekali-kali mencoba untuk kabur dari mansion. Kalau kau sudah sehat, maka pindah kembali ke kamarku," titah Alex tanpa ampun.
Mia merasa gemetar. "Aku tidak mau tidur di kamar itu lagi," tolak Mia dengan mantap.
"Tidak ada penolakan, Mia, jika kamu masih menyayangi adikmu," ancam Alex dengan nada tegas, mengatasnamakan adik Mia. Suasana menjadi semakin tegang, dan Mia merasa bahwa ia akan dihadapkan pada pilihan sulit.
"Jangan sakiti adikku, dia masih kecil," pinta Mia dengan suara gemetar, kekhawatirannya untuk adiknya memenuhi pikirannya.
"Jika tidak ingin adikmu terlibat, maka menurutlah."
Tanpa menunggu jawaban dari Mia, Alex memutus panggilan telepon itu. Mia terdiam, dadanya naik turun dalam napas yang terengah-engah. Rasa takut dan keputusasaan mulai menyusupi dirinya, tetapi di dalam hatinya, ia memutuskan untuk mencari cara untuk melindungi adiknya, bahkan jika itu berarti menghadapi kekejaman Alex.
"Nona, apa Anda baik-baik saja?" tanya Ambar, wajahnya penuh kekhawatiran.
Mia hanya mengangguk, menyadari bahwa keadaannya saat ini tak memungkinkan untuk membahas lebih lanjut.
"Baiklah, nona. Saya dan Ambar permisi dulu. Silahkan Anda nikmati sarapan Anda," ucap Amira dengan penuh perhatian.
"Saya sarankan Anda menuruti apa yang Tuan Alex katakan, karena mansion ini dijaga ketat dan juga berada di tengah hutan," tambah Ambar, memberikan saran dengan penuh kebijaksanaan.
Mia tahu bahwa dia harus mempertimbangkan situasinya dengan bijak, namun ia juga tahu bahwa ia takkan menyerah begitu saja. Dia harus mencari jalan untuk melindungi dirinya dan adiknya dari kekejaman Alex.
Mia duduk sendirian dalam ruangan setelah Amira dan Ambar pergi. Ekspresinya berubah menjadi marah, penuh dengan rasa benci dan frustrasi setelah mendengar ancaman dari Alex tadi. Dia merasakan api kemarahan berkobar di dalam dirinya.
"Dasar pria berengsek, lihat saja. Aku akan membalasmu suatu saat nanti. Kau telah merenggut kesucianku. Aku sangat membencimu," batin Mia dengan kekuatan dalam hatinya.
Meskipun terkungkung oleh situasi yang sulit, tekadnya untuk melawan dan mencari keadilan tidak pernah padam. Mia berjanji pada dirinya sendiri bahwa suatu hari, ia akan menemukan cara untuk mengakhiri kengerian ini dan memulihkan kehidupannya.
Di rumah Alpha, kegelisahan melanda. Ia menunggu dengan cemas kabar dari David tentang kakak nya. Alpha sendiri merasa bingung, tidak tahu harus berbuat apa.
Duduk di sudut kamarnya, Alpha menggenggam erat ponselnya. Dengan jari gemetar, ia mulai mengetik pesan untuk kakaknya, Mia.
"Kakak, aku rindu padamu. Aku harap kamu tidak kenapa-kenapa, kak," pesan Alpha, suaranya terdengar rapuh namun penuh dengan kekhawatiran dan cinta yang tulus. Alpha berdoa semoga kakaknya selamat dan segera kembali dengan selamat ke pelukan nya.
Alpha menatap layar ponselnya dengan harap-harap cemas, melihat pesan yang ia kirim kepada Mia. Namun, ia merasa kecewa saat hanya melihat satu tanda centang, menunjukkan bahwa kakaknya sedang tidak aktif.
"Kakak, aku harap Kak David segera menemukanmu," Monolog Alpha dengan harapan yang mendalam. Ia berdoa semoga Mia dalam keadaan baik-baik saja dan mereka segera bisa bersatu kembali. Tapi kegelisahan di hati Alpha tidak bisa dihilangkan begitu saja, dan ia tahu bahwa mereka harus terus berharap dan berdoa untuk keselamatan kakaknya.
Di ruang perawatan rumah sakit, David terbaring dengan tatapan tajam yang penuh dengan tekad. "Ayah, aku berjanji akan membuatnya menderita," ucapnya dengan suara yang penuh dengan amarah.
Pria itu menatap putranya dengan penuh keyakinan. "Aku percaya padamu, David. Alex, dia akan hancur di tanganmu, sama seperti aku yang menghancurkan ayahnya," balas pria itu dengan suara rendah, penuh dengan rasa penantian yang telah lama terpendam. Keduanya saling memahami bahwa saat yang mereka tunggu-tunggu telah tiba, dan mereka siap untuk menghadapi apapun yang akan terjadi selanjutnya.