BAB 12.

1174 Words
Di tengah keheningan malam yang sunyi, terdengar suara pintu mobil yang ditutup dengan keras oleh pemiliknya. Suara itu memecah kesunyian, menciptakan dentuman kecil dalam lagu angin malam yang sepi. Dengan kejam anak buah alex melempar david keluar mobil "Dasar pria malang, dia pikir dia sanggup melawan bos kita" ucap salah satu pria. "Aku kasihan padanya, lihatlah tubuhnya sudah penuh dengan luka dan memar" sahut anak buah alex yang bertubuh kekar dengan kulit putih ketika melihat wajah david yang pucat dan matanya terlihat sayu, tetapi kekuatannya tampak masih bertahan. "Hei untuk apa kita kasihan padanya itu sudah resiko yang harus dia tanggung karena berani mengusik bos. Ingat dunia yang kita masuki itu berbeda dari mereka, dunia gelap tidak kenal belas kasih. Apa kamu mengerti?" tanya pria yang bertubuh kekar dengan wajah sedikit sangar itu. Setelah menyelesaikan tugas mereka, kedua anak buah Alex pergi dari tempat itu dengan waspada. Seorang pria yang selama ini memperhatikan dengan khawatir dari kursi pengemudi, segera berjalan mendekat. Dia menatap David dengan ekspresi campuran kelegaan dan kekhawatiran di wajahnya. "David, apa yang terjadi?" ujar pria tersebut dengan suara penuh kekhawatiran. David mencoba tersenyum, meski wajahnya terasa tegang. "Alex, dia telah menculik mia. Aku ingin menolong mia tapi seprtinya aku terlalu gegabah ayah." Pria yang dipaggil ayah oleh david lantas memperhatikan sekeliling dengan cermat, siap menghadapi situasi apapun. Ia tahu bahwa situasi ini bisa menjadi sangat berbahaya. Pria itu mengangguk dengan serius. "Kita harus segera mengatasi masalah ini. Apakah kamu bisa bergerak?" David mengangguk dengan susah payah, mencoba untuk bangkit. Sementara pria itu memantau sekitar mereka sambil membantu david berdiri. Alex mendatangi Mia yang masih terlelap dalam tidurnya. Dengan perhatian sepenuhnya, ia memandang tubuh Mia yang dipenuhi dengan bekas ciuman buatannya dan memar serta luka di bibirnya. Dengan wajah tanpa ekspresi, Alex menatapnya. "Itu salahmu karena bertemu denganku," ucapnya dengan nada tegas sebelum berbalik dan meninggalkan Mia menuju ruangan bawah tanah yang gelap dan rahasia. Di sana, terdapat beberapa orang, baik pria maupun wanita, yang terkurung dalam kandang besi dengan mata mereka tertutup rapat seperti binatang buas. "Bawakan aku satu wanita yang bisa kugunakan untuk bermain," perintah Alex pada anak buahnya. "Baik, bos," jawab pria bertubuh kekar itu, lalu ia membawa keluar seorang wanita muda dari salah satu kandang tersebut. Wanita itu tampak takut dan lemah saat dia ditarik keluar dari kandangnya. Matanya terlihat penuh dengan ketakutan, dan tubuhnya gemetar. Dia berusaha menahan air mata, tetapi keputusasaan terpancar dari wajahnya. Wanita itu memohon dengan suara penuh keputusasaan, "Tuan, tolong lepaskan saya." Namun, Alex hanya menatapnya dengan dingin. "Maaf, aku tidak mendengarkan sebuah permintaan di sini, apalagi mengabulkannya," jawabnya dengan nada tegas. Wanita itu tidak putus asa, dia terus mencoba memohon, "Saya mohon, tuan, lepaskan saya." Tetapi Alex tidak menunjukkan tanda-tanda keberpihakan, hatinya telah membeku dalam dinginnya kekejaman. "Pacarmu sudah menjualmu, bukan? Jadi untuk siapa kamu memohon nyawa, huh?" ucap Alex dengan sinis. Wanita itu terlihat terkejut mendengar pernyataan tajam Alex. "Tidak, tidak mungkin pacarku menjualku pada binatang buas sepertimu!" teriak wanita itu dengan tegas. "Binatang buas? Ah, kamu benar. Aku memang binatang buas. Jadi, aku tidak mendengar permohonan atau mengerti bahasa yang diucapkan manusia bukan? Hahaha!" Tawa kejam Alex menggelegar di seluruh ruangan, menciptakan suasana yang semakin menakutkan bagi wanita itu. Teror yang diciptakan oleh kehadiran Alex memenuhi ruangan dengan ketegangan yang tak terlukiskan. Alex mendekati wanita itu dengan gerakan yang penuh dengan ancaman tersirat. Langkah-langkahnya terasa berat di lantai, menciptakan getaran yang mengisi ruangan dengan ketegangan. Wanita itu menahan napas, matanya tetap terkunci pada sosok berbahaya yang semakin mendekat. Dengan kehadirannya yang begitu dekat, wanita itu bisa merasakan hawa dingin keangkeran dari tubuh Alex. Dia mencoba menahan getarannya, tetapi ketakutan itu tetap terpatri dalam hatinya. Matanya memancarkan keberanian meski jantungnya berdebar kencang. Tiba-tiba, Alex berhenti hanya beberapa langkah dari wanita itu. Dia memandangnya dengan tatapan tajam, menggertak namun penuh dengan penilaian. Wajah wanita itu pucat, tetapi dia tetap tegar. Dia tahu bahwa dia harus mencari cara untuk bertahan dan mencari peluang untuk melarikan diri dari situasi yang mencekam ini. Dengan suara tegas, Alex memerintahkan anak buahnya, "Ambilkan aku borgol." "Baik bos" Anak buah itu segera menuruti perintahnya dengan sigap. Dia melangkah menuju dinding yang terdapat sekelompok borgol besi yang menggantung dengan dinginnya di sana. Dengan cekatan, dia memilihkan sepasang borgol yang terlihat paling kukuh dan mengambilnya. Ketika dia kembali mendekati Alex dengan borgol di tangannya, terlihat ekspresi penuh ketegangan di wajahnya. Dia tahu bahwa borgol tersebut akan digunakan untuk membatasi gerak wanita yang masih berdiri dengan wajah tegar di depan mereka. Suasana di dalam ruangan semakin terasa mencekam, menandakan bahwa momen keputusan telah tiba. "‌Apa yang mau kamu lakukan, berengsek?" ucap wanita itu, hilang sudah bahasa halus yang tadi dia ucapkan. "Tentu, untuk bermain denganmu," jawab Alex tanpa ampun. Dengan bahasa isyarat yang tajam, Alex menyuruh anak buahnya memborgol wanita itu. Wanita itu berjuang, tetapi keputusasaan telah mulai merasuki dirinya. Wanita itu merasakan kepanikan yang semakin memuncak saat melihat Alex melepas kancing kemejanya. Wajahnya pucat, matanya mencari-cari cara untuk melarikan diri. Dengan suara gemetar, dia memohon, "Apa yang akan kamu lakukan? Apapun yang ingin kamu lakukan, aku mohon jangan..." Namun, kata-katanya terputus oleh keputusasaan. Alex tidak mengindahkan rintihan wanita itu. Dengan langkah mantap, dia bergerak menuju sudut ruangan, membuka laci yang ada, dan mengambil sebuah katana. Kilatan dingin berkilau dari mata pedang itu, menciptakan bayangan ancaman di seluruh ruangan. Wanita itu terus berteriak memohon, "Tidak, aku mohon jangan siksa aku!" Tetapi teriakannya hanya dijawab oleh senyuman menyeramkan dari Alex. "Aku adalah binatang buas, jadi aku tidak akan mendengarmu, cantik," ucapnya dengan sinis sambil menggenggam erat katana itu. Dengan gerakan yang penuh dengan kebiadaban, Alex mulai merobek pakaian wanita itu secara perlahan. Wanita itu terguncang oleh sensasi campur aduk dari rasa takut dan malu. "Apa kamu malu?" tanya Alex, suaranya penuh dengan sindiran. "Tidak perlu malu, karena hanya aku yang melihatnya." Kata-kata itu seperti cambukan bagi wanita itu. Dia merasa malu dan terhina. Makian yang tajam meluncur dari bibir wanita itu, penuh dengan kemarahan dan keputusasaan. "Dasar berengsek, b******n, pria c***l, dasar m***m, kamu bukan manusia, kamu memang benar-benar binatang!" teriaknya, mencoba memberontak. Namun, upaya wanita itu sia-sia. Dengan gerakan tiba-tiba, katana itu menggores tubuhnya ketika dia berusaha melawan. Wanita itu teriak kesakitan, rasa sakit menusuk setiap serat tubuhnya. "Tenanglah, jangan banyak bergerak atau kau akan mati sebelum kita bermain," ucap Alex dengan nada tegas dan dingin. Wanita itu tetap keras kepala meskipun dalam situasi yang mengerikan ini. "Lebih baik aku mati daripada harus melakukan apa yang kamu mau!" teriaknya dengan tekad yang kuat. Namun, ejekan Alex yang tajam hanya membuatnya semakin terhina. "Shut! Apakah semua wanita memang suka menolak dan berteriak ketika mereka akan berhubungan s*ks, tapi sebenarnya lebih menikmatinya, hahahaha!" ejeknya dengan kejam, menciptakan atmosfer yang semakin menakutkan dan menghancurkan semangat wanita itu. Tanpa basa-basi alex memperk*sa wanita itu tanpa ampun dan membunuh wanita itu dengan sadis setelah ia puas menyalurkan hasratnya. "Dasar wanita malang, andai saja kamu tidak bertemu pacar yang berengsek seperti pacarmu mungkin kamu tidak akan mengalami nasib yang mengenaskan seperti sekarang. Jangan salahkan aku, salahkan saja pacarmu yang berengsek itu karena sudah menjualmu kepadaku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD