7 YEARS AGO
Seattle Washington United States Of America – 2015
UNIVERSITY Of Washington atau yang lebih dikenal dengan sebutan U- Dab atau UW di kalangan warga United States adalah salah satu Public Research atau perguruan tinggi riset terbaik di dunia dengan presentase penerimaan mahasiswa hanya dua puluh tiga persen per tahun U -Dab sendiri memiliki tiga kampus yang masing-masing berada di Seattle, Bothell dan Tacoma. Kampus yang berada di Seattle digadang-gadang adalah salah satu kampus yang masuk ke dalam daftar perguruan tinggi privat elit – Ivy league – yang selalu menjadi tujuan belajar terbaik bagi para calon mahasiswa entah itu dari United States sendiri atau calon mahasiswa di seluruh dunia.
Dari dua puluh tiga persen penerimaan itu, Irene Tjana menjadi salah satunya. wanita itu terdaftar menjadi salah satu mahasiswa graduate program in Economics bersama satu orang lagi mahasiswa Indonesia yang bernama Arsenio Sadewadiningrat, awalnya Irene sangat senang memiliki teman yang sama kewarganegaraan dan asalnya dia pikir Arsenio akan menjadi orang yang menyenangkan tapi ternyata nggak.
Setelah kelas International Economic Study berakhir Irene Tjana melangkahkan kakinya menuju tangga gedung fakultas, bukannya berbalik untuk pulang ke Apartemen wanita itu malah menaiki tangga menuju roof top gedung fakultas ekonomi yang jarang banget di kunjungi orang.
Irene mendorong pintu itu dengan sedikit kasar dan begitu pintunya terbuka lebar dengan suara yang sedikit keras wanita itu begitu terkejut setengah mati karena mendapati orang lain tepat berada di depan pintu dan untungnya tidak terhantam pintu yang di buka oleh Irene Tjana secara asal-asalan.
Arsenio Sadewadiningrat – teman sekelasnya, satu-satunya orang indonesia yang berada di kelas yang sama dengannya. Yang setahu Irene sedikit misterius, anti sosial kurang bergaul – dalam catatan bergaul dengan wanita karena menurut sepengamatan nya Arsenio itu bergaulnya dengan mahasiswa laki-laki– dan memiliki wajah tembok walau pun begitu kelihatan seperti anak baik-baik sekarang ada di depan dirinya dengan puntung rokok yang terselip di bibirnya – puntung rokok yang masih mengeluarkan asap karena belum habis.
“Ehh ternyata kamu juga Ngerokok ya baru tahu aku.” Irene Tjana berteriak dengan suara yang lumayan keras membuat Arsenio sedikit terganggu pria itu lantas membuang puntung rokoknya di tanah dan mematikannya dengan cara menginjaknya dengan sepatu kets putih miliknya.
“Bukan urusan kamu.” Jawabnya datar, dan begitu dingin. Kalau Irene tidak mengenal pria itu dari awal masa studinya mungkin dia sudah tersinggung namun dia telah mengenal Arsenio dari awal studi apalagi ditambah bahwa hanya ada dua orang berkebangsaan Indonesia di kelas –dia dan Arsenio- membuatnya mau tidak mau jadi mengakrabkan diri kepada pria itu walaupun sebenarnya yang di ajak mengakrabkan diri seringnya ketus dan masa bodoh sih.
“Eiiii, mau kemana kamu Sen?”
“Cari makan siang.”
Begitu dia mengatakan itu, ia berjalan melewati Irene Tjan dan sengaja tidak sengaja menyenggol bahu wanita itu begitu keras karena menghalangi jalan. Irene yang mendapatkan senggolan maha dahsyat itu terhuyung-huyung ke depan namun untungnya dia sigap berpegang pada kusen pintu.
Si sialan itu!!!
Irene Ingin memaki tapi terhenti tidak jadi saat tiba-tiba sebuah ide terlintas di benaknya. Daripada dia nongkrong sendirian di Roof top kayak anak ilang lebih baik dia ikut Arsenio kan cari makan? Untung-untung dapat traktiran gratis.
Hidup di negara orang lebih dari setahun ini membuat Irene Tjana yang terkenal sebagai Nona muda nya Tjana menjadi miskin lantaran dia harus berhemat dan belajar hidup mandiri agar keluar dari judgment nona muda Tjana.
Irene Tjana buru-buru mengikuti Arsenio yang berjalan di koridor fakultas yang lumayan sepi karena banyak siswa yang sudah pulang. Irene terus mengikutinya hingga keluar dari area fakultas hingga dia pun berhenti, dan berbalik menatap Irene tanpa emosi yang berarti. “Kenapa kamu mengikuti ku? Kenapa melakukannya?”
“Sok tahu siapa coba yang mengikuti kamu jangan kepedean Tujuanku kan memang ke arah sini,” balas Irene beralasan.
Mendengar bantahan Irene Tjana yang sedikit masuk akal Arsenio pun kembali berjalan, pria itu berjalan masuk ke gang-gang pertokoan di daerah Pacific.
Dia berbalik lagi menangkap basah diriku, “Kamu memang benar mengikuti ku kan, jadi mau apa!” katanya tidak lagi bisa di bodohi Irene Tjana ingin terbahak tapi urung begitu melihat wajah dingin Arsenio pria kutu buku itu tidak main-main sepertinya.
“Ingin bicara dengan mu lah apalagi memangnya.” Kata Irene Tjana mengaku pada akhirnya, wanita itu sambil berjalan mendekati Arsenio keduanya berjalan beriringan menyusuri jalan sekitar kampus yang minim kendaraan, “Kita teman sekelas tapi tidak pernah makan bersama, aneh banget kan makannya ayo makan bareng.”
“Tidak tertarik.”
“Besok deh kalau gitu makan siangnya.”
Arsenio mendengus sebelum berjalan lebih cepat meninggalkan Irene Tjana yang berteriak kesal sendiri. Irene mendesah dalam hati merutuk i sifat Arsenio yang selalu begitu di hadapan wanita padahal Irene pernah lihat kalau aslinya Arsenio itu gak se -muka tembok itu apalagi kalau lagi kumpul dengan teman-teman prianya. Pria itu pasti tertawa bebas dan sering bercanda dengan para teman prianya.
duh kenapa pria itu jual mahal sih harusnya dia itu menerimaku tawaranku, aku ini wanita baik hati dan tidak sombong dan aku sedang ingin membantunya mendapatkan banyak teman wanita!
Pikir Irene dengan sangat kesal,
dengan langkah cepat setengah berlari Irene mengikutinya, berjalan beriringan dengan Arsenio yang kelihatan sekali gak suka keberadaan Irene tapi yang namanya seorang Tjana yang terkenal dengan ke -kerasan kepalanya, mereka gak akan menyerah semudah itu.
“Arsenio!” panggil Irene.
“...”
“Jadi teman makan ku deh nanti ku temani berkeliling ke Seattle.” Irene masih terus mencoba untuk menawar.
“...”
“Atau nanti deh pas makrab nya Permias Seattle kamu bisa bareng aku ke sananya gak perlu susah-susah nyari tebengan dan–”
“Aku tidak butuh ya.” potongnya cepat nadanya sedikit meninggi.
Dan Irene Tjana yang tidak siap dengan bentakan dari Arsenio Sadewadiningrat yang terkenal dengan julukan Orang Suci -nya Permias, akhirnya terdiam cukup lama hingga Arsenio meninggalkan Irene di gang itu sendirian.
Sungguh sangat sialan! Irene Tjana selalu mengingat ajaran positif Ibu nya bahwa manusia Itu tidak lebih baik atau mungkin bisa lebih buruk, itu tidak berarti lebih atau kurang, mengenai sifat mereka itu hanya menunjukkan bahwa semua orang dapat mengekspresikan kasih sayang mereka dengan cara mereka sendiri. Tapi cara Arsenio mengungkapkannya membuatnya sangsi dan tidak bisa berpikir positif terhadap pria itu jangan Salah kan dirinya salah kan saja Arsenio!