Mia merasa terpental, hingga akhirnya pakaiannya terlepas satu persatu, meninggalkannya terlentang dan terpapar dalam kelemahan yang menyedihkan. Mia menutupi dirinya dengan selembar selimut tipis yang tersedia, tubuhnya bergetar oleh campuran rasa malu, ketakutan, dan kemarahan. Dia melihat ke arah pintu dengan harapan bantuan segera datang, sementara mata Alex masih menyala dengan nafsu yang tidak terkekang.
Wajah Alex mengerut kesal saat melihat Mia yang berusaha menutupi dirinya dengan kain tipis. Rasa frustrasi dan kecewa menyelimuti dirinya, karena nafsunya terhambat oleh ketidaksenangan Mia. Dalam kebingungannya, ia mencoba mempertahankan sisa-sisa kendali atas situasi ini.
"Mia, kau tidak bisa lari dari kenyataan ini" bisiknya dengan suara yang penuh ketegangan.
Mia menatapnya dengan tatapan tajam, keberaniannya mulai bangkit. "Tuan kau benar-benar berpikir bahwa dengan memaksa seperti ini, aku akan berada di bawah kendalimu? Kamu salah besar, Alex."
Mendengar mia yang terus menolak membuat alex semakin geram dengan cepat alex menarik kain tipis itu dan menggunakannya untuk mengikat tangan mia.
"Apa yang kamu lakukan tuan?" seru Mia dengan suara panik yang hampir putus asa.
"Tentu saja menikmati tubuhmu," sahut Alex dengan nada yang penuh kepuasan, mengabaikan rintihan kebingungan Mia.
"Tidak, jangan! Ahhhh..." Ucapan Mia terputus saat tangan Alex mulai menyusuri area yang lebih sensitif, membuatnya merasa terperangkap dalam ketidakberdayaan.
Desahan Mia memenuhi ruangan, mencampur dengan ekspresi ketakutan yang terpantul di matanya. Mereka berdua terperangkap dalam pertarungan antara keinginan dan penolakan, di tengah ketegangan yang melekat di udara.
"Tuan, aku mohon hentikan," Mia memohon dengan suara yang penuh rintihan, matanya berkaca-kaca oleh kombinasi rasa sakit dan ketakutan. Dia merasa terputus asa, mencoba sekuat tenaga untuk memohon agar Alex menghentikan perlakuan kasarnya.
Namun, Alex tetap tak tergoyahkan, nafsunya terus memandang Mia dengan keinginan yang tidak terbendung. Dia tidak terdengar atau tidak mau mendengar permohonan Mia, terpaku pada keinginannya sendiri. Keadaan semakin memburuk, membuat Mia semakin terjepit dalam situasi yang mencekam.
"Aku tidak akan berhenti, Mia, tidak dengan rengekanmu itu," desis Alex dengan suara rendah yang penuh penentuan. Dia tampaknya tidak terpengaruh oleh permohonan Mia.
"Tidak, tuan, jangan lakukan itu!" Mia berteriak, namun suaranya seperti terhanyut oleh ruang kosong. Permintaannya tak terdengar atau mungkin diabaikan.
Tanpa ampun, tangan Alex semakin aktif bergerak di area sensitif Mia, membuatnya melenguh mendapat pelepasan yang pertama. Rasa sakit dan malu merasuki setiap serat tubuhnya, menggiringnya ke dalam gelombang emosi yang tak terbendung. Mia merasa hancur, terperangkap dalam kebingungannya yang meluap-luap di tengah situasi yang menyiksa ini.
"Ahhh.... ahhh.... ahhh tuan aku, ahhhhh.." Suaranya terengah-engah, Mia berusaha memohon dengan putus asa.
"Baru sebentar kumainkan saja, kamu sudah keluar"
"PLEASE TUAN, HENTIKAN!" teriak Mia, tetapi seruannya hanyalah helaan napas yang terdengar rapuh di antara dinding-dinding ruangan yang menyimpan rahasia gelap ini.
"Tidak, sebelum aku puas, Mia," jawab Alex tanpa belas kasihan. Wajahnya mencerminkan kepuasan pribadi yang tak tergoyahkan oleh rintihan dan jeritannya. Mia merasa dirinya hanyalah seonggok daging yang direnggut dari haknya, terdampar dalam kegelapan dan keputusasaan.
Alpha merasa panik merayap dalam dirinya saat menyadari bahwa Mia belum juga pulang. Dia telah mengunjungi bar tempat Mia bekerja, tetapi tak ada tanda-tanda kakaknya di sana.
Kekhawatiran Alpha semakin membesar, menyelimuti dirinya dengan rasa gelisah yang tak terbendung. Dia mencoba menghubungi Mia, namun panggilannya hanya menggema di sepanjang hampa.
Alpha mulai mempertanyakan segala kemungkinan yang mungkin terjadi pada kakaknya, dan perasaan cemas memenuhi ruang kosong dalam hatinya. Tanpa ragu, dia memutuskan untuk mencari tahu lebih lanjut, berharap dapat menemukan jejak Mia di tempat lain.
Bertanya-tanya, Alpha menghubungi Mia dengan nada yang penuh kekhawatiran, "Kakak kamu kemana?" Suaranya gemetar, mencerminkan kecemasannya yang semakin meningkat.
Tidak ada jawaban dari pihak Mia, hanya hening yang membuat Alpha semakin gelisah. Kekhawatiran yang tumbuh di hatinya semakin menguat, mendorongnya untuk mencari tahu keberadaan kakaknya dengan lebih gigih.
Tiba-tiba, di tengah keheningan, Alpha merasakan kecemasannya semakin menguat. Dalam ketakutannya, ia mengambil keputusan untuk menghubungi David, teman dekat mereka berdua. Melalui telepon, Alpha dengan gemetar mengucapkan, "Hallo."
"Hallo, ada apa Alpha?" sahut David dari balik telp.
"Kak David, Kak Mia tidak pulang semalaman. Aku cemas dengan keadaannya," ucap Alpha dengan nada khawatir. Suaranya terdengar gemetar, mencerminkan kegelisahan yang terus memenuhi pikirannya. David terdiam sejenak, kekhawatirannya ikut terpancar dari suara Alpha.
"Tenang, Alpha. Aku akan segera mencari tahu apa yang terjadi. Jangan panik dulu," ujar David dengan suara yang mencoba menenangkan. Dia memutuskan untuk segera bergerak, merasa tanggung jawab sebagai teman dekat Mia.
"Kumohon temukan Kak Mia, Kak," ucap Alpha pada David yang berada di sambungan telepon. Suaranya dipenuhi dengan harapannya yang hampir pudar.
"Tenanglah, Alpha. Aku akan mencari Mia," kata David dengan suara yang penuh keyakinan. Setelah mengucapkan hal itu, David langsung mematikan teleponnya secara sepihak. Dia merasa urgensi dari situasi ini dan segera bersiap untuk mencari keberadaan Mia.
David menatap layar ponselnya dengan raut wajah yang penuh dengan kekhawatiran. "Alex, aku yakin pasti dia yang sudah menculiknya," gumamnya dengan suara gemetar, rasa marah menyulut di dalam dirinya. Dia yakin bahwa Alex terlibat dalam hilangnya Mia, dan keinginannya untuk menemukan sahabatnya semakin menguat.
Mia terengah-engah, tubuhnya terasa lemah dan berantakan. Peluh mengalir deras, menyelimuti dirinya dalam kelelahan yang mendalam. Namun, Alex tidak berhenti menggoda tubuhnya, dengan nafsu yang tampaknya tak terbendung. Mia merasa dirinya terperangkap dalam situasi yang semakin tak terkendali.
Dia berusaha untuk menahan rasa sakit dan malu, tetapi tubuhnya sudah melemah dan pikirannya hampir tak bisa berpikir jernih lagi. Mia memandang Alex dengan tatapan tajam, mencoba untuk mempertahankan sedikit kendali atas dirinya sendiri di tengah situasi yang menyiksa ini.
Melihat mia yang sudah lemas lantas alex mengeluarkan sebuah suntikan dari saku jasnya. Sinar lampu redup menyinari benda itu, mengilustrasikan betapa misterius dan menakutkannya isi suntikan tersebut.
Mia, meski dalam kelemahan yang mendalam, masih mampu melihat gerakan tersebut. Tatapannya terbelalak, mencoba memahami apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Jangan... jangan lakukan itu," bisik Mia dengan suara yang lemah, mata penuh ketakutan. Namun, kata-katanya seperti terombang-ambing di antara hampa yang tercipta di ruangan.
Alex mengabaikan permohonan Mia. Dengan tangan gemetarnya, dia memasukkan suntikan itu ke dalam jarum dan mulai mendekati tubuh Mia dengan ekspresi campuran antara penasaran dan sadis. Momen ini terasa seperti detik-detik terakhir sebelum semuanya berubah.
Seketika setelah suntikan itu masuk, Mia merasakan tubuhnya yang lelah mulai memanas, seolah diisi oleh energi yang misterius. Sensasi itu membuatnya terkejut, tak pernah merasakan hal serupa sebelumnya.
"Apa yang kamu suntikkan padaku, tuan?" desis Mia dengan suara yang penuh keheranan dan ketakutan.
"Itu hanya sebuah perangsang, Mia," ejek Alex dengan nada meremehkan, sambil melihat kondisi Mia dengan ekspresi dingin.
Rasa marah dan frustrasi Mia semakin memuncak, tetapi ia merasa tubuhnya bergerak dengan kekuatan yang baru ditemui, membuatnya terkejut dan bingung. Sesuatu yang tak terduga tampaknya telah terjadi.