BAB 11.

1053 Words
Kedamaian kota itu hanyalah ilusi tipis, karena di bawah permukaan terjadi konflik gelap yang mengoyak persatuan yang terbina dengan susah payah. Setelah lebih hampir 2 hari tidak makan dan minum membuat badan mia terasa lemas, siksaan alex baru berhenti pagi tadi ketika alex menerima telepone dari van tangan kanannya. Mia menghela napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Matanya memandang sekeliling kamar yang gelap dan lembab, mencari titik kekuatan terakhir untuk berdiri. Setiap gerakan, setiap nafas, terasa seperti beban berat yang menekan ke tubuhnya yang rapuh. "Dasar b******n, pria b******k. Aku benci padamu, kenapa kamu harus hadir dalam hidupku." Tangis kelelahan terdengar dari bibir Mia, sementara memori siksaan itu masih menghantuinya. Mia bangkit, mia harus menemukan jalan keluar dari neraka ini. Dengan penuh tekad, ia memutar tubuhnya, menggerakkan kaki yang gemetar menuju pintu kayu kokoh di sudut ruangan. Mia menggapai gagang pintu, hatinya berdegup kencang. Begitu pintu itu terbuka, dunia luar menyerbunya dengan kegelapan yang memilukan. Dia terhuyung-huyung keluar, mencoba menahan sakit dan kelemahan yang terus merayap. Langkah Mia terhenti mendadak saat bayangan Van muncul di ambang pintu. Wajahnya terbungkus oleh bayangan, dan sorot matanya menusuk tajam. ''Jangan berpikir kau bisa kabur, Mia,'' bisiknya dengan suara berat yang menusuk ke tulang belakang Mia. Dengan sebersit kekuatan terakhir, Mia menatap Van dengan mata penuh ketakutan, namun juga penuh tekad. Kali ini, dia tahu, dia tak akan menyerah begitu saja. Namun, tubuhnya yang lemah tak lagi dapat menanggung beban ini. Mia merasa luar angkasa menari-nari di sekitarnya sebelum semuanya berubah gelap. Dia pingsan di lantai dingin, tak sadarkan diri di hadapan Van. Van dengan sigap menggendong mia dengan hati-hati, dan membawanya melewati pintu kamar ke dalam ruangan Alex yang gelap. Setelah memastikan Mia berada dalam posisi yang nyaman, Van segera mencari telepon dan menekan nomor Alex dengan cepat. "Alex, Mia pingsan" "Segera hubungi dokter pribadiku" perintah Alex dengan tegas. "Katakan padanya ini adalah situasi darurat. Segera, Van!" Alex memutuskan telepon dengan cepat, van hanya bisa mengehla nafas dalam lalu menghubungi dokter pribadi alex. Di sisi lain, Alpha duduk di dalam kelas, tetapi pikirannya jauh dari buku pelajaran. Tatapannya kosong, matanya terus-menerus teralihkan oleh bayangan kekhawatiran tentang kakaknya, Mia. Dia mencoba untuk memusatkan perhatiannya pada pelajaran, tetapi gelombang cemas terus mengganggunya. Suaranya menggema di dalam kepalanya, 'Bagaimana Mia sekarang? Apakah dia dalam bahaya? Apakah aku harus melakukan sesuatu?' Setiap soal yang dia hadapi di kertas ujian terasa berat, seperti beban tambahan yang ditumpangkan di pundaknya. Alpha berusaha sekuat tenaga untuk menahan gelombang cemas yang terus mendera. "Kakak kamu dimana, apa kamu baik-baik saja?" gumam alpha. Waktu berlalu dalam keadaan kabur, dan bel pelajaran berdenting menyadarkan Alpha dari kecemasannya sesaat. Dia menghela napas dalam dan mencoba mengumpulkan diri. Dia tahu bahwa meskipun dia tidak dapat berada di sisi Mia saat ini, dia harus mencari cara untuk menemukan kakaknya. Setelah bel pelajaran berakhir, Alpha meninggalkan kelas dengan langkah tegap. Dia tahu dia harus mencari informasi atau bantuan yang bisa dia dapatkan untuk Mia. Kini adalah saatnya untuk bertindak. ''Dasar b******n, kembalikan Mia padaku!" teriak David pada Alex, suaranya memecah keheningan yang mengisi udara kamar itu. Wajahnya merah padam, mata dipenuhi kemarahan yang meluap-luap. Alex hanya memandang David dengan dingin, senyum mengejek melintas di bibirnya. "Mia adalah milikku sekarang. Kau tak punya hak atasnya lagi," ujarnya dengan tenang, tapi suaranya mengandung ancaman yang tak terbantahkan. David menggenggam tinjunya erat-erat, tubuhnya gemetar oleh amarah. "Kau akan membayar atas semua yang telah kau lakukan," desisnya, suaranya rendah namun penuh dengan tekad. Mereka berdua berhadapan, atmosfer di antara mereka terasa tegang, siap meledak kapan saja. Alex melempar sebuah handphone tepat di kaki david. David menatap layar hp yang terhempas dengan wajah Mia yang lelah terpampang di sana. Meski hanya sebagian wajah yang terlihat, tetapi David tahu pasti bahwa sesuatu telah terjadi pada Mia. Amarahnya membuncah. ''Dasar berengsek, apa yang telah kau perbuat pada Mia?'' desis David, suaranya penuh dengan kebencian. Alex hanya menertawakan reaksi David, tatapannya tajam dan tanpa belas kasihan. ''Mia adalah milikku sekarang, David. Kau tidak akan pernah bisa mendekatinya lagi.'' Mia, masih tak sadarkan diri, menjadi saksi bisu dari konflik yang terjadi di sekitarnya, meski tanpa sadar akan apa yang terjadi di sekelilingnya. "Aku tidak akan mengampunimu, b******n," ucap David dengan penuh amarah sambil melayangkan pukulan ke arah Alex. Tinjunya menusuk udara dengan kekuatan yang membalut kemarahan dalam setiap seretan gerakan. Wajah Alex terkejut oleh determinasi yang memenuhi mata David, namun ia segera membalas serangan dengan refleks tajam yang hanya mampu dimiliki oleh seseorang yang terlatih dalam pertarungan. Keduanya terlibat dalam pertarungan sengit, ruang itu bergetar dengan gesekan napas dan hentakan fisik. "Kenapa harus Mia?" teriak David sambil menghajar Alex dengan penuh amarah. "Karena dia menarik," jawab Alex dengan singkat, tatapannya tidak berkedip. "b******n!" teriak David, suaranya memenuhi ruangan dengan kebencian mendengar jawaban enteng dari Alex. Pertarungan mereka menjadi semakin intens, tiap pukulan dan serangan terasa seperti dentuman keras dari kebencian yang terpendam. Tapi sayang pada akhirnya, David kalah dalam perkelahian itu. Tubuhnya babak belur akibat pukulan bertubi-tubi dari Alex, meski Alex juga mengalami memar di beberapa bagian. "Buang pria ini ke jalanan," perintah Alex pada anak buahnya. "Siap, Bos," jawab anak buah Alex dengan patuh. Mereka segera mengangkat tubuh David yang terkapar dan membawanya keluar dari ruangan, meninggalkan suasana tegang dan hening. Alex menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya dengan kasar, raut wajahnya penuh dengan rasa puas atas kemenangan ini. Tanpa kata-kata, ia berbalik dan meninggalkan tempat tersebut, langkahnya mantap menuju mobil sport mewahnya yang terparkir di luar. Mesin melolong dengan gahar saat ia memacu mobil itu, melaju dengan kecepatan membelah angin menuju mansion mewahnya yang tersembunyi di tengah hutan. Di bawah bayangan pepohonan rimbun, bangunan megah itu menanti kepulangannya, menjadi saksi bisu dari segala intrik dan konflik yang memenuhi hidupnya. "Bagaimana kondisinya?" tanya Alex pada Van yang berada di ruang tamu, mata mereka bertatap tajam. Van menghela nafas dalam-dalam, wajahnya penuh kekhawatiran. "Dia mengalami lelah hebat akibat hubungan seks! Apa yang sudah kamu lakukan padanya, Lex? Aku tidak berharap kamu menyiksa wanita dengan parah seperti itu." Alex merasa sedikit tersinggung oleh kata-kata Van, tapi dia juga tahu bahwa tindakannya telah membuat Mia menderita. "Aku melakukan apa yang perlu aku lakukan," ucapnya dingin tidak menunjukkan sedikit penyesalan. "Ini urusanku, Van, dan aku tahu bagaimana mengatasinya." Van hanya bisa menggelengkan kepala, tetapi dia masih mengkhawatirkan kondisi Mia. Konflik di antara mereka jelas belum selesai, dan masa depan penuh ketidakpastian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD