Penilaian Kinerja

2038 Words
INASDAQ Securities, Treasury Tower Building – SCBD Jakarta Pusat 2021 [12:00 PM] HARUSNYA yang aku lakukan kemarin adalah aku tidak perlu mencari masalah dengan Saka Wijaya maupun Irene Tjana kalau tidak mau kehidupan kerja ku di INASDAQ Sekuritas menjadi sulit, kacau dan berantakan, namun memang sih walaupun tidak mencari masalah pun dengan kedua orang itu lingkungan kerjaku sudah berantakan tapi kan ya tidak se berantakan sekarang. Kemarin harusnya sikap awal ku sudah benar dan seperti aku banget – untuk tidak ikut makan malam tim lima, namun karena aku lengah, iman ku lemah dan pendirian ku yang goyah karena ancaman dari kemarahan yang ditunjukkan Pak Reyhan Dinata akhirnya aku mengalah menuruti perintah Pak Reyhan tanpa tahu konsekuensi yang akan terjadi selanjutnya. Makan malam tim harusnya bukan sebuah hal yang besar, tapi akan menjadi hal besar kalau tim nya seperti tim ku tim lima pialang saham INASDAQ Sekuritas– sudah pernah ku beritahu belum bagaimana cara bergaulnya anak-anak di Treasury terutama dari lantai INASDAQ Sekuritas sendiri? sepertinya belum kan, jadi biarkan aku memberitahu mu agar kamu tidak terkejut nantinya, makan malam tim yang sebelumnya ku lakukan di Amuz Gourmet waktu itu, sebenarnya hanya lah sebuah bagian kecil dari cara 'Buruh berdasi Treasure bersosialisasi' iya kamu gak salah baca, mau bersosialisasi atau berteman saja harus bayar! bayar nya mahal lagi. Kenapa aku bisa bilang begitu? let me tell you! mau makan mau pun sekedar nongkrong-nongkrong bareng selepas penat dengan anak-anak Treasury baik cewek mau pun cowok, muda mau pun tua di sekitar kantor pun gak bisa dibilang murah, kalau kamu tanya kenapa bisa gitu ya bisa gitu lah karena anak-anak Treasury itu suka banget nongkrong dan makan di kawasan yang mahal banget, paling minim ya di Pasific Palace lah yang letaknya beberapa blok dari kawasan kami atau kalau lagi gila-gilaan ya ke restoran sekelas Michellin Star dan karena aku yang sering absen dari 'acara bersosialisasi mereka' aku jadi gak akrab-akrab banget dengan teman sekantor. Entah itu berkah atau petaka yang ku alami. Juga harusnya kemarin aku diam saja saat Saka Wijaya mengejek aku dan meremehkan diriku, bukannya melawan dengan percaya diri seperti yang telah ku lakukan kemarin malam – aku bukan tipe orang yang baper, bukan juga tipe orang yang suka meributkan hal-hal remeh, harusnya aku adalah aku yang biasanya yang cuek dan gak peduli lingkungan, harusnya juga aku kemarin aku sedikit bersikap lunak dengan Irene Tjana agar semuanya menjadi mudah dan dia tidak memberikan diriku perhatikan super ekstra yang membuat anak-anak lain terutama Pak Reyhan Dinata menjadi salah paham dengan hubungan kami. Harusnya harusnya harusnya terlalu banyak kata harusnya di dalam pikiranku saat ini dan itu merupakan sebuah kesialan karena hal itu juga lah yang membuat diriku jadi tidak fokus dalam bekerja setengah hari ini. Sebenarnya ada satu solusi yang dapat membantu ku untuk mengatasi krisis ini, dan menjadi harapan ku satu-satunya untuk keluar dari lingkungan kerja yang berantakan – keluar dari jangkauan Irene Tjana mau pun Saka Wijaya – dan harapan satu-satunya yang dapat menolong ku saat ini sekarang adalah promosi jabatan atau mutasi jabatan, dan itu ditentukan hari ini juga –penilaian kinerja karyawan, yang aslinya menjadi ajang judgemental perusahaan secara halus kepada karyawan yang gak memenuhi ekspektasi mereka. “Pak Arsenio sudah giliran Bapak, itu bapak dipanggil oleh Pak Wirasetya.” Vivi Pitaloka yang lewat di depan mejaku berhenti sejenak untuk mengatakan hal itu, setelah memastikan bahwa aku menangkap maksudnya wanita itu kembali melanjutkan perjalanan menuju ke meja kerjanya yang letaknya berada di depan ku. “Oke terimakasih ya Vivi atas informasinya.” Kata ku kepadanya tanpa senyuman lebar seperti yang selalu dilakukan Saka Wijaya kalau sedang flirting dengan banyak wanita. eii I am not him! and never be like him. Jangan harap aku akan melakukannya. Irene Tjana yang berada di sampingku menatapku sejenak, ingin mengatakan sesuatu namun setelah beberapa detik tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya. Aku berdiri merapikan kemeja yang aku kenakan sebelum berjalan menuju ruangan Pak Wirasetya yang berada di ujung ruangan di dekat board pengumuman, dan mengetuk pintunya tiga kali sebelum suara dari dalam sama mengijinkan aku untuk masuk ke dalam. “Come in!” aku mendengar seruan dari dalam ruangan. “Permisi Pak.” kataku sopan, saat berhasil masuk ke dalam ruangannya. “Kamu Arsenio Sadewadiningrat ya?” panggilnya, pria tua itu sedikit kesulitan dalam mengeja nama belakang ku dan dia bukan orang pertama yang kesulitan seperti itu karena hampir semua orang yang ku temui juga merasa kesulitan. Pak Wirasetya mendongak dan menatapku dengan Keingintahuaan yang besar, tangannya mengisyaratkan diriku untuk duduk di atas kursi yang di tempatkan di depan mejanya. “Ningrat kamu?” katanya dengan kening berkerut-kerut. Dan here we go again, beliau juga bukan orang pertama yang menanyakan status keturunan 'ningrat' itu kepadaku, hanya karena nama belakang ku ada kata Ningrat nya semua orang menganggap aku ini ada Putra Keraton padahal tidak seperti itu juga sih, dan tidak salah juga tidak benar. gimana ya aku menjelaskannya agar mudah dipahami? Memang benar bahwa ayahku –Panji Hadiningrat – adalah keluarga Ningrat beliau adalah anggas raja, generasi kelima atau dibawah piut Keraton Ngartasura Hadiningrat hidupnya didedikasikan untuk mengabdi kepada Keraton Ngartasura hingga menelantarkan diriku dan Ibuku. It’s odd story, keluarga ku memang bobrok dari awal karena ayahku yang memilih untuk mengabdi seratus persen kepada Ngartasura Hadiningrat dan Ibuku yang memilih kabur bersama dengan selingkuhan barunya ke London, karena bilang bahwa ayahku kurang menyayanginya. Berawal dari kedua orang tuaku yang sok dewasa itu karena memilih jalan mereka masing-masing tanpa mempertimbangkan pendapat orang lain – misalnya aku ini anak satau-satunya – aku pun sekarang juga melakukan hal yang sama memilih hidup seperti seorang sebatang kara dan tidak memilih untuk mengikuti Ibuku atau pun ayahku keduanya bukan orang tua yang dapat ku jadikan panutan. “Saya bukan Ningrat Pak.” Jawab ku mantap. Pak Wirasetya mengangguk-anggukan kepalanya, binar-binar penuh harapan di wajahnya meredup saat aku mengatakan kalau aku bukan seorang Ningrat. Ya ya ya dan dia bukan orang pertama lagi yang kecewa setelah aku mengatakan hal itu. “Arsenio tim lima kan ya?” Tanyanya kembali berbasa-basi, pria itu membuka sebuah map berwarna hitam dengan hardcover logo INASDAQ Sekuritas yang di cetak timbul dengan perpaduan antara warna emas dan merah, yang ku tebak berisi catatan hasil penilaian kinerja ku selama di INASDAQ Sekuritas. “Iya Pak.” Jawab ku mengangguk pelan. “Kamu pernah minus satu kali nih.” Katanya seolah mengejek ku, walaupun pria tua itu gak menunjukkan hal itu dalam suaranya tapi ekspresinya telah menjelaskan segala hal. Dan aku hanya dapat meringis karena kembali membayangkan hari-hari terburuk ku di INASDAQ Sekuritas : waktu masa percobaan, dan itu terjadi satu setengah tahun yang lalu aku membuat satu kesalahan yang cukup dapat dikatakan fatal klien meminta diriku untuk melakukan hold lot saham namun yang kulakukan malah melakukan opsi sell lot sahamnya membuat aku– dibantu dengan tidak ikhlas oleh tim lima harus melakukan buy back secara utuh di market bursa secara gila-gilaan dan mengganti kerugian yang di derita oleh klien. Tapi kalau di telaah lebih jauh sebenarnya itu juga bukan kesalahan ku sepenuhnya karena kliennya aja yang telpon kayak kumur kumur mana pelafalannya gak jelas blass! Bikin senewen aja waktu itu jangan kira diriku gak berusaha melakukan yang terbaik ya! Aku sudah berusaha ke ruang server INASDAQ Sekuritas mengulang rekaman panggilan itu namun sebanyak apapun aku mendengarkan aku tidak dapat memahaminya bahkan Saka Wijaya yang awalnya ku mintai tolong untuk menerjemahkan saja gak paham malah balik memarahi ku tanpa sebab, setidaknya aku tidak membuat keputusan itu tanpa berpikir banyak. “Gak pernah masuk ke board juga ya kamu ini.” katanya menggeleng-gelengkan kepalanya. apa katanya tadi? Board ya? Benar board yang dimaksud oleh Pak Wirasetya adalah board yang menampilkan komisi harian kami, ingin sekali ku jawab perkataan itu dengan, iya Pak gak minat namanya di pajang di board kayak orang alay namun kalau itu ku lakukan bukannya akan mendapatkan Re- shuffle tim yang kudapat malah berakhir di pecat dengan tidak hormat oleh beliau mengingat tabiat Pak Wirasetya yang gila di hormati oleh bawahannya. “Lima puluh besar juga gak masuk kamu ini?!” Wirasetya sepertinya akan membaca semua kinerja pas-pasan ku setelah kehadiran si anak emas, dan aku sama sekali tidak terganggu dengan tindakan provokatif yang dia lakukan. “Iya Pak sepertinya memang begitu.” Terserah Beliau mau bilang apa, walaupun mau julid in diriku hingga berbusa aku tidak peduli. “Tapi ini saya lihat absensi kamu bagus nih Arsenio, sering tepat waktu dan belum pernah mengajukan cuti, gak ada laporan konflik juga dengan rekan sejawat overall bagus gak minus-minus banget lah ya walaupun gak memenuhi standar.” aku mendengus standar apa yang dia maksud disini? kalau standar karyawan INASDAQ nilai ku lebih dari cukup namun kalau standar buram dari beliau sendiri jelas aku masih kalah jauh banget lawong standarnya yang komisi ratusan ribu dollar. Semua orang tahu kalau Penilaian kinerja bagi Wirasetya itu adalah proses mengevaluasi SEBERAPA BAIK karyawan melakukan pekerjaan mereka dibandingkan dengan seperangkat standar, dan kemudian mengkomunikasikan hasilnya atau lebih tepatnya memberi judgemental kepada karyawan kenapa aku bisa bilang gitu ya karena kenyataannya gitu. standar? tidak ada standar pada kenyataannya “Terima kasih Pak Wirasetya.” Jawabku sebagai tanda hormat atas pujiannya, walaupun itu ku ucapkan dengan gak niat sama sekali sih sebenarnya tapi atas dasar kesopanan dan etika kerja aku harus melakukannya. “Sama-sama Arsenio, setelah kamu keluar tolong ya kamu panggilkan Irene Tjana tim lima.” Aku mendongak, senyum super tipis ku luntur berganti dengan wajah tanpa ekspresi saat Wirasetya mengakhiri penilaian kinerja ku tanpa ada feedback baik yang ku terima. Dia bilang kinerja ku bagus namun hanya memberiku penghargaan berupa lip service saja? Sial pelit banget sih orang di depan ku ini, “Sudah selesai Pak?” tanyaku kembali memastikan bahwa pendengaran ku gak salah. Ini beneran sudah? Aku tidak mendapatkan promosi? Bonus? Atau ditawarkan Re-shuffle tim rotasi deh itu kan yang paling minim kalau bisa. “Iya sudah memangnya ada lagi ya yang kelewat kayaknya saya udah baca semuanya deh iya kan?” Pak Wirasetya balik bertanya kepada ku pria paruh baya itu membolak-balik lembar kinerja ku, memastikan bahwa dia memang benar-benar telah selesai mengatakan semua hasilnya padaku. “Tidak ada tawaran Re-shuffle tim Pak Wirasetya?“ tanyaku langsung, membuat Wirasetya mendongak menatapku dengan mata memicing terkejut dia menutup folder map kinerja milik ku dan menyisikan nya ke samping meja bergabung dengan map yang lain. “Lohhh kenapa memangnya tanya Re-shuffle segala? Kamu sudah cocok kok di tim lima kerja kalian juga lumayan efisien walau pun komisi kalian gak pernah nomor satu diantara yang lain.” Jawabnya dengan menohok. “Tapi pak saya–” “Arsenio Sadewadiningrat,” dia menghela nafas berat sebelum melanjutkan, “Kinerja kamu belum cukup memuaskan untuk re- shuffle tim kalau saya reshuffle kamu risk nya terlalu tinggi kamu harus adaptasi lagi dengan tim baru lagi lama lah! Kalau gitu kapan kamu memenuhi target? saya bilang gini untuk kebaikan kamu juga kebaikan karir yang kamu bangun itu juga.” katanya menjelaskan alasan pria itu menolak me re-shuffle ku dengan gambalang, terdengar seperti boss yang sangat perhatian dengan karyawannya sebenarnya tapi aku nggak tersentuh sama sekali dengan hal itu bagiku kayaknya itu hanya basa-basi aja sih. “Tapi kinerja saya overall memang bagus kan pak tidak bermasalah walaupun bukan yang terbaik.” kata ku mengulang ucapannya. Wirasetya menghela nafas, “Justru karena kamu bukan yang terbaik, kamu tidak akan dapat beradaptasi dengan tim baru dengan mudah, kamu itu hanya perlu meningkatkan kinerja kamu saja di tim lima. oke lah akan saya kabulkan permintaan kamu kalau kinerja kamu kaya rekan kamu itu loh siapa namanya ... oh iya yang namanya Irene Tjana tapi kamu mendekati saja tidak. Udah ya Arsenio.” Kata Pak Wirasetya dia melirik jam yang melingkar di lengannya, seperti diburu waktu. Typically orang yang sibuk atau sok super sibuk yang di buru waktu. kesannya seperti keberadaan ku yang tinggal lebih lama dikantornya sungguh mengganggu dan membuang waktu berharganya. “....” “Tolong habis ini kamu panggilkan Irene Tjana ya karena dia yang berikutnya.” Katanya lagi sebelum aku keluar dari ruangannya. “Ya baik Pak saya permisi dulu ya kalau begitu.” kata ku dengan suara lebih pelan dan aslinya condong ke gak ikhlas sih sebenarnya sebelum menutup pintu ruang kerja Pak Wirasetya dengan rapat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD