Katanya Teman Seperjuangan

1703 Words
Treasury Tower, INASDAQ Sekuritas Floor, SCBD District Sudirman Jakarta Pusat – 2021[12:45 PM] AKU tidak tahu apa itu perasaan julid, iri atau pun dengki aku tidak tahu rasanya itu semua namun melihat Irene Tjana yang baru saja keluar dari ruangan Pak Wirasetya setelah penilaian kinerja membuat ku ingin tahu apa hasilnya, apakah dia naik promosi? Dapat bonus? Atau ditempatkan di tim yang baru yang lebih atas dari tim kerja lima misalnya? – tim tiga tim dua atau mungkin malah tim satu? – Aku sih sedikit berharap bahwa opsi terakhir yang didapatkan oleh seorang Irene Tjana yaitu di rotasi ya karena wanita itu kan sudah terkenal dengan kemampuannya, tadi saja kan Pak Wirasetya membandingkan diriku dengan dia. Semoga aja pindah tim! doa ku dalam hati. “Gimana nih Rene hasilnya?” Tanya Saka Wijaya menyongsong kearah Irene yang baru hendak duduk kembali di kursi kerjanya. Pertanyaan Saka Wijaya mewakili semua orang yang ada di tim lima menanti keputusan apa yang di dapatkan oleh wanita itu. “Apanya yang gimana Mas?” tanya wanita itu sok polos, dia bermain tarik ulur dengan semua orang yang sangat menanti jawaban darinya membuat diriku ingin banget melemparkan perkataan pedas pada wanita yang kebanyakan gaya itu. “Pak Wirasetya bilang apa ke Lo? Itu si Rose naik ke tim tiga dong dia baru aja Value dia mirip-mirip lah sama denga value lo, so kalau Lo gimana Rene? Komisi Lo dan Rose kan emang balap-balapan.” Tanya Saka lagi tidak menyerah, pria itu melirik karyawan bernama Rose itu yang berada di tim empat, Rose sedang merayakan keberhasilannya denger beberapa anggota tim nya. Aku mencibir dalam hati melihat itu, Saka itu keinginan tahuannya cukup besar kalau anak muda sekarang menyebutnya kepo hingga lupa untuk menghormati privasi orang yang ditanyai nya. dia gak peduli yang ditanyainya keganggu nggak, nyaman atau nggak, berat nggak, intinya jaman sekarang itu batasan privasi seseorang itu buram banget dan kurang di hormati dan semua orang mulai berlindung di bawah kata kan cuman nanya aja dan Saka Wijaya itu gak peduli yang namanya sebuah privasi karena yang dia pedulikan adalah dia mendapatkan jawaban untuk memuaskan Keingintahuannya. Irene Tjana melirik diriku, membuat kerutan samar di dahi ku muncul karena tindakan anehnya ngapain dia lihat-lihat diriku? Seharian ini aku berusaha sangat visible gak menarik perhatian siapapun dan itu hampir berhasil karena anak-anak tim lima gak banyak berbicara denganku paling hanya sepatah dua patah kalimat saja yang mereka keluarkan dan itu pun semua menyangkut dengan pekerjaan. “Spill dulu kali Irene dengan saya, biar saya nanti well prepare kalau kamu di pindah ke tim yang lain.” Pak Reyhan angkat suara, walaupun mengatakan hal ringan seperti itu aku dapat menjamin kalau pria paruh baya itu aslinya sama sekali tidak rela jika harus benar-benar melepaskan Irene Tjana dari timnya, ya iya lah lawong dia itu ace kebanggaan tim lima. “Saya mau nanya memang bapak rela saya pindah tim yang lain?” tanya Irene retoris, wanita itu meraih tetikus di atas mejanya dengan ringan tidak terlalu memedulikan keinginan tahuan semua orang, yang jelas-jelas Keingintahuan mereka menunggu untuk dipuaskan. “Rela gak rela lah Rene kalau Lo pergi ya gue yang kerja keras bagai kuda nanti untuk memenuhi target.” Celetuk Saka Wijaya dan kalimat itu ku tangkap sebagai sarkasme tidak langsung yang sedang ditunjukkan kepada ku. Padahal kinerja ku gak jelek-jelek banget sesuai lah dengan standar kinerja yang telah di tetapkan oleh INASDAQ Sekuritas sejak jaman dulu namun gimana ya di dalam tim lima, tim kami Pak Rayhan Dinata itu suka banget menetapkan target yang gak masuk akal untuk kinerja timnya alasannya sih sederhana untuk menyaingi tim-tim yang lain. Persaingan tidak tertulis yang terjadi di INASDAQ Sekuritas ya memang se membebani itu, perusahaan sebenarnya tidak menuntut banyak hanya saja orang-orang didalamnya saja yang terlalu rajin hingga memasuki tahap gila uang, gila kerja dan gila penghormatan. Tapi persaingan ketat diantara para pegawai INASDAQ Sekuritas memang nyatanya membawa banyak banget dampak positif untuk perusahaan sendiri makannya gak ada teguran ataupun keadilan, kalau kalian tanya mengapa bisa begitu, ya karena kan berkat persaingan dari para pialang saham nya mereka jadi meningkatkan capital gain yang di dapat oleh perusahaan secara drastis setiap saat, para direksi senang dapat dividen yang melimpah, dan para broker elit nomor atas akan dapat cuan cuan dan cuan tapi pegawai standar seperti diriku yang sekarat karena harus mengikuti persaingan yang sengit itu. – intinya ya kaya kata pepatah yang kaya semakin kaya yang miskin ya semakin miskin yang bisa di lakukan ya hanya Survive bertahan aja semampunya kalau gak ingin di depak. “Saya gak sejahat itu ya Saka.” Kata Pak Reyhan gak terima, atasanku itu memang sedikit gak tahu diri. Saka Wijaya hanya meringis baru menyadari bahwa sarkasme yang baru saja keluar dari mulutnya memilki arti ganda – sarkasme untuk ku namun juga secara gak langsung juga menyentil Pak Reyhan selaku kepala tim kami. “Bercanda aja Pak...” katanya meringis, dan aku begitu sangat menikmati perdebatan itu kapan lagi ia bisa melihat Saka Wijaya merasa inferior kalau bukan sekarang? “Jadi gimana gimana Rene spill kuy!” Irene Tjana menghela nafas berat, seolah pertanyaan yang diajukan oleh mereka semua adalah berat dan antara hidup dan matinya. Sangat berlebihan!! Tinggal ngomong aja susah wanita itu gitu ya suka nya rumit rumit dulu baru ngomong intinya padahal intinya juga terkadang gak penting-penting banget lah ya. “Saya di tawari untuk re-shuffle sih pak oleh Pak Wirasetya.” Jawabannya pada akhirnya, semua orang kecuali aku berdecak. “Ibu jadi pindah kemana?” Vivi Pitaloka yang sedari tadi sok sibuk dengan layar komputernya akhirnya melongok tertarik, kalau Irene Tjana pergi dati tim lama secara otomatis Vivi Pitaloka akan menjadi satu-satunya wanita di tim kami aku gak tahu ekspresi apa yang ditunjukkan Vivi senang karena saingannya angkat kaki atau sedih karena jadi wanita sendiri di tim lima. “Gak kemana-mana,” jawab Irene cepat, wanita itu menatap kami satu persatu. “Saya tolak lah, daripada di tim satu saya lebih nyaman di tim lima kan kita udah senang sedih bareng dari awal masa mau pisah gitu aja.” Dan jawaban dari Irene Tjana mampu membuat diriku kehilangan kewarasan ku untuk sejenak dan sayup-sayup aku mendengar umpatan keras Saka Wijaya, “Goblokk!” begitu umpatnya. Iya benar tim satu, ace nya INASDAQ Sekuritas, tim yang keseluruhan anggotanya masuk ke dalam board peringkat satu hingga empat dan ujung tombaknya INASDAQ dan ditolak oleh Irene! Irene Tjana baru saja menolak re-shuffle tim dari tim lima ke tim satu kalau semua orang di INASDAQ Sekuritas ditanyai apa pendapat mereka tentang hal ini aku dapat menjamin seratus persen kalau mereka semua akan sependapat dengan Saka Wijaya. re-shuffle yang Irene Tjana gak main-main dari lima ke satu! gak bertahap seperti yang sudah-sudah dan ini tu wah! never happen before apalagi di lingkungan INASDAQ Sekuritas sendiri pokoknya ya Langka! Irene Tjana tidak ambil pusing dengan respon kami yang beragam, Saka Wijaya mendorong kursinya ke arah Irene menatap wanita itu dengan intens, “Jadi Lo nolak pindah ke tim satu Rene? Tim satu loh ini!!” katanya gak habis pikir. Iya sih, kali ini aku sependapat dengan Saka. Irene itu polos, naif atau bodoh? Katanya ingin membuktikan kepada keluarganya kalau dia mampu sukses dengan caranya sendiri lah ini? Sudah di kasih jalan lebar se set dengan red carpet dan panggung untuk bersinar dari Pak Wirasetya dia malah menolaknya? Memilih stay karena rasa solidaritas? Heleh “Rene sini-sini cerita kamu ada masalah hidup apa?” tanya Pak Reyhan ikut mendekati Irene, walaupun pria itu menawarkan telinga untuk mendengar tapi aslinya dia sangat senang karena Irene gak jadi pindah. “Apaan sih Pak saya gak ada masalah apa-apa kok, emang saya rasa saya belum cukup mampu kalau harus di pindah kan ke tim satu, elit semua mereka nanti yang ada saya yang jadi beban tim dan gak kerja maksimal tim satu terlalu mewah banget buat saya biasa-biasa aja ini, pilih tim lima pokoknya teman-teman saya semuanya ada di sini juga soalnya.” Klise! Klasik! Dan sok merendah. Hell yah, kemampuan seseorang itu baru bisa di ukur setelah dia melakukannya bukan di awang-awang!!! Aku mendengus mendengar perkataan itu. “Lah Rene, kalau lo menolak kesempatan kali ini mangkrak dong lo nanti selama dua tahun kemudian? Mulai dari awal lagi dong lo gak naik-naik jabatan dong lo jadi supervisor.” Saka menjelaskan kepada Irene kerugian apa yang menanti wanita itu. “Gak apa-apa toh kalau mangkrak juga pol pol sama kalian semuanya.” Jawab Irene enteng, wanita itu membalik kursi Saka lalu mendorongnya hingga meluncur bebas ke ujung kembali ke habitat pria itu. “Dah sana kerja lagi Mas Saka.” Ya iya lah! Mau mangkrak atau nggak duit dia kan emang udah banyak uang. Anak konglomerat kerja ginian kan emang tujuan mya bukan cari uang tapi cari pengalaman dan suasana! Walaupun aku yakin sih pengalaman yang dia dapatkan untuk bekerja di kantor orang gak seberapa banyaknya. “Sen, Arsenio.” Panggil Irene Tjana menoleh ke arah ku, panggilan itu adalah kata pertama yang keluar dari mulut Irene yang di tujukan Kepada ku sepanjang hari ini. “Apa?” Aku menoleh sambil menatapnya dengan alis terangkat menangi apa yang dia katakan selanjutnya, “Nanti pulang kerja aku minta waktu kamu sebentar ya Sen, sebentar aja kok gak lama sih kayaknya?” “Kayaknya?” “Iya, gimana ya ya please Sen?” Tidak mau! Tidak peduli, jangan dekat-dekat dengan aku lagi. gak mau urusan dengan kamu karena semuanya rumit! Tapi tentu saja kalimat itu gak aku keluarkan dari mulut ku karena aku gak ingin mencari masalah lagi dengan Irene Tjana, aku menghela nafas berat sebelum menjawabnya dengan suara pelan, “Iya oke.” Dan setelah jawaban ku itu Irene Tjana mengangguk sumringah sebelum mendorong kuris putarnya kembali ke depan meja kerja nya –habitat aslinya lalu ia melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena meladeni pertanyaan anak-anak tim lima yang kadang memang gak ngotak sama sekali. Memang sih ada kalanya ada perbedaan antara bekerja dengan teman dan berteman dengan orang yang bekerja dengan kita. Kebanyakan orang tidak mendapatkan pilihan seperti hal nya aku ini untuk bisa memilih rekan kerjanya sendiri jadi yang harus ku lakukan sekarang ya hanya perlu bertahan dan melakukan yang terbaik dari hal itu biar gak di depak dari lingkungan kerja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD