Faith In Humanity

1471 Words
7 YEARS AGO Porcello Jewelers, Seattle Washington 2015 BAGI seorang Irene Tjana walaupun sebenarnya ia telah mendapatkan penolakan terang-terangan dari seorang Arsenio Sadewadiningrat berkali-kali dia semerta-merta tidak menyerah begitu saja karena yang ia lakukan beberapa minggu terakhir ini adalah menjadi parasit untuk pria itu selain itu ia juga menjadi teman yang sangat menyebalkan untuk Arsenio Sadewadiningrat walaupun Arsenio kebanyakan mengabaikan segala tindakannya sih. Tapi hari ini sepertinya adalah hari pengecualiannya, entah dapat hilal dari mana seorang Arsenio Sadewadiningrat yang terkenal masa bodoh dengan perempuan dan lebih suka kumpul makan dengan para teman prianya tepat ketika jam makan siang datang, tanpa paksaan oleh siapa pun Arsenio tiba-tiba menghampiri Irene Tjana di kantin Fakultas pria itu duduk di depan Irene dengan nampan makan siangnya. “Kamu gak ada teman yang lain gak punya teman kamu?! Kenapa selalu makan sendirian sekarang?” tanyanya dengan nada yang kesal, Irene menatap pria itu dengan pandangan bingung datang-datang bukannya menyapa dengan sopan malah marah-marah kepada Irene Tjana yang sedang menikmati don katsu nya siang ini. “Ha kenapa, Lo bilang apa tadi tolong diulangi aku lagi gak fokus?” tanya Irene dengan cengo, wanita itu meletakkan peralatan makannya dan menatap Arsenio seutuhnya. “Sial Lupakan saja! gak penting!” Lanjutnya dengan muka cemberut, raut wajahnya yang melemparkan tatapan sebal kepada Irene itu membuat lipatan di kening Irene bertambah saking bingungnya. “Kok kamu sekarang jadi suka banget marah-marah padaku sih Sen?” tanya Irene menyuarakan pertanyaan yang memenuhi otaknya. dua Minggu yang lalu ia sangat yakin bahwa Arsenio masih menganggap dirinya adalah parasit dan selalu memberikan wajah datarnya namun sekarang pria itu berubah tiga ratus enam puluh derajat dan suka banget cemberut begitu di depan Irene. “Karena kamu menyebalkan.” kata pria itu tanpa tedeng aling. “Huuu!” sorak Irene dengan kesal, “Kamu kan ku ajak makan gak mau, gak mungkin kalau aku harus makan siang dengan pacar aku yang ada di Harvard.” sambung Irene Tjana dengan sangat sinis. “Yang lain kan ada gak harus pacar kamu?!” jawab Arsenio tidak kalah sengitnya, pria itu entah kenapa kalau berhadapan dengan Irene Tjana sukannya marah-marah mulu padahal marah-marah Kepada wanita di depannya itu gak guna hanya buang tenaga aja. “Gak ah, mereka sekarang lagi sibuk dengan urusan mereka masing-masing.” “Ajak aku kalau gitu.” Kata Arsenio dengan lirih tapi cukup untuk didengar oleh Iren Tjana, wajah Arsenio yang kelihatan enggan untuk mengucapkan itu begitu sangat lucu bagi Irene Tjana yang berusaha sangat keras menyembunyikan suara tawanya. “Sorry, kamu bilang apa tadi aku tidak dengar.” ulang Irene menggoda. “Ajak aku kamu budek ya!” suaranya lantang, dan Irene terlonjak dari tempatnya duduk tidak menyangka akan mendapatkan semburan dari orang yang terkenal tidak pernah kesal itu. Irene seketika menatap ke sekeliling dan menemukan bahwa beberapa orang menatap meja mereka tidak suka karena keributan yang baru saja di ciptakan oleh Arsenio. “Duh! Gak usah teriak juga dong bro santai.” Kesal Irene tapi tidak bisa menyembunyikan senyuman lebar di bibirnya. “Ngomong-ngomong kenapa tiba-tiba kamu berubah pikiran?” tanya Irene setengah penasaran. “Kamu tampak sangat menyedihkan kalau dilihat.” perkataan singkat dari Arsenio nyatanya dapat membuat Irene Tjana terkesip, singkat tapi nyesek di hati. Apalagi Arsenio mengucapkannya dengan begitu santai tanpa dosa membuat irene ingin memukul kepalanya. “Son of bitxh!” *** Arsenio percaya bahwa kali ini dia telah membuat keputusan yang sangat salah saat mengijinkan seorang Irene Tjana untuk mendekat padanya. Setelah Arsenio memberikan lampu hijau itu Irene Tjana gak berhenti mengganggunya wanita berisik itu selalu merecoki dirinya kapanpun dan dimanapun dia berada. Seperti hari ini wanita itu memaksa Arsenio untuk menemaninya membelikan hadiah untuk pacarnya – Oliver Sykes yang akan berulang tahun minggu depan. Tentu saja awalnya Arsenio menolak keras ajakan wanita itu namun sekali lagi yang namanya Irene Tjana itu seperti kancil yang punya banyak akal. “Sen, Ini beneran bagus kan buat Oliver?” tanya Irene Tjana untuk kesekian kalinya, wanita itu menunjukan sebuah jam tangan keluaran rolex versi sky dweller yang kelihatan luar biasa mahal itu, perpaduan antara warna khaki di belt dan emas di framenya berpadu dengan begitu indah disana. Arsenio mengusap kasar wajahnya sebelum melemparkan senyum permintaan maaf kepada pegawai Porcello Jewelers yang sedari tadi berdiri di depan mereka menanti apakah mereka akan mengambil Man’s watches berharga ribuan dollar itu atau tidak. Karena kalau di kalkulasi Irene telah memasuki toko itu hampir lebih dari satu jam hanya untuk memilih. “Rene, jadi beli gak sih.” “Jadilah.” Sahut wanita itu bersungut-sungut sebelum mengalihkan pandangannya ke arah pegawai Porcello Jewelers, “please pack both.” Kata Irene singkat menunjuk dua buah koleksi terbaik Porcello Jewelers lalu pegawai Porcello Jewelers dengan sigap mengangguk tersenyum sopan sebelum menyiapkan apa yang pelanggannya minta. “Please wait ma'am.” “Dua?” tanya Arsenio, saat mereka begerak ke counter pembayaran. Irene mengangguk pelan sambil menyerahkan kredit card berlogo Mastercard dari salah satu bank di Seattle itu kepada pegawai Porcello Jewelers. “Boros banget kamu.” “Biarin, kamu tuh sekali-kali harus boros kalik sen hidup iangan lurus-lurus terus begitu.” Kata Irene Tjana mengomel dengan pelan sambil menunggu pegawai Porcello Jewelers menyelesaikan tugasnya. “....” “Nikmati hidup dong Sen, aku lihat kamu juga jarang banget hangout dengan yang lain. Kemarin waktu anak-anak Permias yang lain liburan ke cottage kamu juga gak ikut kan?” “Sok tahu, aku ikut.” bantah Arsenio. “Kok waktu itu aku gak lihat kamu?” “Dateng malam banget jam dua belas lebih terus diajak pergi dengan David paginya.” Irene mengangguk-angguk kepalanya mengerti mulutnya membentuk huruf O dengan sempurna, “Pantesan.” “Miss,” pegawai dari Porcello Jewelers menyela mereka, wanita itu menyerahkan dua paper bag kecil kearah Irene dan di terima Irene dengan senyum tipis tidak lupa mengucapkan terimakasih, “Thank you for coming Ma'am and sir! Have a great day!” Setelah mengangguk membalas ucapan pegawai Porcello Jewelers mereka berbalik untuk keluar dari store, mereka baru melangkah sebanyak lima langkah saat Irene Tjana mengulurkan salah satu paper bag ditangannya kepada Arsenio yang diterima pria itu dengan dahi berkerut, “nih seomul, hadiah untuk kamu karena telah menemani ku cari kado hari ini.” “Ehhh, gak gak perlu.” Arsenio mengibaskan tangannya menolak untuk menerima pemberian dari Irene Tjana. “Sen, ini aku pilih selama satu jam loh kamu pun tahu sendiri masa kamu menolak kerja keras ku gak menghargai.” Kata Irene Tjana kesal. “Kan aku gak minta itu.” kata Arsenio mendengus kesal juga. “Sen, pokoknya ini buat kamu mau kamu buang terserah pokoknya terima dulu ya.” Setengah memaksa Irene Tjana menempatkan paper bag kecil itu di tangan Arsenio sebelum berjalan cepat meninggalkan pria itu dibelakang. “Irene! Irene Tjana” Teriak Arsenio. “Aku gak terima penolakan ya Sen.” kata Irene berjalan cepat tanpa menoleh ke belakang. “Irene woi!!!” Teriak Arsenio dengan sangat keras. “Aku–” Irene Tjana kehilangan orientasinya saat dia merasakan dorongan yang cukup kuat dari arah belakangnya. Semuanya terlampau begitu cepat wanita itu tersungkur ke depan dengan keras paper bag ditangannya terlempar entah kemana lalu tak beberapa setelah itu Irene Tjana mendengar suara benturan yang cukup keras dari arah belakangnya. Tidak dibiarkan mencerna apa yang terjadi saat Irene Tjana berusaha bangkit dan menoleh ke belakang, dunianya berputar dan air mukanya pucat pasi karena mendapati bahwa dibelakangnya dia melihat sebuah mobil sedan meluncur ke arah trotoar dan menabrak salah satu store di area Ave dan dia melihat dengan mata kepalanya sendiri beberapa orang yang berada di store terluka dan yang paling membuat Irene Tjana tidak menyangka dengan apa yang terjadi adalah Arsenio Sadewadiningrat tergeletak tidak jauh darinya dengan darah yang mulai merembes ke trotoar aspal, paper bag berisi jam tangannya juga tergeletak tidak jauh dari situ. Irene tidak ingin mempercayai apa yang telah dia lihat. Dia pikir Arsenio hanya seonggok manusia yang gak peduli dengan sesama tapi dirinya salah – lewat Arsenio dia belajar untuk tidak boleh kehilangan kepercayaan pada kemanusiaan seseorang. Semuanya begitu riuh, chaos dan panik se iring dengan Irene Tjana yang juga kehilangan kesadarannya jatuh di aspal dengan begitu keras. [BREAKING NEWS] PEDESTRIAN HIT BY CAR, SERIOUSLY INJURED IN AVE ST. BELLEVUE STREET SEATTLE. The Seattle State Patrol is reporting a seriously crash in St. Bellevue Ave Street. The patrol said a White Toyota Cruise was traveling west on Highway 135 in the area of Ave, Seattle around 4 p.m. on Thursday. Near the intersection of Indiana Avenue West, the vehicle lost control and crossed over the center line and hit pedestrian and cafe building. Responding officers rendered aid, and the pedestrian was taken by Ave EMS to a near local hospital, police said. The Ave Police Accident Reconstruction Unit and Seattle County District Attorney’s Office are continuing to investigate. (Daily Time News Report)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD