Siena, Kelakuan bodoh itu ya... nyakitin diri sendiri demi dilirik sama doi. _Siena_ Tap. Kaki Saka berhenti melangkah. Laki-laki itu menatap Siena dengan sorot mata tidak terbaca. Manik matanya bersitubruk dengan manik milik Siena. "Lo kenapa? Kenapa bahayain diri sendiri kaya tadi?" tanyanya. Siena tersenyum. "Gue butuh pelampiasan." Siena menjawabnya ringan. Tangan Saka terulur mengusap pipi Siena. Kembali menghapus air mata gadis itu untuk kedua kalinya. "Kenapa tadi marahin Aksa?" Siena bungkam, mulutnya tidak ingin memberitahu alasannya. Lagi pula, tidak mungkin dirinya memberitahu tentang Aska. Aska adalah masa lalu yang harusnya Siena lupakan. Meski nyatanya nama laki-laki itu masih ada, terkubur dalam tertimbun luka. "Gue ...." Siena menggantung kalimatnya. Matanya

